Jarak Antara Angka 1 dan 2

Jarak Antara Angka 1 dan 2

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 18 Oktober 2017
Jarak Antara Angka 1 dan 2


Ketika TK dan beberapa tahun di SD, kita diajari bahwa setelah angka 1 adalah angka 2. Kita diajari angka apa saja yang termasuk bilangan bulat, cacah, prima, dan sebagainya. Semakin tinggi pendidikan, kita tau bahwa setelah angka 1, ada angka lain yang bukan 2, yaitu 1,1; 1,2; 1,3, dan seterusnya. Mulailah kita mengenal bilangan desimal. Kita mulai melihatnya lebih rinci lagi. Nah, adakah bilangan lain diantara 1 dan 1,1? Tentu ada: 1,01; 1,02; 1,03, dan seterusnya. Kalau begitu, ada berapa bilangan yang dilewati dari angka 1 ke angka 2? Ada tak terhingga bilangan yang membentang. Banyak sekali.

Bila kita hanya memahami 'dimensi bilangan bulat', kita hanya akan tau bahwa setelah 1 adalah 2. Namun, ketika kita masuk ke dalam pemahaman 'dimensi bilangan desimal', ternyata ada begitu banyak bilangan yang berada diantara 1 dan 2. Pandangan kita tentang hidup pun seperti ini. Kadang kita memandang hidup hanya seperti sekumpulan aktivitas saja; bangun tidur, mandi, sarapan, bekerja, kuliah, sekolah, tidur, dan seterusnya. Hanya seperti 'bilangan-bilangan bulat'. Seandainya kita selami, diantara setiap pergeseran aktivitas-aktivitas harian kita, ada berkah-berkah (bilangan-bilangan desimal) yang tak terhingga jumlahnya. Pergerakan dari bangun tidur menuju mandi saja, berjajar begitu banyak anugerah. Napas yang masih masuk dan keluar, mata yang masih bisa melihat, telinga yang mendengar suara, kaki-tangan yang masih bisa digerakkan, kulit yang peka bersentuhan dengan air, dan lain-lain. Namun, kenapa hal-hal ini tidak selalu kita sadari? Karena kita terlalu serius hidup dalam 'dimensi bilangan bulat' daripada 'dimensi bilangan desimal' yang lebih dalam.

Kalau kita selami lagi, lebih rinci lagi, diantara ketakterhinggaan itu, haruslah ada dimensi yang sangat luar biasa menampung semuanya. Dimensi yang mungkin saja disana hanya sebuah ruang tanpa bilangan. Dan jangan-jangan justru disana tidak ada jarak antarbilangan dan bisa jadi dimensi itu adalah satu-satunya yang nyata dibandingkan bilangan-bilangan yang nampak. Sehingga, bisa saja, di dimensi yang lebih dalam dari apa yang mampu ditangkap mata kita, jarak itu tidak benar-benar ada. Kebencian yang membuat sesuatu itu terasa jauh, dan cinta yang membuatnya mendekat.

***

  • view 199