Surat Untuk Bahrul ‘Ulum

Addin Zee
Karya Addin Zee Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 April 2017
Surat Untuk Bahrul ‘Ulum

 
Untuk Bahrul ‘Ulum
 
Bahrul ‘Ulum
 
Apa kabarmu? Apa kabar gerbang utama selamat datangmu yang berdiri kokoh berwarna abu-abu itu? Aku masih saja ingat sore itu, tentang seorang laki-laki dengan langkah sayu, melangkah ragu menuju tempat yang tak pernah ia temui sebelumnya. Ketika lambaian tangan dan senyum kedua orang tua menjadi salam perpisahan. Lalu, dipaksa waktu menjalani malam dengan hari-hari.
Apa kabar kamar pojok lantai satu itu? Kamar penuh dengan cerita di dalamnya. Tempat yang menjadi saksi semua ulah nakalku.
 
“Lagi sakit, Cak!”
Tiba-tiba ada yang bersorak dari dalam hati, ketika melihat pengurus berjalan meninggalkanku. Aku selalu punya alasan untuk tidak mengikuti sholat berjamaah di serambi atas. Atau sekedar mengulur-ulur waktu, untuk kemudian melanjutkan tidur.
 
Apa kabar lemari tua kamar satu? Tempat persembunyian dari incaran pengurus yang membosankan untuk diniyyah atau takror. Aku juga masih ingat, suatu malam, dimana saat itu genderang perang kita tabuhkan bersama-sama, untuk memusuhi pengurus, ketika laptopku disita oleh mereka karena ketahuan menoton film saat malam-malam.
Televisi usang itu. Ah, tempat paling nyaman sekaligus ditunggu. Setelah bel berbunyi, tanda takror selesai, aku telah besiap-siap mencari tempat paling nyaman untuk melihatnya. Lalu, aku terditur dibawahnya, dengan TV yang masih saja menyala.
 
Apa kabar serambi atas mushola itu? Ketika sore itu, dengan hati berdebar, tangan yang berkeringat dingin, mengantri di belakang santri lainnya. Menunngu giliran. Menyetorkan hafalan. Sementara, hafalan tak kunjung masuk di kepala. Ah, sial! Lagi-lagi namaku terpanggil malamnya untuk kali kesekian, gara-gara aku tak selalu bisa melengkapi hafalan.
Ha! Apa kabar suara ketukan tongkat Cak Cesper? Terimakasih, telah menjadi penggangu tidurku pagi buta itu. Apa kabar suara bel pagi itu? Bah! Suara yang memekakkan telinga, tetapi tetap saja, tak membuatku bangun dari tidur.
Gerbang warna hitam itu. Diam-diam aku melompatinya, suatu malam; keluar dari pondok. Melemparkan sandal keluar, lalu mengendap-endap menaiki pagar yang ditumbuhi tanaman, melenggang pergi, untuk sekedar mencari kopi, atau menikmati sepi.
 
“He, ono Gus Din”
 
Tiba-tiba aku bersiap dengan kitab Fathul Qorib di tangan. Dengan bulpoin pinjaman, aku duduk dengan posisi kaki bersila: sebagai tempat pengkuan memaknai kitabku –yang selalu terlihat kosong. Meski juga tak selalu paham dengan isinya. Maafkan saya, Gus! Karena aku tak jarang tertidur saat sorogan malam itu...
Apa kabar bangku kecil panjang itu berwarna coklat kusam yang penuh coretan itu? Tempat sekaligus alat yang menjadi pembatas tidurku, ketika aku tak mendapat tempat untuk tidur di kamar, atau sekedar menjadi pelindung mata dari silau lampu yang sengaja dinyalakan.
 
Jemuran, oh jemuran. Kau adalah tenpat paling indah yang pernah kutemui di Bahrul ‘Ulum. Ketika aku biasa menyendiri, menghitung jumlah bintang di pelataran langit, atau menghitung-hitung hari; kapan bisa pulang, atau menerka-nerka: kapan kiriman uang datang kembali? Ah!
 
Lalu, pada hari lainnya, di tempat yang sama, aku dan teman-teman membuat semacam konspirasi sembunyi-sembunyi. Ketika jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lewat, kami mempunyai ritual, berjemur diatas atap, untuk kemudian, diam-diam mengintip ribath putri yang hanya disekat oleh dinding-dinding. “Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan”. Bah, itu slogan kami. Aku dan teman-teman tak jarang mendapat takziran gara-gara ulah kam itu.
 
