Jarak dengan Rasa Manis

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 04 April 2017
Jarak dengan Rasa Manis

Tadi pagi saya mampir ke warung kopi, tapi tidak pesan kopi. Saya pesan teh hangat. Sambil membaca koran, saya tunggu teh hangatnya dibuat. Dan akhirnya tersaji juga di hadapan mata. Saya pandang-pandangi gelas tehnya, saya pandangi juga larutan coklat bening yang ada di dalamnya. Untung tidak begitu banyak orang di warkop, jadi saya santai aja. Aman.

"Apakah teh ini manis, ya?" tanya saya kepada...diri saya sendiri. Di Jawa Timur, kalau pesan teh, itu artinya teh manis. Di Jawa Barat mungkin beda lagi. Berarti teh ini manis. "Dari mana saya tau kalau teh ini manis, sedangkan lidah saya sebagai yang paling berdaulat menentukan rasa memiliki jarak dengan tehnya?" Bersentuhan saja belum, tapi sudah "tau rasanya". Dari mana ke'sok tau'an ini? Tentu dari pikiran.

"Manis" di pikiran berbeda dengan "manis" di lidah. "Manis" di pikiran adalah konsep, dan rasanya "tidak manis", tapi "manis" di lidah adalah rasa, bukan lagi sebuah gambaran. Ada jarak antara "rasa yang sebenarnya" dengan "konsep tentang rasa itu", tapi seolah-olah mereka tidak berjarak karena pikiran kita 'cantik' sekali memadukan keduanya. Kalau kita jarang menyadari gerakan pikiran yang 'gemulai' ini, mungkin kita tidak pernah tau, sebenarnya kita ini sedang merasa bahagia atau kita pikir kita sedang bahagia.

***

  • view 117