Bidadari Penerang Hati

Ahmad Riski
Karya Ahmad Riski Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2016
Bidadari Penerang Hati

Pelan aku tuntun sepedaku saat memasuki halaman rumah, berharap bunyi ban sepedaku di atas krikil pelataran rumah tak membangunkanya. Kulirik pergelangan tanganku, sudah pukul dua malam. Seharusnya sudah sejak jam dua belas tadi aku pulang, jika bukan karena ibu-ibu kampung sebelah yang meminta diskusi dan pengajian tambahan.

Kusandarkan sepedaku di pinggir rumah, ku ambil kunci serep di tempat tersembunyi yang hanya kami berdua ketahui, dengan hati-hati ku kuak pintu depan. Di dalam rumah mungilku hanya terdapat satu kamar dan satu ruang tamu yang sekaligus merangkap dapur dan ruang makan. Hanya ada satu dipan di tengah ruangan.

Di atas dipan, berbagai macam irisan-irisan kecil tergeletak, ada pisang, ubi dan yang lain, juga beberapa adonan dalam ember-ember kecil. Tak jauh darinya, seorang perempuan tengah duduk tertidur dengan kepala miring di atas dipan berbantalkan tangan. Kutatap lekat-lekat wajah ayu perempuan itu, walaupun sudah tergores oleh beberapa kerutan, toh wajah itu masih sama ayunya seperti saat kusunting dulu.

?Ah, Lilis. Kenapa juga kau harus sampai tertidur di sini? Bukankah seharusnya kamu istirahat setelah seharian berjualan.? Bisik hatiku, hatiku trenyuh mengingat begitu besar pengorbananya selama ini. Seakan tahu tengah kuperhatikan, perlahan mata perempuan itu mengerjab lalu melihat ke arahku. Ia tersenyum

?Ngisi pengajian tambahan lagi ya Bang?? Perempuan itu segera bangkit dan mencium tanganku takdzim, lalu mengikat gerai rambutnya dengan karet lusuh. Aku hanya mengangguk.

?Karena Abang baru pulang! Pasti Abang kecapean. Abang langsung tidur ya, ntar shubuh Lilis bagunin,? ucapnya dengan lembut. Aku menggeleng, dalam ku tatap kedua matanya, lalu mengangkat kedua alisku seraya mengarahkan pandangan ke atas dipan di belakangnya.

?Tadi siang ada order dari ibu-ibu tetangga, soalnya di sekolah lagi ada hajatan katanya. Makanya Lilis ngelembur Bang.? Jawabnya seakan mengerti arti tatapanku yang seolah-olah bertanya ?Itu apa??

Kehidupan kami menjadi lebih sulit beberapa tahun belakangan ini. Semenjak kelahiran Nia, anakku yang kedua, Lilis mulai berjualan kue di sekolah untuk menutupi kebutuhan keluarga. Selepas isya? ia harus membuat adonan hingga tengah malam untuk kemudian dijual pagi harinya. Pagi berjualan, siang membeli bahan dan malamnya membuat adonan, rutinitas yang tentu membuatnya kelelahan.

?Setelah ini Lilis ngak usah jualan gorengan lagi ya? Abang akan nyari kerja tambahan untuk memenuhi kebutuhan kita!.? Ucapku selembut mungkin, aku tak ingin menyinggung perasaanya. Dalam ku tatap kedua matanya, semoga ia bisa mengerti kecemasanku ini. Sungguh, tak tega benar aku melihatnya ikut membanting tulang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

?Tapi kan, Abang sibuk. Lilis gak mau menambah beban Abang. Lagian Lilis kan cuma mau nyari tambahan buat bayar SPP Kiki Bang!? Ucapnya merajuk. Ku lihat matanya nanar dan terluka.

Segera aku rengkuh dan ku peluk erat tubuh ringkihnya, sungguh betapa aku menyayangi perempuanku ini. ?Ah Lilis, maafkan Abang yang selama ini hanya bisa menyusahkanmu. Bersabarlah sayang! Sebentar lagi Abang pasti akan membahagiakanmu.? Janji hatiku, sejenak perasaan haru menyergapku. Lembut ku ciumi rambutnya, sebuah bulir hangat mengaliri pipiku, segera kutergadah agar bulir itu tak menetes. Lama, baru ku usap pipiku dan melepas pelukanku. Ku tatap matanya dalam-dalam, hatiku pun meluluh.

?Oke! Tapi kamu harus jaga kesehatan ya sayang, jangan tidur terlalu malam!? Ucapku kemudian. Ia tersenyum senang.

?Dan karena Abang belum ngantuk, Abang pengen bantuin kamu bikin adonn.? Ahh, kepalaku mendadak pening tak tertahan, hampir saja aku ambruk kalau saja Lilis tak segera meraih tanganku.

?Tuh kan! Abang istirahat aja ya? Insya Allah Lilis masih kuat nyelesainya sendirian.? Ucapnya lembut seraya menuntunku ke kamar. Aku hanya menurut dan langsung terlelap begitu sampai di pembaringan.

