Menu Makanan

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 26 September 2017
Menu Makanan

M

enu makanan itu kan hanya sebagai perantara saja. Media komunikasi tentang apa-apa saja yang bisa kita pesan di sebuah tempat makan. Berisi nama-nama makanan dan minuman, terkadang beserta foto dan harganya, tapi bukan makanan aslinya. Nama hanyalah nama, foto hanyalah foto, sebuah konsep yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu, tetapi bukan sesuatunya itu sendiri. Perut kita kan tidak tiba-tiba kenyang hanya karena bisa menyebut 'pecel pincuk', 'soto ayam', 'bakso', atau 'gado-gado'. Sekalipun dengan teriak-teriak dan mengucapkannya berkali-kali. Dahaga kita pun tidak tiba-tiba terbasuh hanya karena fasih mengucapkan 'es degan gak pake gula'. Diucapkannya juga hanya untuk dipamerkan ke pembeli lain, bukan ke yang jual langsung. Malah bisa bikin tambah haus karena kebanyakan ngoceh.

Tanpa sadar, dalam hidup ini, kita sering berselisih karena memperdebatkan menu makanan. Berlomba-lomba menunjukkan teriakan siapa yang paling lantang (dan paling benar). Sama-sama gak pesen makanan, tapi bikin gaduh warung. Akhirnya sama-sama kelaparan dan kehausan. Energi dihabiskan terlalu banyak di menu makanannya, bukan makanannya. Sampai akhirnya mungkin kita bertemu dengan orang biasa-biasa saja yang datang ke warung, duduk, melihat-lihat pesanan, dan langsung memesan makanan dan minuman yang disukainya atau dibutuhkannya. Tidak berapa lama, makanannya diproses, dia makan, perutnya kenyang, terus pulang. Dia tau fungsinya menu makanan itu bukan untuk dipamerkan ke pembeli lain, tapi digunakan untuk membantunya memesan makanan ke yang punya warung, supaya makanannya cepat tersaji, dan perutnya kenyang. Saat ini, mungkin banyak dari kita yang mengisi perut lapar dengan menu makanan, bukan makanan aslinya, makanya kita gak kenyang-kenyang, terus aja ada yang kurang.

 

***

  • view 35