Cerita Tentang Kerupuk

Adi Prayuda
Karya Adi Prayuda Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Maret 2016
Cerita Tentang Kerupuk

Suatu pagi saya sarapan di sebuah warung makan. Dekat dengan tempat tinggal saya. Masakannya enak, yang melayani juga enak...dilihat mata..haha. Makanya saya sering kesana. Perut kenyang, mata senang! :D?Tapi, ada yang lebih penting yang ingin saya share, yaitu tentang kerupuk yang saya ambil sebagai menu pelengkap sarapan saya. Saya amati dengan seksama teksturnya. Saya angkat dengan tangan, hampir tanpa tenaga..ringan sekali. Ketika digigitpun, tidak perlu upaya yang keras. "Makanan yang unik", pikir saya. Kenapa saya baru memikirkannya, ya?!haha

Kemudian, dengan mata batin, saya mulai menerawang masa lalu sang kerupuk. Ternyata, dulu dia tidak seperti itu, tidak sebesar sekarang lebih tepatnya. Hanya adonan tepung saja, dengan beberapa bumbu. Kemudian di-press, dikukus, dijemur, kemudian digoreng. Proses-proses yang cukup "menyakitkan". Tapi menariknya, setelah melalui proses-proses tersebut, kerupuk mengembang, menjadi LEBIH BESAR ukurannya dibanding sebelum digoreng. Tekstur atau karakter-istik dari kerupuk tersebut menjadi LEBIH NAMPAK. Dan tentu saja, TETAP RINGAN, bahkan lebih ringan dibanding sebelum digoreng! Semua proses yang dilalui kerupuk TIDAK DIJADIKANNYA BEBAN, bahkan semua dilaluinya dan membuat dia LEBIH EMPUK, tidak keras seperti dulu.

Banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari menerawang makanan seharga lima ratus rupiah ini. Kerupuk ini telah menjadi guru saya di pagi hari yang cerah. Saya belum bisa seperti kerupuk, yang ketika ditekan dengan "alat press", "dikukus", "dijemur", "digoreng", justru menjadi semakin BESAR, semakin TERLIHAT KARAKTERNYA, semakin RINGAN, dan EMPUK. Banyak dari kita yang mungkin semakin KERAS ketika menghadapi sesuatu yang kita anggap masalah. Banyak juga yang mengeluh karena merasa beban hidup bertambah BERAT, menjadi semakin takut, rendah diri, dan menyembunyikan KARAKTER semula. Ini tentang kerupuk. Tentang sifat-sifat mulia yang dimilikinya. Jadi, kalau ada orang yang menghina kita dengan kata-kata, "Kamu ini seperti kerupuk..kena udara aja melempem,"..ingat-ingatlah sifat-sifat mulia ini..ketimbang menghabiskan energi untuk membalas kata-kata mutiaranya. Mungkin dia lelah.

***

  • view 194