Esoknya, Lilis membangunkanku tepat saat adzan shubuh berkumandangan, ku lihat beraneka macam gorengan tertata rapi di atas dipan.

***

?Haiyyya, kalau kerja yang bener dong, masak baru 3 karung aja udah sempoyangan,? maki Ko Baba padaku.

?Nanti kalau begini terus bisa-bisa owe yang rugi. Bentar-bentar udah istirahat, ngos-ngos-an, jalan juga sempoyangan, nanti kalau ada karung yang jatuh terus bocor gimana?.? Terus Ko Baba melanjutkan omelanya.

?Maaf Ko, badan saya memang kurang enak hari-hari ini? Alasanku. Belakangan ini tubuhku memang kurang enak badan. Sudah berapa kali aku hampir menjatuhkan karung yang ku turunkan dari atas truk. Bahkan pernah sekali aku benar-benar menjatuhkanya, untung saja tak sampai bocor.

?Hallah, kerja yang bener sana, kagak usah banyak alasan. Atau lu mau gaji lu owe potong hah?? Ancam Ko Baba. Aku hanya bisa bergidik ngeri membayangkan gajiku dipotong, tanpa dipotong saja gajiku belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

?Kasihan Sihab tuh, masih aja maksa berangkat nguli, padahal mukenya udah pucet gitu.? Ucap Bang Dino, kuli senior kami pada Somad. Samar-samar ku dengar obrolan itu ketika lewat.

?Iye bang, denger-denger tuh Pak Ustad sering pulang malem gara-gara ngisi pengajian di kampung sebelah.? Tanggap Somad.

?Terus kenape juga dia masih kerja dimari? Bukanya bayaran ngisi pengajian udah gede Mad?? Kejar Bang Dino

?Itu die masalahnye, katanya dianya kagak mau di bayar Bang. Makanya tuh ibuk-ibuk pada seneng ngundang dia.? Jawab Somad, Bang Dino mengangguk-angguk seolah faham.

Selama ini aku memang tak pernah menarik rupiah atas pengajian yang aku sampaikan, tak tega aku menerima upah dari mereka hanya untuk setetes ilmu yang mereka dapat dariku. Cukup bagiku bayaran Allah kelak di akhirat.

?Iya Mad, zaman gini siapa yang kagak demen ama pengajian gratis, udah gitu enak lagi?? Tanya Bang Dino seolah pada dirinya sendiri.

?Ho?oh Bang, untung aja si Pak Ustad udah punya bini. Makanya tuh ibu-ibu kagak berani nawarin anak gadisnya?

Dan aku hanya bisa tersenyum demi mendengar obrolan itu.

***

Hari ini adalah hari gajian kami, dan alhamdulillah gajiku utuh, tak seperti yang kucemaskan. Lima Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah. Sore ini mendung cukup tebal, hujan turun rintuk-rintik. Segera kukayuh sepeda agar lekas sampai rumah, ingin secepatnya aku memberikan uang hasil keringatku pada Lilis. Semoga saja uang ini bisa sedikit meringankan bebanya.

Baru seper sekian kayuhan hujan sudah menderas, segera kuparkir sepeda sembarangan dan berteduh di emperan toko pinggir jalan. Ku lihat Anang, salah seorang teman kuli yang juga berteduh di sana.

?Hei Nang, ngelamun aja! Lagi ada pikiran?? Sapaku, ku lihat kecemasan di wajahnya

?Hah! Ia Hab, gi mana gak kepikiran kalau abis gajian tapi gak bawa uang?,? Ia membuang napas kesal, wajahnya terlihat semakin gusar.

?Minggu kemarin gua ngutang ke Ko Baba buat persalinan Zainab, bini gua. Jadinya gaji gua sekarang buat bayar utang itu katanya,? Lama ia menerawang, matanya terlihat berkaca-kaca

?Terus apa kata bini gua nanti Hab? Padahal si Aisyah yang baru lahir lagi butuh susu ama duit buat ke Posyandu?? Tanya Anang bersunggut-sunggut. Hatiku berdesir saat mendengar penuturaanya. Istri yang baru melahirkan, anak yang masih membutuhkan susu tanpa uang sepeser pun dalam saku sungguh malang sekali nasib temanku ini.

Segera kurogoh sakuku, sungguh aku ingin membantunya. Tapi Lilis, ah sudahlah, bukankah lebih baik mendahulukan kepentingan orang lain dibanding diri kita sendiri? Toh kalau memang rizeki pasti gak ke mana. Tanpa pikir panjang, kukeluarkan uang gajianku, kusodorkan setengahnya pada Anang.

