Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Filsafat 24 Februari 2018   17:01 WIB
Filsafat Stoikisme : Sebuah Alternatif Bagaimana Cara Menjalani Hidup

Dalam filsafat ternyata tidak melulu soal berpikir yang berat-berat dan bertanya ala-ala filosopis dan retoris, tetapi terdapat pula beberapa aliran yang menarik untuk ditelaah. Selain karena nilai-nilai atau ajarannya yang aplikabel, juga menawarkan gagasan ‘lain’ dalam memandang dunia. Tidak memandangnya seperti biasa orang kebanyakan melihat dunia ini.

Aliran-aliran itu diantaranya adalah Stoikisme (atau filsapat stoa, pendirinya adalah Zeno), Epicurean (pendirinnya adalah Epicurus, inti ajarannya ialah bahwa kebahagiaan manusia merupakan tujuan utama), Skeptisisme (meliputi aliran Phyrro dan aliran akademisi baru, ajarannya adalah bahwa untuk sampai kepada kebenaran kita harus percaya dulu bahwa sesuatu itu tidak akan sampai kepada kebenaran atau mengingkari kebenaran mutlak (objektif)), dlsb.

Dari berbagai aliran filsafat itu saya ingin sedikit melakukan pembongkaran terhadap gagasan, ide dan konsep dari Stoikisme yang mungin saja bisa di komparasikan dengan zaman sekarang untuk diambil yang baik dan bagus-bagusnya guna mencapai kebijaksanaan dalam menjalani hidup. J

Mazhab Stoik ini termasuk yang paling berpengaruh dalam sejarah. Bersama dengan Platonisme dan mazhab Peripatetik, berbagai ajaran Stoik mewarnai dunia pemikiran Barat. Bahkan pengaruh stoic itu sampai ke filsafat modern dan kontemporer, tidak tanggung2, beberapa filsup semacam Montaigne, Kant, Nietzsche dan Deleuze terpengaruh oleh stoikisme. Dan yang paling terkenal dari mazhab Stoik bukanlah filsafat yang njelimet. Justru sebaliknya: warisan utama mereka adalah cara menjalani hidup.

Filsafat Stoik, Eudaimonia, dan Cara Menyikapi Hidup
 
Mazhab Stoik pertama kali didirikan di abad ketiga SM, meskipun demikian, hingga abad kedua Masehi masih banyak filsuf yang menganutnya. Tidak kurang dari Marcus Aurelius — Kaisar legendaris Romawi — termasuk di dalamnya. Dapat dibilang bahwa selama 500 tahun pengajarannya tidak putus.
 


Zeno, Pendiri Stoik (wikimedia commons)


Dalam bahasa Inggris modern, kita mengetahui kata sifat “stoic”. Artinya sikap keteguhan mental dalam situasi apapun. Seseorang yang stoic — menurut bahasa Inggris — dapat tabah dan berpikiran jernih dalam menghadapi persoalan. Nah, begitu juga dengan para filsuf mazhab Stoik. Ajaran mereka menekankan pentingnya keteguhan mental. Baik itu di saat senang maupun sedih.

Landasan dasar atau pegangan Stoik, secara umum berasal dari apa yang disebut oleh orang yunani dulu sebagai eudaimonia yang berarti “kebaikan jiwa”. Secara definisi, apabila orang mempunyai eudaimonia, maka hidupnya selalu patut dan bermakna. Eudaimonia ini yang dipercayai oleh orang Yunani sebagai penggerak dan pendorong mereka dalam menjalani kehidupannya. Orang mesti hidup patut dan bermakna, dan cara-caranya itu yang mereka usahakan dan lakukan sehari-harinya. Artinya Eudaimonia ini bukan sekedar konsep kosong saja, tetapi berarti fisik bahkan emosional. 
 
Nah, mazhab Stoik memanda kebahagiaan sejati — eudaimonia — ini bisa diraih apabila orang hidup selaras dengan alam. Secara alami manusia adalah makhluk sosial, maka ia harus bersosial. Demikian juga manusia mempunyai sifat membutuhkan makan dan minum, maka kebutuhan itu harus dipenuhi. Apabila hasrat alami manusia tidak dipenuhi maka tidak akan bahagia hidupnya. (baca: tidak akan mencapai eudaimonia). Hasrat alami ini adalah sesuatu yang secara inherent terbawa dalam diri manusia, ia ada didalam diri manusia, hasrat alami bukan untuk dibunuh tetapi dikendalikan. Nah karena kaum Stoik memandang alam (kosmos) sebagai sistem yang rasional, dalam arti mempunyai ‘aturan main’ yang logis (hukum alam), maka manusia dalam pandangan Stoik (otomatis) merupakan bagian dari alam. Oleh karena itu, jika manusia ingin hidup nyaman, dia harus mampu beradaptasi di dalamnya. (Meyer, 2008, hlm. 139)
 
Pandangan Stoik : Kapan Saatnya Menerima, Kapan Saatnya Mengubah

Kaum Stoik memandang bahwa — hingga taraf tertentu — jalannya kehidupan tidak bisa diatur. Seseorang tidak memilih dilahirkan di mana. Begitu pula dia tidak tahu besok bertemu siapa; apakah akan tertimpa musibah; atau lain sebagainya. Betul bahwa orang dapat berusaha dan berkehendak, akan tetapi kadang terdapat situasi yang tak bisa dilawan. (Irvine, hlm. 86-89). 

