Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Ekonomi 28 Februari 2018   09:20 WIB
Kota-kota China Saling Berkompetisi

Ketika kita masih mengurusi “Karya anak bangsa”, china sudah gak perduli lagi dengan itu. Mau siapapun terserah, asal bisa membuat kemajuan bagi China. Kota-kota di Cina berlomba-lomba memberi fasilitas kepada orang-orag asing untuk merintis usaha. Bayangkan saja,m mereka menawarkan kantor gratis, modal, dan legalitas, hingga perijinan untuk tinggal dan visa pun dipermudah. Lebih dari 3000 expatriat yang bekerja di wilayah Chengdu, blm kota-kota lain.  Luar biasa bukan? Istilahnya mereka sudah gak peduli "Karya Anak Bangsa" atau bukan. Yang penting membawa kemajuan.

Yang terjadi di Chengdu ini, pemerintah kotanya "menawarkan hampir semuanya secara gratis" untuk memulai usaha khususnya di bidang startup. Fasilitas pelengkap mulai dari ruang kantor, furnitur dasar dan layanan logistik hingga panduan terperinci mengenai metode kewirausahaan. itu semua dilakukan karena wilayah ini ingin mengejar ketertinggalannya dari Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, yang saat ini berada di wilayah investasi yang menjanjikan dengan bidang yang berbeda-beda.

Bayangkan saja kota-kota itu memiliki lebih dari seratus unicorn, atau perusahaan swasta yang berpenghasilan lebih dari $ 1 miliar. Kota di barat daya bahkan mengalokasikan dana hingga 200 m yuan (atau setara dengan $30 juta) pada tahun 2016 ke dana inovasi dan startup untuk pendiri luar negeri, dan memberikan uang tunai 1 juta yuan kepada para pemula dan usaha patungan yang memiliki kapitalisasi baik. Jika pendirinya adalah "talenta internasional terbaik", seperti peraih Nobel, insentifnya melonjak sampai 100 juta yuan.

Mereka membuka kantor untuk menyediakan layanan startup untuk ekspatriat, termasuk registrasi perusahaan. Sekitar 3.000 orang asing sekarang bekerja di sana, banyak yang mengoperasikan bisnis mereka sendiri.

Kota-kota lain juga melakukan langkah serupa. Beijing dan Zhejiang sudah membuka pusat-pusat yang didanai dengan baik untuk pengusaha asing. Pihak pemerintah mungkin sangat tertarik untuk menarik "calon unicorn", yang maksudnya adalah orang Cina yang berpendidikan dalam dan luar negeri, namun juga membantu orang-orang Cina non-etnis.

Shanghai dan Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, merencanakan fasilitas baru untuk para pemenang kompetisi startup internasional yang diadakan di China. Setidaknya di sepuluh provinsi, kebijakan imigrasi baru untuk mengurangi proses visa yang njelimet dan berbelit. Orang asing yang lulus dari universitas di China dapat mengajukan permohonan izin tinggal dua sampai lima tahun yang diberi cap "startup". Jika memenuhi kriteria tertentu, ekspatriat yang bekerja untuk perusahaan-perusahaan muda dapat mengajukan permohonan untuk tinggal permanen.


Di Zhongguancun, sebuah pusat teknologi di Beijing, 353 ekspatriat telah diberikan sebuah "kartu hijau" sejak 2016. Inkubator milik wilayah itu, Zhongguancun Inno Way, pada tahun 2017 mengolah 878 startups; 121 di antaranya didirikan oleh orang asing.

Tiga rintangan besar masih menghalangi pengusaha asing. Meskipun ada upaya dari setiap kota-kota itu untuk memperlancar dan mempermudah imigrasi, namun banyak pastor visa masih sulit didapat. Pengendalian ketat juga mengurangi efisiensi untuk memulai bisnis. Pengusaha luar negeri harus bekerja keras untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan internet di dalam "firewall hebat" bak tembok raksasa yang membuat Google, Twitter, dan banyak layanan lainnya diblokir. Sebuah perjuangan yang keras.

Masalah lainnya adalah adanya Kontrol modal yang menyulitkan perusahaan modal ventura yang menggunakan yuan untuk berinvestasi pada entitas asing; mereka biasanya harus mengandalkan usaha patungan dengan warga negara China. Disisi lain Investor lokal cenderung lebih memilih untuk mendukung sepenuhnya perusahaan China.

Namun, hal-hal menarik lainnya yang ditawarkan oleh China ini sangat potensial. "Bahkan ceruk pasar di China adalah pasar yang sangat besar," kata Greig Charlton, mantan bankir Inggris yang telah mengelola 247tickets.com, sebuah situs pembelian tiket, di Shanghai sejak tahun 2014. Berkat janji pemesanan tiket online di China , seorang pengusaha yang relatif tidak berpengalaman seperti Mr Charlton memiliki kesempatan untuk bekerja dengan beberapa promotor konser terbesar di dunia.

Bakat-bakat yang terpendam adalah daya tarik lainnya -alasan mengapa, misalnya, App Annie, penyedia data pasar dan wawasan yang didirikan oleh sekelompok pengusaha Eropa di Beijing, mempertahankan pusat Litbang di Beijing bahkan setelah memindahkan kantor pusatnya ke San Fransisco. Ketika Stuart Oda, seorang pengusaha Jepang, mendirikan Alesca Life, sebuah perusahaan teknologi pertanian berbasis di Beijing, dia menemukan eksekutif muda China lebih bersedia mengambil risiko dengan startup daripada orang-orang Jepang sendiri.

Ditambah upah tenaga kerja yang rendah serta kebijakan pajak dan pajak istimewa juga membantu para pemula tersebut. Di internet, contoh nyata startup yang didirikan oleh orang asing di China adalah Qunar.com, portal perjalanan yang populer, dan Tudou.com, yang bergabung dengan Youku, startup lainnya yang pada tahun 2012 menjadi platform streaming video terbesar di China. Qunar.com didirikan oleh Fritz Demopoulos, seorang Amerika. Sementara Tudou.co, didirikan oleh seorang pengusaha Belanda, Marc van der Chijs.

Apa yang menjelaskan kota-kota di China itu melakukan hal itu? Mengutip Lin Tao, pejabat senior zona hi-tech Chengdu, memberikan jawaban yang sederhana. Chengdu ingin mengubah dirinya menjadi kota kosmopolitan seperti New York dan London pada tahun 2025, dan "pengumpulan bakat global adalah prasyarat", katanya. Sementara menurut Steven Tong, chief executive Startupbootcamp China, dengan menjelaskan visi kedepan pemerintah untuk pengembangan usaha teknologi. Kata doi, adanya keinginan untuk mempromosikan pandangan China yang baik, dan ini jauh lebih mudah dicapai dengan para pemula yang berkompeten daripada dengan perusahaan multinasional yang sudah mapan.

 

Referensi : Adelioakins

Karya : Kilau Tegar Mahajuna