Sci-hub adalah Milik Kita Semua

Sci-hub adalah Milik Kita Semua

Kilau Tegar Adelioakins
Karya Kilau Tegar Adelioakins Kategori Teknologi
dipublikasikan 26 Februari 2018
Sci-hub adalah Milik Kita Semua

If it were not for Sci-Hub – I wouldn't be able to do my thesis in Materials Science (research related to the structure formation in aluminum alloys)
-- Alexander T


Bagi saya yang sedang menjalani perkuliahan tingkat akhir, tentu saja kesibukan saya berkutat dan bergelut dengan jurnal-jurnal ilmiah. Selain untuk referensi skripsi, jurnal-jurnal tersebut juga berguna untuk brainstorming ide dan pengembangan ide-ide yang sudah diteliti secara eksperimen untuk digunakan sebagai bahan mentah proses kreatif pembuatan karya ilmiah yang bisa disertaka untuk lomba, award, call papers, atau untuk konferensi (guna memperbanyak relasi dan jaringan sesama akademisi). Data-data yang tersedia di jurnal tentu saja sangat berguna dan menghemat waktu kita untuk tidak perlu bersusah payah melakukan riset dari nol. Seperti yang Mbah Newton pernah katakan, bahwa kita hanya cukup untuk berdiri di bahu raksasa agar bisa melihat lebih luas, lebih lebar, mendalam dan tak terbatas. 

Nah, problem utama mahasiswa adalah uang. Sementara penyedia akses jurnal kerap kali mematok tarif (yang tidak murah) untuk setiap jurnal yang mereka publish. Ini sebetulnya wajar-wajar saja, karena biaya untuk riset, eksperimen atau penelitian itu memang tidak murah. Alat-alat analisisnya saja sudah gak ketulungan lagi mahalnya. Nah bagaimana mengakali ini? Maksudnya mengakali untuk tetap bisa mengakses jurnal-jurnal itu tapi tidak mengeluarkan uang sama sekali (dimana hal ini merupakan suatu kenikmatan yang luar biasa bagi seorang mahasiswa kere seperti saya). Solusinya adalah apa yang dikerjakan oleh seorang perempuan keren asal Kazakhstan yang bernama Alexandra Elbarkan. Proyeknya itu ia beri nama science hub. Website ini, meski disebut sebagai pirates website alias website yang ‘mencuri’ data-data jurnal di seluruh dunia untuk selanjutnya di publish secara free, banyak mengundang kontroversi dan kecaman, tapi keberadaannya bak oase di tengah gurun pasir. Menjadi solusi dan sekaligus ‘membebaskan’ akses pengetahuan kepada sebanyak mungkin orang tak terbatas. Karena ia berpikiran bahwa jurnal-jurnal berbayar itu tak lebih dari cara orang untuk membatasi pengetahuan, dan ia tidak ingin melihat dunia yang seperti itu. 

Bayangkan saja, masa kita harus bayar sampai $31.5, hanya sekedar untuk bisa membaca ringkasan atau rangkumannya saja? atau misal bila kita ingin membaca paper di bidang Applied Mathematics and Computation, kita mesti membayar kepada penerbitnya, Elsevier, sebesar $28. Atau paper dalam bidang Operations Research, yang di publikasikan oleh Amerika (Perusahaan INFORMS), harus bayar $30. Padahal, penerbit itu ternyata tidak memberikan apa-apa ke authorsnya, jadi mengapa mereka harus menerima lebih banyak uang dari sekedar karena kerjaannya memanage jurnal-jurnal tersebut? 

Memang banyak penerbit jurnal yang menawarkan program untuk membantu researchers di negara miskin untuk mengakses papersnya, tapi itu cuma satu, katakanlah seperti Share Link. Belum lagi prosesnya yang ribet, kita perlu menghubungi penulis paper yang kita inginkan itu secara personal untuk mendapatkan link ke papernya itu, dan biasanya link itu akan mati atau hilang setelah 50 hari publikasi. Akhirnya, apa lagi yang lebih mungkin untuk menjadi solusinya selain mengakses sci-hub yang menyediakan berbagai copian paper-paper itu. 

Solusi itu bernama Sci-Hub

Saya pernah baca artikel yang berjudul "Who's downloading pirated papers? Everyone", yang menjelaskan bahwa meskipun aktivitas yang dilakukan oleh sci-hub itu illegal dan melanggar copyright, tapi ternyata semua orang suka dan butuh. belum lagi saat ini Sci-Hub sudah mempunyai 64,500,000 paper dan jumlahnya itu akan terus bertambah. Data log servernya langsung dikelola sendiri oleh Alexandra Elbakyan, seorang neuroscientiest yang merupakan orang di belakang terciptnya sci-hub ini, dia menciptakan website ini pada tahun 2011 ketika usianya 22 tahun yang ketika itu masih menjadi mahasiswi tingkat akhir di Kazakhstan. (*panjang uur buatmu, mbak.)