Masalahnya kadang hal-hal yang terjadi dalam hidup membuat kita menderita. Lalu bagaimana solusinya?

Di sinilah Kaum Stoik merumuskan pandangan: ada saatnya orang harus mengubah atau menerima. Apabila peristiwa buruk bisa diperbaiki, maka harus diperbaiki. Akan tetapi jika tidak dapat diperbaiki, orang harus belajar untuk menerima. Istilahnya harus legowo, tawekal atau pasrah sumerah tumarima. Sebab mau bagaimana lagi? Faktanya tidak bisa diubah. Mau dibawa sedih juga percuma. Seorang Stoik mempunyai masalah, maka dia coba selesaikan. Akan tetapi jika sudah mentok — dia tahu bahwa dia sudah berbuat sebaik mungkin. Tak ada yang perlu disesali. Peristiwa itu kemudian dianggap sebagai ketetapan semesta (divine providence).

Adapun prinsip di atas terpancar jelas dalam jurnal pribadi Marcus Aurelius. Namanya juga Kaisar, beliau punya banyak musuh, baik politik ataupun perang. Meskipun begitu Aurelius selalu mengingatkan diri: segala peristiwa, termasuk jalan hidupnya, adalah bagian pergerakan kosmos. Tugasnya adalah memutuskan untuk menanggapi atau menerima. Apabila hendak menanggapi maka harus jelas caranya. (Marcus Aurelius, “Meditations”, VI.19-22)

Yang hakiki dalam hidup ini, kata mereka, haruslah baik di segala kondisi. Maksudnya begini, bahwa tidak selamanya kekayaan itu baik, jika hal itu justru membuat orang itu jadi tidak tenang dalam hidup, merasa gelisah, resah, banyak pikiran dan lebih jauhnya, kekayaannya itu membuat (tidak hanya dirinya) orang lain kesusahan. Jadi apapun yang berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain, itu jelas-jelas buruk. 
 
Dalam stoikisme, hanya kebajikan (virtuelah yang utama (baik) dan  selain hal  tersebut dinilai  buruk.  Sementara hal-hal lain sifatnya netral (indifferent atau adiaphora), walaupun beberapa di antaranya, misalnya kesehatankemakmuran, kehormatan secara alamiah dianjurkan sedang yang berseberangan dari itu tidak dianjurkan. Misalnya begini, kepemilikan pribadi tidak dianjurkan karena tidak selaras dengan prinsip manusia yang ingin bahagia. Jika manusia tidak sadar terhadap godaan hal-hal yang netral, ia dapat terjebak pada tindakan menghalalkan cara untuk mencapai hal-hal yang netral atau tidak bahagia ketika diperalat hal-hal yang netral itu. Misalnya, seorang yang mengejar harta benda terus menerus sesungguhnya ia tak lagi bahagia, karena dirinya dikuasai hal-hal yang seharusnya tidak merintanginya untuk berbahagia.  Pertarungan paling sengit adalah mengenai kebijaksanaan dan pengendalian diri manusia melawan kesenangan pribadi.
 
Selain menolak pengaruh hal-hal yang bersifat eksternal (kekayaan, kesehatan, reputasi), Stoa juga menolak pengaruh hal-hal yang tidak sesuai nalar, misalnya takut kematian, takut Tuhan dan peristiwa-peristiwa buruk yang akan mengganggu kebahagiaan.  Bagi mereka, ketakutan terhadap hal-hal itu adalah absurd (dan omong kosong). Makanya mereka punya cara untuk mengakalinya, yaitu bukan dengan memutus hubungan terhadap hal-hal yang menakutkan melainkan  meluruskan nalar kita supaya tidak dikendalikan oleh emosi-emosi yang muncul dari hal-hal tersebut. Dengan memperbaiki nalar, kita mampu mengendalikan perilaku kita dalam menghadapinya. Ketakutan ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang tidak kita harapkan sebenarnya lebih besar daripada akibat-akibat menakutkan yang akan ditimbulkan peristiwa-peristiwa itu sendiri. Gampangnya begini, ketika orang stoa nyaris terserempet mobil di jalan, ia tidak akan bilang, “Keparat yang punya mobil itu”, tapi ia akan bilang, “Hampir saja. Tapi saya masih beruntung. Kan itu cuma nyaris saja toh”.
 
