Peradaban Nyamuk dan Eksistensinya

Kilau Tegar Adelioakins
Karya Kilau Tegar Adelioakins Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2016
Peradaban Nyamuk dan Eksistensinya

Disclaimer : Tulisan ini tanpa penelitian, riset dan tidak ada ilmiah-ilmiahnya sedikitpun. saya memang suka ngawur. dan bukan kah ngawur itu baik bagi kesehatan? Apalagi manakala kewarasan itu merupakan sesuatu yang membosankan! *Pikir-pikir dulu kalo mau membaca*..

Begini, jika diandaikan semua nyamuk di muka bumi ini binasa, punah dan tak bersisa. Apa dampak terbesarnya bagi kemanusiaan? ada kah? mungkin ada, entah pengaruhnya sedikit atau besar, hanya dugaan yang bersifat spekulasi yang mungkin menjadi jawabannya. itu pun entah benar tidaknya. tapi, kita kesampingkan dulu analisis bertele-tele dari sebab tragedi kemusnahan bangsa(?) nyamuk ini. yang semoga saja tidak. karena saya yakin, bangsa nyamuk tidak terlalu biadab sehingga pantas bagi Allah untuk menurunkan adzab-Nya seperti kepada kaum Ad, Tsamud, atau kaum-nya Nabi Luth as.

Jika diandaikan semua nyamuk di muka bumi ini binasa, punah dan tak bersisa. berapa banyak kerugian yang akan ditimbulkan olehnya secara ekonomi, psikologis, moral dan sosial? mungkinkah akan berdampak pada Pendapatan perkapita Indonesia? atau itu hanya sebuah fase singkat kehidupan yang setelahnya hanya menjadi seperti angin yang berlalu saja. alias nothing! tidak ada apa-apa. bagaimana pun, tragedi hanya akan menjadi tragedi pada saat itu saja, kan? setelahnya, mau bagaimanapun, hidup harus terus dilanjutkan.

Jika diandaikan semua nyamuk di muka bumi ini binasa, punah dan tak bersisa. Akankah semua manusia tidur lelap dan nyenyak tanpa ada bayangan akan mendapat gangguan dan serangan dari koloni nyamuk? tapi bila begitu, siapa yang lebih diuntungkan dari kemusnahan nyamuk ini? orang-orang kaya yang suka tidur di hotel bintang lima (eh di sana ada nyamuk gak ya?) atau orang-orang jalanan yang tidur beratapkan langit dan beralaskan secarik kardus yang empuk dan melenakan?

Atau, justru ketika semua nyamuk di muka bumi ini binasa, punah dan tak bersisa. imbas terbesarnya adalah kerinduan? karena lumrahnya, setiap hal dalam kehidupan yang meninggalkan kita, yang hilang dari keseharian kita, akan sedikitnya menimbulkan kerinduan kita terhadapnya.

Setelah kehilangan nyamuk itu, kita mungkin akan merasa merindukan kehadirannya dan ingin ?diganggu? lagi olehnya. bukankah manusia itu suka diganggu? (pemikiran macam apa ini ? haha) karena setidaknya, setiap tetes darah yang ia seruput dari tubuh kita, bukankah itu menjadikan kita sebagai orang teramah didunia? berderma terhadap sesama makhluk hidup dan atas nama moral, kita merasa harus berterima kasih kepada nyamuk yang telah menyebabkan keberadaan kita (sedikitnya) bermanfaat untuk (non) sesama! catat itu.

Tapi jangan khawatir, bung! insyaAllah, selama matahari terus bersinar, malam dan siang dipergilirkan, serta belum kiamat dan banyak manusia, eksistensi atau keberadaan nyamuk akan tetap ada. eksitensi ia seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. karena, hewan mana coba yang menggantungkan hidupnya pada manusia ? sehingga ketika manusia masih ada, maka nyamuk pun niscaya akan tetap ada. itulah kecerdikan nyamuk, ia menautkan eksistensinya pada eksistensi manusia. jadi, ketiadaan nyamuk hanya akan terjadi bila sudak tidak ada lagi manusia. tapi kan itu mustahil. kecuali kalo manusia semuanya bersekongkol untuk mengadakan perlawanan terhadap semua nyamuk di muka bumi dan mengadakan pembantaian besar-besaran. Ah, manusia tidak sekejam itu kan ?

P.s Karena gambar nyamuk yang cool tidak saya ketemukan, akhirnya gambar yang ada di leptop saja. diambil dari website photography, tanpa seijin yang punya karena tidak punya kontaknya.

  • view 201