Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 28 Februari 2016   06:38 WIB
Manusia Bandung dan Pohon Sejarah

Sudah hampir semalaman Bandung di tempatku diguyur hujan. Dibasahinya setiap jalan, tanah, rumah, pepohonan hingga manusianya. Termasuk saya. Setiap percikan airnya mengenai tubuh, entah, ada semacam rasa ketenangan yang diberikan oleh air hujan. Bukan. Bukan karena air hujan lantas manusia bandung menjadi tenang. Jauh lebih dari itu. Manusia bandung memang bisa menjadi tenang, damai, dan senang oleh apapun. Bahkan tanpa apapun. Tanda alam yang direpresentasikan oleh hujan ini hanya salasatunya. Hati orang-orang bandung memang mudah tersentuh, mudah melo (*Haha), meskipun hanya oleh hal-hal kecil dan sederhana. Karena hanya cukup dengan menikmati alam ; apapun yang diberikan oleh alam, manusia bandung bisa berdamai dengannya. Tidak dengan mengutuk atau merutukinya. Semua hal bisa dicintai. Mungkin karena itulah, menjadi mansuia bandung itu adalah salasatu keindahan terbesar hidup saya, karena dengan begitu, hampir setiap detik saya selalu harus jatuh cinta. Mudah jatuh cinta terhadap apa-apa yang ada di dalamnya. Langit bandung adalah langit terindah yang pernah saya lihat. Tanpa ada embel-embel aksesoris tambahan yang merusak suasana. Semuanya serba tepat. Semuanya serba cocok dan sesuai. Angin di bandung, adalah angin yang menyebarkan kesegaran, bukan kekhawatiran. Setiap jalanannya, setiap tanahnya, hingga jauh memandang ke segala arah pun, selalu menawarkan kesederhanaan. Yang mungkin karena itulah, karena karakteristik khas yang disuguhkan oleh Bandung, membuat manusia-manusianya merasa nyaman, merasa perlu untuk menerapkannya dengan pergaulan sesamanya. Manusia bandung, adalah manusia yang tertakdirkan merasakan detail-detail terindah dari alam bandung. Begitulah kalau sudah cinta. Kadang terdengar seperti tidak masuk akal. Dan mungkin terdengar melebih-lebihkan. Tetapi, bukankah cinta memang seperti itu? Sedikitnya menghilangkan daya nalar, dan hanya merasakan hal-hal luar biasa dari objek yang dicintainya. Aku memang sudah cinta dengan bandung. Kau tak perlu protes. Dan aku sedang tidak ingin digugat. *Haha.

Sebetulnya tujuan saya menulis ini adalah ingin menceriterakan tentang pohon kelapa disamping masjid itu. Hanya itu. Tapi sepertinya intro diatas agak kepanjangan dan berbelit ya? *gak apa-apa, kebiasaan. Karena saya suka merasa perlu untuk membahasakan pohon kelapa itu kedalam kata-kata. Sudah lebih dari cukup ia bertahun-tahun diam dalam sunyi. Diabaikan. Tak dilirik. Tak ditanyai kabar(?), bahkan seperti tak diakui, tapi siapa sangka bahwa dia memang tidak butuh hal-hal itu. Tidak butuh pengakuan. Tidak perlu perhatian, apalagi hingga berlebih harus mengiriminya sms tiap waktu dan menanyakan hal yang sama berulang ; ?sudah makan? Lagi apa?? *Gubraaaak, Alaaay!. dia hanya menjalani hari-harinya dengan tenang(?), dan pada gilirannya, ia akan memberikan ?sesuatu? kepada manusia-manusia, yang mungkin tidak dikenalnya. Pohon kelapa memang merupakan pohon sejarah. Pohon yang ditanam oleh generasi silam dan akibat manisnya malah akan dicecap oleh generasi selanjutnya. Pohon kelapa adalah pohon kehidupan, ia mengajarkan betapa kontribusi itu tak mengenal waktu. Ia ditumbuhkan oleh keyakinan, bahwa yang akan mendapatkan jerihnya bukan orang yang menanam atau merawatnya, melainkan oleh manusia yang hidup setelahnya.

Kakek kita atau bahkan bapaknya kakek kita, tidak mengharapkan untuk ingin merasakan jerihnya dengan buah kelapa yang manis, segar, dan mengenyangkan(?) yang ia tanam. tetapi tetap ia rawat dengan sepenuh cinta dan tak kurang perhatian. Ah, lengkaplah sudah. Dipupuk dengan dua hal perlakuan yang istimewa. Betapa tidak, cinta yang dirawat dan diperhatikan adalah cinta yang sesungguhnya. Generasi tua itu, menanam pohon kelapa tanpa pamrih. Hanya ingin memberikan, salam cintanya yang diungkapkan dengan buah kelapa, kepada generasi anak cucunya agar buah kelapa yang ranum(?), kehijau-hijauan dan menggugah selera, bisa dimanfaatkan oleh mereka. Setidaknya memberikan secuil rezeki agar perut-perutnya bisa terisi. Melepas lapar menghilangkan dahaga. Benar, pohon kelapa mengajarkan kepada kita, betapa kebaikan-kebaikan itu seharusnya melewati ruang dan waktu. Kontribusi yang kita berikan kepada kehidupan, tidak melulu harus kita rasakan. Tapi harus menjangkau sejauh mungkin orang, sebanyak mungkin manusia. Apa yang kita lakukan sekarang, mungkin baru bertahun-tahun kemudian ada hasilnya, dimanfaatkan oleh orang-orang yang mungkin tak pernah bersua dengan kita. Bukankah para jenius dunia seperti itu? Apa yang mereka hasilkan, terasa oleh beberapa generasi setelahnya. Harus menjadi manusia yang terlahirkan setelah kematiannya. Kan?

Karya : Kilau Tegar Mahajuna