Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 6 Maret 2016   17:21 WIB
Rihlah ; Memaknai Alam Semesta

Nyatanya saya adalah dia orangnya yang dulu pernah sesumbar kepada teman bahwa satu-satunya hal teraneh di? dunia ini (?) adalah mereka para pendaki gunung. bagaimana tidak aneh coba. mereka mendaki berjam-jam dari bawah, dari mulai jalanan datar, lalu dengan terjal dan bebatuan serta curam yang terkadang membahayakan keselamatan juga, untuk agar sampai tiba di puncak gunung. lantas setelah berada di puncak gunung, kau tau apa yang mereka lakukan? turuuun lagi!. Yaa, mereka turun lagi. sebentar, biar saya kasih penekanan pada kata ini biar terkesan lebih dramatis, TURUN LAGI! ini tidak bergurau mereka benar-benar TURUUUN lagi. betapa anehnya, kan? awalnya saya berpikir seperti itu.

Dan tentu saja, itu karena saya dulu terlalu picik dan gak tau. hanya berdasarkan pandangan saya yang teramat sempit dan persepsi yang tak kunjung melebar. tetapi setelah hari ini, ijinkan saya untuk meralat pandangan saya yang barusan. kuharap itu bisa dan boleh, bahwa tidak sesimpel itu seharusnya. dan saya pun tau itu sekarang. Terimakasih kepada aku yang sekarang, *tepuktangandulu* yaitu yang setelah saya mengalami sendiri, bagaimana kepuasan itu diperoleh oleh para pendaki ketika mereka berhasil menyelesaikan tantangan, .. hmmm, bukan tantangan sih, tetapi semacam kesenangan yang cukup untuk menyayat kulit di sekujur tubuh (?), manakala lecetnya kaki, goresan dedaunan yang seket di sepanjang perjalanan kepada tangan, lalu ada dada yang sesak hingga detak jantung pun seperti terdengar oleh telinga dengan ritme yang tidak biasa, lalu mata yang menunduk terus karena terjalnya jalan yang kian menanjak, serta betis dan tuur yang seolah sudah mati rasa. semuanya bercampur bersatu padu dalam nuansa perjalanan mendaki gunung. hanya sesekali mata ini tertoleh memandangi betapa takjub dan indahnya alam di sekitar, bukan hanya menghijaunya pohon dari kejauhan, bukan juga oleh sebab diri kita yang sedang berada pada ketinggian yang cukup untuk memandangi semua rerumah warga dan daerah di seputar yang dilingkupi oleh gegunungan tersebut. Tetapi memang semuanya itu tampak indah, dan mendadak seolah semuanya berjalan dengan setting waktu yang diperlambat, dengan gerakan slow motion, mendadak setiap kedipan mata menjadi begitu berarti, dan tentu saja,. awan yang mengarak itu, yang biasanya kita harus menengadah untuk melihatnya, kini menjadi hanya sebatas? 5 senti meter saja, bahkan bisa tersentuh oleh jari telanjang sekalipun. dan ituuuu, sungguh sangat menakjubkan. keren sekali Tuhan itu. MasyaAlllaaaah!

Maka, betapa sederhana sekali kebahagian itu. Tinggal kau mendaki bersama beberapa orang kawan (dan iya, itu adalah kawan yang melebihi ikatan apapun. saya lebih suka menyebutnya sebagai sahabat), bercanda bersama saat pendakian naik dan turun, lalu kau lihat dari ketinggian diatas sana bersama-sama, dengan pohon yang hijau, awan mengarak yang putih, rumah warga yang kecil, semut-semut yang tak sampai kelihatan oleh mata, lalu semuanya bercampur baur mengusik rasa dan pikiran, kemudian terolah di jiwa dan tersembul dari hati oleh sebab kesenangan yang tak terperikan itu. itulah kebahagian yang sederhana itu bila kau? ingin tau. tapi gak ingin tau juga gak apa-apa sih. dan sekarang kau sudah tau (atau terpaksa tau ?) karena sudah membacanya.

Sungguh, Allah tiada menciptakan sesuatu dengan kesia-siaan. bahkan, karena oleh sebab hal ini saya jadi lebih ingin menghormati dan menghargai mereka yang mengatasnamakan para pecinta alam. kepada mereka, saya bersulang untuk kesenangan ini. kalian luar biasa, dan tentu saja termasuk saya juga. Ha ha ha. Mereka orangnya ramah-ramah dan jarang marah-marah. saya suka kaliaaan. Waaw.

Dan ini, yang cukup penting juga untuk dibahas. satu lagi. bukan bermaksud untuk pamer bila sepanjang perjalanan si kita-kita, yang katanya unyu, keren, lucu dan agak tidak imut, selalu menyempatkan diri untuk berpoto-poto ria dengan pose yang beraneka ragam. ini benar-benar penting untuk dibahas dan menghindari kesalah pahaman bila ada yang -secara sengaja- mengaplod poto tersebut, lantas disebut pamer atau sombong. bukkaaaan. bukan itu maksudnya. bahwa kami bisa mendaki pun itu sudah lebih dari cukup rasanya untuk senang yang membuncah, tetapi biarkanlah saya mengklarifikasi untuk satu kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan selama pendakian ini, yaitu poto-poto. ah ya, saya lebih suka menyebut kegiatan poto-poto ini sebagai satu kegiatan ritual yang sakral, bagaimanapun mesti harus, dengan jenis kamera yang bagaimanapun juga. karena apa? karena dengan poto-poto tersebut, seolah kesenangan ketika melihat waktu mendaki dengan ketika melihat (dilain waktu) potonya, kesenangan itu akan masih tetap ada. dan lebih lanjutnya, karena kami adalah pria-pria yang suka berpikir visioner dan jauh melampaui zaman nenek moyangnya, kami ingin menyimpan poto-poto itu untuk kami bisa ceritakan kepada anak cucu kami nanti (kalo punya). dan mereka sudah seharusnya perlu tau, bahwa kakek mereka, sewaktu mudanya pernah menaklukan sebuah gunung dengan tiga puncak, Hohoho. (maafkan kami ya Allah bila ada rasa sombong, walau sedikit). jelas ini sebuah kebanggaan. bukan kami yang bangga, tapi mereka anak cucu itulah yang akan bangga. kuharap begitu. Entah itu moto-nya mau dengan trik timmer, mau dengan gaya wepi (untuk agar kepoto semuanya), atau nyuruh orang yang lewat (walau gak kenal) untuk menjepret beberapa kali dengan kita-kita sebagai objek potonya. Asyiiik sekali.

Oia, tulisan ini sebagai bukti bahwa ternyata gunung dengan tiga puncak setinggi 1922 MDPL itu telah berhasil ditaklukan! tentu saja ini bukan bermaksud untuk sombong, hanya ingin pamer saja. Haha.

Karya : Kilau Tegar Mahajuna