Bisakah Kita (Hanya) Diam?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 April 2017
Bisakah Kita (Hanya) Diam?

Kita semua kini hidup di jaman yang begitu cepat. Berjalan cepat, berpikir cepat, mengerjakan tugas dengan cepat, bekerja cepat, makan cepat, istirahat cepat, kaya cepat, menangkap peluang dengan cepat, dll. Semuanya dilakukan dengan cepat. Bila tidak? Kita mungkin akan tertinggal oleh orang lain, pesaing lain, atau bangsa lain. Kita akan kalah kalau tidak bergerak dengan cepat. Beberapa orang menggunakan analogi yang cukup mengerikan untuk ini, “Kalau seekor hewan tidak berlari lebih cepat dari pemangsanya, hewan itu akan mati.”

Kita semua perlu bergerak. Pergerakan dan perubahan adalah sifat alamiah alam yang kita tempati ini. Kita adalah bagian dari alam ini, sehingga pergerakan mutlak diperlukan. Namun, yang acapkali kita lupa adalah bahwa diam juga penting. Sama pentingnya dengan bergerak. Hanya dalam diam kita bisa menangkap makna dari semua pergerakan. Hanya dalam sepi, keriuhan punya arti. Kalau kita tidak ahli dalam diam, kita tidak ahli dalam bergerak. Semua pergerakan kita nantinya bukan muncul dari ketenangan, namun bisa jadi dari kemarahan, kesedihan, dan ketakutan. Dan kita semua tau, pergerakan semacam ini hanya akan menambah masalah.

Kita semua bergerak, tapi seberapa sering kita mengamati “kenapa kita bergerak?” Apakah kita bergerak karena menghindari kesedihan kita sendiri? Apakah kita bergerak karena tidak nyaman dengan kebosanan? Apakah kita bergerak karena merasa takut dengan kesendirian? Apakah kita membela sesuatu karena kita mencintai sesuatu itu atau justru karena membenci sesuatu yang lain dan ingin mengenyahkannya? Apakah yang membuat kita kecanduan melakukan sesuatu; yang terus-menerus kita sesali, namun tidak bisa berhenti? Bisakah kita (hanya) diam mengamati batin kita sendiri untuk mengetahui apa yang sebenarnya mendorong kita bergerak selama ini?

***

Gambar dikutip dari: http://hasnifitriponamon.blogspot.co.id

  • view 183