1 + 1 ?

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 Desember 2016
1 + 1 ?

Berapa hasil penjumlahan satu dan satu? Semenjak kecil kita diajarkan oleh orang tua dan guru-guru kita bahwa jawaban yang 'benar' adalah dua. Tapi, bolehkah kalau jawabannya bukan dua? Kalau sudah ada kesepakatan antara yang bertanya dan yang menjawab bahwa jawabannya boleh bukan dua, tentu tidak menjadi masalah lagi. Kalau pertanyaannya menjadi 'benarkah jawaban penjumlahan satu dan satu bukan dua', bagaimana?

Mari kita berandai-andai supaya hal yang sederhana ini bisa kita 'tarik' ke ranah yang lebih luas, sehingga maknanya pun menjadi lebih kaya. Kita asumsikan bahwa angka-angka yang dijumlahkan tersebut adalah 'murni', tidak terikat konsep apapun. Satu sebagai angka satu, bukan sebagai koefisien yang terikat pada variabel tertentu. Bukan satu botol air mineral atau satu roti atau satu stasiun tv. Sekarang tinggal tergantung 'angka-angka yang ada di benak penjawab' (himpunan semesta penjawab).

Kalau si penjawab hanya memiliki atau tau 'himpunan semesta' angka-angka ganjil, tentu angka dua tidak akan keluar sebagai jawaban. Jawaban yang keluar mungkin satu, tiga, atau lima, dst. Nah, kalau 'himpunan semesta penjawab' adalah bilangan genap, angka dua bisa jadi juga tidak keluar sebagai jawabannya. Penjawab tidak kenal angka satu yang digunakan dalam pertanyaan. Di dalam 'dunianya', tidak ada angka itu. Kalau tidak open mind, bisa saja jawabannya 'pertanyaanmu haram!'.

Lalu kalau begitu bagaimana? Mana yang benar? Sekarang tergantung kebijaksanaan penanya. Kalau penanya tau 'himpunan semesta penjawab', tentu akan lebih mudah 'memaklumi' jawaban apapun yang muncul. Tidak memaksakan jawabannya harus dua. Karena dua pun bisa benar selama ada asumsi atau batasan tertentu. Tanpa batasan itu, banyak jawaban bisa menjadi benar, bahkan dua bisa salah. Makanya kalau ingin menemukan jawaban yang cukup 'dalam' atau 'berbobot', jangan cuma fokus terhadap perhitungan atau pertanyaannya, tapi juga batasan atau asumsi yang ada dalam pertanyaan itu.

Sehebat apapun teori, pasti memiliki asumsi, sehingga sesuatu bisa dinyatakan sebagai 'salah' atau 'benar'. Yang sering jadi masalah adalah kita bertanya atau menyatakan sesuatu kepada orang-orang yang 'himpunan semestanya' berbeda dengan kita, kemudian kita marah ketika jawaban atau responnya tidak sesuai harapan. Parahnya, kita paksakan jawaban kita sebagai 'satu-satunya' jawaban yang benar. Kita berhenti pada pertanyaan dan jawaban, kemudian saling menyalahkan, bukannya saling menelusuri dan berbagi 'himpunan semesta' masing-masing, menyadari asumsi dan batasan. Kalau diberi batasan ngambek, tapi suka memberi batasan ke orang lain. Mau sampai kapan?

***

Gambar diambil dari: outsidethebeltway.com

  • view 201

  • SAM FIRDAUS
    SAM FIRDAUS
    8 bulan yang lalu.
    jaman kuliah, saat ulangan esai, semua jawaban dianggap benar asal disertai alasan2 yang mendukung.

    dari postingan ini, berarti kita harus belajar 'toleransi' --berusaha memahami maksud orang lain, menghargai, dst. gitu ya, kak?

    • Lihat 1 Respon