Stoikisme dan Manajemen Emosi
 

Menariknya, biarpun pada prinsipnya Kaum Stoik dapat disebut ‘tawakal’, mereka sadar bahwa melaksanakannya tidak mudah. Oleh karena itu mereka merancang siasat kejiwaan tersendiri. Filsafat Stoik mengakui bahwa emosi adalah hasrat alami manusia, oleh karena itu orang tidak dituntut untuk memusnahkannya. Meskipun demikian mereka mewanti-wanti satu hal: karena dorongannya kuat, emosi bisa membawa orang pada kehancuran. Orang yang tidak dapat mengontrol emosi ibaratnya hidup dalam bahaya. (Inwood & Donini, 1999)

Meskipun demikian, entah karena apa, di masa kini orang menganggap pribadi stoic sebagai total-rasional dan tidak berperasaan. Bukan berarti salah sih. Ada benarnya, tapi ya cuma begitu saja. Kepribadian Stoik yang sebenarnya agak lebih kompleks. Oleh karena itu, di bagian ini kita akan sedikit meluruskan kesalahpahaman. Betul bahwa Stoikisme mengutamakan ketenangan batin, akan tetapi bukan berarti semua emosi diberangus. Lebih tepat jika disebut “manajemen emosi”.

Doktrin Stoik itu mengutamakan keselarasan. Keselarasan itu mencakup dua aspek: (1) ketetapan semesta (nomos), dan (2) kematangan sikap mental (prohairesis). Seorang penganut Stoik berusaha memadukannya. Apabila berhasil maka dia akan mencapai kebahagiaan (eudaimonia).

Meskipun demikian, dalam proses melakukannya, ada kendala yang mesti diwaspadai. Kendala itu adalah rasa ingin yang berlebihan. Dalam bahasa Indonesia istilahnya kira-kira “hawa nafsu”. Nafsu yang diumbar dapat membawa kerugian, akan tetapi masalahnya, semakin dilawan justru dia semakin kuat. Padahal belum tentu kita dapat — atau boleh — memenuhi nafsu tersebut. Oleh karena itu Kaum Stoik merumuskan sebuah doktrin. Seseorang dikatakan bebas apabila dia tidak diperbudak oleh keinginan. Orang yang bebas, menurut Filsafat Stoik, dapat melihat godaan sambil tetap berpikir jernih. Karena kebebasan itu tidak terletak pada pemenuhan hasrat, melainkan pada kemampuan bersikap tenang di tengah godaan. Apakah godaan itu mau diikuti atau tidak, itu diserahkan pada rasio. Inilah doktrin keutamaan Filsafat Stoik. Bukan berarti seorang Stoik tidak boleh menikmati hidup; boleh saja bersenang-senang, asal tidak berlebihan. 

Manajemen emosi kaum Stoik, pada akhirnya, bukan total penihilan emosi, melainkan penyeimbangan dengan kodrat. Intinya pada bagaimana orang bisa tetap tenang, logis, dan rasional di dalam hidup. Baik itu di saat senang maupun sedih; di depan godaan ataupun musibah.
 
Politik dalam Pandangan Stoik

Diawal tadi disebutkan bahwa salahsatu tokoh stoic adalah Marcus Aurelius, Kaisar legendaris Roma. Selain dia, ada juga tokoh-tokoh politik Romawi lainnya yang merupakan tokoh Stoik seperti Cicero yang merupakan Senator Romawi, anggota dewan kota dan pernah menjadi Konsul (saya paling suka penggambaran Cicero dalam Novel Imperium karangan Robert Harris), dan Seneca (Penasihat Kaisar Nero). Tetapi secara umum, di kalangan Stoik sendiri terdapat bias dan keterbelahan dalam melihat politik. Ada yang terlibat aktif (merubah dari dalam dan untuk memberikan pelayanan serta kenyamanan hidup bagi masyarakat yang lebih luas), dan ada juga yang menjauhinya secara terang-terangan (karena sudah muak dengan para politisinya, dan tidak pantas bagi stoic untuk mengikuti hukum negara melainkan harus mengikuti hokum alam). Jadi memang Stoa ini seperti mempunyai paradoks ajaran dalam berpolitik, ada yang anti-politik, dan ada pula yang justru terlibat dalam lingkaran politik.

Nah, bagi Cicero yang memilih terlibat dan berkarir dalam dunia politik, doi mengatakan bahwa tugas politik justru merupakan sebuah tugas suci yang dibebankan Tuhan kepada manusia, dan bila manusia sanggup untuk menuntaskan tugas ini, maka balasannya adalah surga. Arena politik juga bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur ajaran Stoa seperti integritas diri, Karena bagi merekaPemerintahan yang baik seharusnya bukan hanya dihuni orang-orang yang tahu kebijaksanaan  seperti pernah digagas oleh Plato dalam sistem pemerintahan Aristokrasi, melainkan harus juga seorang sophis, yaitu orang yang benar-benar melakukan kebijaksanaan. Marcus Aurelius sendiri mengarang buku berjudul Meditations hingga 4 jilid yang berisi pentingnya seorang pejabat publik melakukan perenungan diri supaya dalam memerintah ia memiliki ketenangan batin, dan berjiwa pengorbanan


 

Karya : Kilau Tegar Mahajuna