Takziran?
 
Pada hari lain, aku berjanji untuk tidak mengulanginya. Dengan kalung bertulisakan jenis kesalahan, aku dihukum mengaji di depan gerbang, dengan satu kaki selama setengah jam. Bah! Aku selalu menggunakan sorban sebagai penutup mukaku, untuk menutupi rasa maluku, meskipun tetap saja terselip rasa malu... lalu, besoknya, aku siap-siap mendapat cibiran atau olokan dari teman di madrasah karena kejadian hari lalu.
 
Apa kabar suara ketukan sendok-piring? Piring-piring yang berjajar dengan rapi di serambi pondok. Lalu, aku menjadi orang yang ikut berdesak-desakkan: mengantri, untuk mengambil jatah makan. Bagiku –dan juga santri lainnya, hari Selasa dan Jumat adalah hari yang istimewa. Ndalem memberikan jatah lauk kepada santri lebih dari hari-hari biasanya. Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk menghabiskan jatah makan yang dibagiakan oleh abdi ndalem.
 
Heh, cepetan. Wes jam pitu lo!”
 
Ah, aku sudah hafal dengan ucapan itu. Meski tak selalu bisa.aku selalu menjadi santri yang terlambat. Aku juga selalu ingat ritual pagi-pagi saat berangkat ke sekolah. Dengan langkah tenang, tatapan awas, dada berdegup kecang, aku berjalan. Di bahu jalan sampingku adalah barisan santri putri yang juga berangkat ke sekolah. Panjang sekali. Seperti santri pada umumnya, aku menunggu waktu ini: mencuri-curi pandang ke santri putri, satu dua kali. Tidak apa-apakan?
Aku juga tak pernah ingat lagi, sudah berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membeli sandal. Bah!
 
“Ghosop adalah mencuri terhormat” kata temanku, suatu hari.
 
Apa kabar menara masjidmu? Aku selalu rindu. Tentu saja. Cak Faqih? Kabar terakhir, aku mendengar beliau telah menikah. Aku ikut senang mendengar kabar baik itu. Aku juga kangen suara adzan magrib, suara tarhim penghabisan, atau pengumuman-pengumuman yang selalu ia kumandangkan
 
Apa kabar halaman yayasanmu? Tempat faforit jajanan untuk para santri sebelum balik ke pondok. Pentol Pak Mas? Ah, aku selalu suka, meski tak selalu mendapatkannya. Karena telah habis oleh santri lainnya.
 
Apa kabar WTS (Warung Tepi Sungai)? Mbak Wid? ERC?
Ayoh ngopi nang WTS!
Ayoh ngerjakke tugas nang Mbak Wid!
Ojo lali, game online-an nang ERC
 
Makam Mbah Wahab. Tempat paling damai, bagiku. Membaca tahlil, membaca Al-Quran, lalaran, atau bahkan hanya tidur-tiduran disana. Aku selalu merasa tenang ketika berada disana. Tempat yang tak pernah sepi dikunjungi peziarah. Siapa yang tak mengenal beliau? Pendiri sekaligus penggerak Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.
 
‘Kamu’ apa kabar?
 
Aku masih saja menyimpan pertanyaan itu. Aku masih ingat kejadian siang itu. Saat aku harus bertemu denganmu. Mata kita
saling menangkap. Saat itulah, aku mulai mengenalmu. Sampai sekarang –dan selamanya.
 
Sejak saat itu, aku mulai mendengar banyak hal tentangmu, dari temanku: kamu adalah orang yang pintar, kamu adalah kandidat the best santri, selalu mendapat peringkat di kelas, juara olimpiade, satu-satunya wakil dari madrasah yang mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri, dan masih banyak lagi. Tak mungkin aku sebutkan semua disini. Meski tak semua kuingat, tetapi masih aku simpan, tentu saja.
 
Aku juga masih ingat, tiba-tiba teman-teman sekolah, pondok membicarakan kita. Terkadang aku hanya menahan tawa, ketika mendengar beberapa cerita yang sampai di telingaku tentang kita, tentu saja. Mereka semacam membuat cerita sendiri, kemudian mereka sebar-sebarkan sendiri.
 
“Dijalanin aja” katamu, “Dibuat hiburan. Mereka, tak tahu yang sebenarnya, kan?”
 
