Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 4 April 2016   19:07 WIB
Menjemput

Lama tak berjalan-jalan seluncuran di tetangga sebelah, saya menemukan cerita yang menarik. yang mungkin bisa menjadi inspirasi teman teman disini yang banyak singlenya juga yaa~ entah itu cuma ngaku ngaku ataupun emang beneran gak laku *eh :p , jadilah?tulisannya?saya bawa kemari~

Pengennya sih saya menceritakan ulang, dengan gaya saya sendiri. Namun tampaknya mengcopy dan paste si pemilik rasanya akan lebih mudah dipahami.?

?

Ini cerita dari, Satria Maulana. Semoga menginspirasi

?

?You will never have to force anything that?s truly meant to be?

2017 pernah direncanakan sebagai taun untuk saya melepas masa lajang.?Uniknya, waktu mikirin hal itu taun lalu, saya berstatus jomblo. Yang penting bikin target untuk jawaban atas pertanyaan?kapan nyusul?.??Insya Allah dua taun lagi?, mantap?kan.?Tanggapan itu terbukti jadi penyelamat sesaat selama enggak ada yang nyaut,??emang sama siapa??.

Sejujurnya, dulu saya bingung dengan cara apa seorang laki-laki menggenapkan keyakinannya untuk menghalalkan lawan jenis yang diincar. Saya nanya sama para sahabat yang udah nikah.??Gimana caranya bisa yakin sama seorang perempuan untuk dijadiin istri??ungkit saya. Mereka cuma bilang,?pokoknya lo bakal yakin gitu aja?.

Respon sederhana mereka enggak menyelesaikan teka-teki yang saya hadapi. Ketimbang menyibukkan diri dengan tanda tanya besar tentang cara membulatkan tekad, saya berkutat dengan gambaran figur pemimpin rumah tangga ideal versi sendiri. Dari titik itu, saya perlahan membangun diri dan meluruskan niat. Dituliskan tiga target utama di buku catatan: taqwa, penuh kasih sayang, tangguh.

Pekan demi pekan berlalu dan saya terus melahap bahasan-bahasan yang belum pernah disentuh sebelumnya. Psikologi perempuan, fiqih pernikahan, manajemen keuangan keluarga, akhlak, ilmu waris. Yang saya percayai, semuanya akan jadi bekal berharga untuk mengarungi petualangan berumahtangga. Bersiap-siap lebih awal tiada salahnya, menyesal di kemudian hari tiada duanya.

Ajaibnya, taun lalu saya dipertemukan-Nya lewat perkenalan keluarga dengan seorang dara yang enggak pernah disangka datang dari Surabaya. Perangai dan parasnya semanis namanya, Citra Adelia. Beberapa menit di awal pertemuan, saya berfirasat bahwa Citra adalah calon ibu dari anak-anak saya kelak. Ia santun, enggak neko-neko, sederhana dan mandiri. Saya berkata dalam hati,??ini perempuan yang ditunggu-tunggu, betul ini?.

Masa perkenalan berjalan singkat dan tekad semakin membulat untuk melakukan khitbah. Ternyata, tekad itu enggak pernah menyempurna tanpa doa-doa yang dilangitkan siang dan malam. ?Duhai Sang Pembolakbalik Hati, jika ia takdirku, dekatkanlah. Jika bukan, jauhkanlah. Tetapkanlah hati ini untuk selalu mengimani skenario-Mu?.

Keyakinan itu terus bertumbuh bernas saat waktu-Nya tiba. Ternyata keyakinan akan calon pasangan hidup bukan ?lo bakal yakin gitu aja?karena setiap geliat kebaikan hati pun merupakan petunjuk-Nya. Ibarat kendaraan yang pedal gasnya diinjak penuh, saya memberanikan diri memboyong belasan anggota keluarga untuk ?meminta? Citra kepada kedua orang tuanya.?Alhamdulillah, rencana melepas masa lajang resmi maju setahun dari rencana awal.?

Silaturahmi sederhana penuh haru biru di awal tahun itu menahbiskan kami sebagai sepasang calon suami-istri yang dihadiahi daftar persiapan pernikahan dalam beberapa puluh hari ke depan, insya Allah.?Prosesnya enggak mudah, tapi juga enggak susah selama dijalani dengan berserah. Perjalanannya enggak akan selalu manis, tapi tentu juga enggak selalu pahit selama dibumbui dengan rasa syukur.

Imam Ghazali pernah berujar, ?what is destined will reach you, even if it be beneath two mountains.?What is not destined will not reach you, even if it be between your two lips?. Taun?2016 dan 2017 terhalang ratusan hari. Surabaya dan Bandung terhalang ratusan kilometer. Saya dan Citra terhalang oleh ketiadaan mutual friends di media sosial. Nyatanya, enggak ada yang mustahil bagi-Nya saat takdir telah diputuskan. Terjadi maka terjadilah.

Menentukan pasangan hidup bukan perkara pilih-memilih karena kita enggak pernah betul-betul memilih. Toh jodoh telah dipilihkan oleh-Nya sesuai dengan takdir yang tersurat. Maka, salah satu esensi penting dari jodoh adalah urusan menjemput. Menghampiri kemuliaan yang telah digariskan jadi penyempurna agama dan masa depan. Dengan bekal, kondisi dan cara apakah kita akan menjemput?

Mohon doanya kawan-kawan yang baik, semoga semua persiapan kami dilancarkan sampai hari H. Aamiin.

?

*Iyaaaa kita doain. Jadi begitulah ceritanya.

Thumbnail?

Sumber Cerita

Karya : Silmi Kaffah