?Semoga bisa ngebantu ya Nang?? Segera ia mengucapkan terimakasih sampai tertunduk-tunduk, kulihat matanya berembun saat kami berpisah. Hujan sudah sedikit reda, tapi mendung masih terlihat sedikit mengantung di atas sana. Kukayuh sepeda dengan kecepatan penuh hingga tiba di jalan raya, hujan rintik-rintik sepanjang perjalanan, aku tak ingin basah kuyup. Mendadak sebuah motor berkecepatan tinggi muncul dari tikungan jalan dan Brrakkk!!

Segera aku menoleh, kulihat seorang anak perempuan tengah merintih kesakitan sambil memegangi lututnya. Darah segar mengucur deras dari sela jarinya.

?Wwhhooooee!? Teriaku pada sang penabrak yang langsung ngacir begitu saja. Orang-orang berkerumun, mulai saling berpandangan dan bertanya.

?Langsung bawa ke puskesmas aja Mas!? usul sebuah suara di tengah kerumunan. Segera aku bopong bocah itu, menaikanya ke sepedaku lalu membawanya ke puskesmas terdekat. Sesampainya di puskesmas, setelah melakuakan pertolongan, kutemui sang dokter yang tak henti-hentinya memujiku di ruanganya.

?Mas Sihab ini sungguh berhati malaikat, jarang-jarang zaman sekarang ada orang semacam Mas ini,? Puji dokter padaku. Saat itu aku sama sekali tak mengharapkan dokter tersebut akan mengurangi pembayaran apalagi sampai mengratiskanya.

?Andai saja di negara kita semua pemudanya seperti Mas Sihab.? Lanjut Sang Dokter. Aku hanya tersenyum kecut mendengar pujiaanya.

Setelah berbasa-basi sebentar, menuliskan resep yang harus aku tebus dan membayar penuh pengobatan itu, segera aku meminta izin dan pamit. Kuantarkan anak itu sampai ke rumahnya yang terletak pemukiman kumuh. Ku tolak dengan halus saat orang tuanya bersikeras mengganti uang pengobatan. Sungguh, ku lihat keluarga itu jauh lebih kekurangan dibanding diriku. Lekas aku berpamitan dan menyerahkan sisa uangku pada Lilis.

?Seratus Empat Belas Ribu Rupiah.? Hitung Lilis.

***

Malam ini kami shalat isya? bersama di rumah. Hujan sisa tadi sore masih terdengar rintik-rintik, hawa dinginya menembus masuk melalui celah-celah dinding rumah. Seusai salam, dzikir dan do?a sebisaku, Lilis bangkit dan mencium tanganku. Perlahan ku angkat wajahnya lalu ku kecup lembut keningnya, lama. Kutatap matanya dengan perasaan bergetar. Sejenak, kami saling bertatapan dengan kedalaman rasa yang hanya bisa kami berdua rasakan.

?Maafkan Abang ya Lis, belum bisa ngebahagiain Lilis, malah terus nambahin kesedihan dihati Lilis.? Pintaku sepenuh tulus dengan hati yang basah. Ia hanya menggeleng lalu memeluku, erat sekali. Lama baru ia melepasnya.

?Lilis ikhlas kok Bang, menjalani setiap jengkal kehidupan bersama Abang, sesulit apapun itu. Lilis rela mengabdikan seluruh hidup Lilis buat Abang, buat dakwah Abang,? Sampai di sini ia sudah mulai terisak.

?Sejak awal kita menikah, Lilis sudah berniat akan selalu mendukung Abang, bertekad menyerahkan sepenuhnya jiwa raga Lilis buat Abang. Lilis rela Bang, walaupun harus menjadi seperti Fatimah yang lecet tanganya karena mengurus pekerjaan rumah demi mendukung dakwah Ali. Lilis juga siap, walaupun sampai harus ngak makan berhari-hari, Lilis si..aap Bang, Li..lis ikhlas, Lilis reee..lla asal demi dakwah Abaa..ng, asal se..lalu di samping Ab..ang.? terbata ia mengatakanya sambil sesungukan.

?See.. mmua itu udaaah bik..iiin lilis bahhha? Belum selesai ia bicara, segera kurengkuh tubuhnya yang berguncang hebat, kubiarkan tangisnya pecah dalam dekapanku. Malam itu, setelah sepuluh tahun pernikahan kami, untuk pertama kalinya aku melihat Lilis menangis. Perempuanku yang biasanya tegar, yang bahkan terlihat lebih kuat menahan pahitnya kehidupan dibanding diriku, malam itu justru menumpahkan seluruh tangis dan kesedihanya dalam pelukanku. Malam itu kami saling menangis sambil berpelukan.

Duh ya Rabbi, sungguh besar nikmat karunia-Mu bagi hamba-Mu ini. Telah Kau jadikan Lilis sebagai pendamping hidup hamba, perempuan yang selalu setia dalam suka maupun duka, perempuan yang selalu mendukung hamba menegakan agama-Mu. Terimakasih ya Allah telah Kau hadiahkan Lilis untuku, telah Kau jadikan dia mujahidahku, sebagai bidadari penerang hatiku.

Ahmad Riski

  • view 151