Aku selalu suka penjelasanmu, aku mengiyakan.
 
Aku juga ingat. Teman kita, rela menjadi tukang pos surat-surat kita. Lebih tepatnya, ‘si tukang pos’ itu, yang memaksa kita untuk saling berkirim surat. Kita saling tertawa, melihat kejadian itu.
 
Juga, di sebuah sore yang membuat kita terlambat untuk kembali ke pondok. Tidak mengikuti kegiatan pondok. Hari itu hujan membungkus langit. Kamu dengan seorang temanmu, sedang berteduh di toko mbak Wid. Semetara aku, berada beberapa meter di sampingmu. Aku berada di pos satpam, depan madrasah. Berteduh. Dari jarak sekitar tujuh meter, aku bisa melihatmu, meski tak terlihat jelas. Dengan tangan yang kamu dekapkan di lenganmu, aku bisa membaca: kamu sedang kedinginan. Kerudung putihmu, terlihat kuyup oleh air hujan.
 
Sepuluh menit kemudian, hujan menjelma gerimis. Aku masih bertahan di tempat. Kamu mencoba menerbas gerimis yang jatuh. Kamu mengganti posisi tasmu, ke depan. Lalu mendekapnya. Lima detik kemudian, kamu dan temanmu, berjalan cepat, di bawah gerimis.
 
Aku memtuskan untuk kembali. Sebenarnya, aku masih ingin berlama-lama disini karena dua alasan: pertama, aku menjadi mempunyai kesempatan untuk berlama-lama melihatmu dari kejauhan, tentu saja. Kedua, aku mempunyai alasan untuk tidak kembali ke pondok dan mengikuti diniyyah dengan alasan hujan.
 
Tetapi, demi melihatmu dari dekat. Aku merubah keputusanku. Aku kembali ke pondok.
Aku bejalan dengan menengadahkan tangan diatas kepala. Kita berlawanan arah Aku mulai menghitung jarak antara kita. Lima meter. Ada yang berubah dari denyut jantungku. Semakin cepat. Kamu melangkah. Aku juga. Pada detik berikutnya, aku melanjutkan menghitung. Kini, jarak kita hanya kurang dari empat meter. Aku mulai melihat jelas wajahmu, yang kuyup oleh air. Juga kerudungmu yang basah. Kini, jantungku, semakin berdebar. Kamu menundukkan pandanganmu, aku juga.
Ah, aku tahu, sebenarnya kamu sedang mencuri pandang ke arahku.
 
Kita terus melangkah. Jarak kita semakin tipis, dua meter. Kini, ada ledakan kecil di dalam hatiku. Aku berusaha tetap tenang di hadapanmu. Hingga tiga detik berikutnya, kita berada garis yang sama. Dan kita menjadi diri kita masing-masing. Ada serangan jantung kecil saat itu. Aku mendengar, temanmu berdeham, dengan bahu disenggolkan ke arahmu. Aku menangkap waut wajahmu yang berubah memerah. Kamu tersipu, salah tingkah. Tetapi tetap tenang. Dan aku suka gayamu, selalu. Hingga pada detik selanjutnya, punggung kita saling berjauhan. Meskipun hatiku tak demikian.
Bahrul ‘Ulum, terimakasih, telah mempertemukanku dengannya, seseorang yang mengajariku, bagaimana caranya: jatuh cinta perlahan-lahan.
 
Kini, sudah lama, kita bercerita seperti dulu, tentang apa saja. Tentangmu, selalu ada rindu yang melulu tumbuh.
Hingga tiba saatnya, kita bertemu dengan keadaan dan waktu yang tak sama lagi. Tetapi dengan perasaan yang sama. Kita saling bertukar cerita. Terimakasih, Bahrul ‘Ulum atas waktu yang tak bisa terulang, atas cerita yang kita bagi bersama-sama, atas kenangan yang terlanjur membekas, atas rindu yang selalu menggangu, atas jarak yang sama-sama kita ciptakan. Kini, aku masih seperti dahulu: selalu menunggu waktu bertemu denganmu, untuk kemudian menciptakan kenangan-kenangan baru, bersamamu.
 
Selamat malam, Bahrul ‘Ulum.
 
 
 
Yogyakarta,
Di malam yang liris, 17 April 2017
Addin Zee

  • view 133