Banyak penerbit jurnal melihat Sci-Hub sebagai momok dan ancaman. Mudah dimengerti mengapa penerbit jurnal itu melihat keberadaan Sci-Hub sebagai ancaman dan banyak yang khawatir bahwa Sci-Hub akan mengganggu bisnis penerbitan akademis. bagaimana tidak, sangat mudah untuk mencari jurnal apapun di sci-hub hanya dengan memasukan url, DOI atau PMID-nya. Terlebih Sci-Hub sudah mengumpulkan sebagian besar artikel ilmiah yang diterbitkan dan jumlahnya akan terus bertambah : karena sistemnya itu bekerja seperti ini, ketika seseorang meminta paper yang belum ada di Sci-Hub, dengan sendirinya sistem akan menyalin dan menambahkannya ke repositori. 


Jadi, meski Penerbit Elsevier menuntut Sci-Hub (dulu Sci-Hub pernah menyediakan setengah juta unduhan makalah Elsevier hanya dalam satu minggu), namun banyak orang dalam industri percaya bahwa langkah yang dilakukan oleh industri penerbitan itu sia-sia belaka, karena terlalu banyak penggunanya. Apalagi coba, sudah mah, akses terbuka, bebas untuk berbagi, yang bisa dikatakan merupakan tren saat ini. Bukanah kemajuan ilmiah (seharusnya) telah memberikan kontribusi yang luar biasa. bahkan Amerika saja, yang paling getol menggembar-gemborkan hak kekayaan intelektual, ternyata merupakan negara kelima terbesar pengunduh di Sci-Hub setelah Rusia. 

Terus bagaimana caranya Elbkayan mendapatkan paper-paper itu? ia menolak untuk mengatakan secara tepat bagaimana dia memperoleh paper-paper itu, namun dia memastikan bahwa hal itu melibatkan kepercayaan dari berbagai pihak : ID pengguna dan kata kunci orang atau institusi yang memiliki akses legal terhadap konten jurnal. Dia mengatakan bahwa banyak akademisi yang telah mengajukan diri untuk menyumbangkannya. Penerbit jurnal menduga bahwa Sci-Hub melakukan email phishing untuk mengelabui peneliti, misalnya dengan meminta mereka pergi ke situs web jurnal palsu. "Saya tidak bisa memastikan sumber kredensial yang tepat, tapi saya bisa memastikan bahwa saya tidak mengirim email phishing sendiri." Jadi secara by design, konten Sci-Hub itu didorong oleh apa yang para ilmuwan cari. 

Berapa banyak pengguna Sci-Hub yang ada? Ada beberapa paper dan artikel yang membahas ini, diantaranya menyebutkan bahwa permintaan unduh berasal dari 3 juta alamat IP unik. Tapi jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi karena ribuan orang di kampus bisa saja berbagi alamat IP yang sama. Pengunduh Sci-Hub tinggal di setiap benua kecuali Antartika (penguin tidak tertarik dengan jurnal ilmiah). Dari 24.000 lokasi kota yang mereka tempati, yang tersibuk adalah Teheran, dengan 1,27 juta permintaan. Sebagian besar berasal dari orang-orang Iran yang menggunakan program untuk secara otomatis mendownload dokumen Sci-Hub untuk membuat mirror lokal di situsnya, kata Elbakyan. 

Geografi penggunaan Sci-Hub umumnya terlihat seperti peta produktivitas ilmiah, namun beberapa negara yang lebih kaya dan sarat ilmu pengetahuannya membalik. Negara-negara yang lebih kecil memiliki cerita sendiri. Seseorang di Nuuk, Greenland, sedang membaca sebuah makalah tentang bagaimana cara terbaik untuk memberikan pengobatan kanker kepada penduduk asli. Penelitian berlanjut di Libya, bahkan saat perang saudara berkecamuk di sana. Seseorang di Benghazi sedang menyelidiki sebuah metode untuk mentransmisikan data antar komputer melintasi celah udara. Jauh ke selatan di padang pasir kaya minyak, seseorang di dekat kota Sabha sedang menyelidiki dinamika fluida. Memetakan alamat IP ke lokasi dunia nyata dapat melukiskan gambar palsu jika orang bersembunyi di balik proxy web atau layanan perutean anonim. Namun menurut Elbakyan, kurang dari 3% pengguna Sci-Hub menggunakannya.

Beberapa kali website ini kena penghapusan domain atau di blok DNSnya bahkan pernah di sita oleh pengadilan Amerika, sehingga tidak bisa di akses, tapi karena servernya berada di Rusia, jadi mudah saja bagi Alexandra untuk mengganti domainnya. Tapi meskipun domainnya di blokir, ada cara yang bia dilakukan dan selalu berhasil, yaitu dengan memasukkan alamat IP-nya Sci-Hub, yaitu 31.184.194.81 untuk menghindari blokade DNS.

Pada akhirnya, Seperti yang tertera di websitenya, " ... To remove all barriers in the way of science", apakah keberadaan Sci-hub itu benar-benar baik dan bermanfaat atau justru merugikan, semuanya berpuang kembali pada penilaian anda.


*Referensi : Adelioakins 

  • view 78