Photograph

Achmad Zulfikar
Karya Achmad Zulfikar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juni 2016
Photograph

PRAAAANNNGG!!!! Suara piring pecah kembali memenuhi rumah.

“CUKUP KAK!! INI TUH HIDUPKU!! KAMU NGGAK BERHAK IKUT CAMPUR DALAM HIDUPKU!!” Teriak Dinar nyaring. Bahkan teriakannya mengalahkan bunyi piring yang barusan ia pecahkan.

“DINAR!! AKU SEPERTI INI CUMA KARENA INGIN KAMU SUKSES!! KENAPA KAMU JADI MARAH SAMA AKU?!!” Teriakan balasan dari kakak Dinar, Alwan bahkan terdengar lebih nyaring. Teriakan mereka berdua sampai mampu menarik perhatian tetangga sekitar rumah mereka.

“SUDAH CUKUP KAK!! DINAR NGGAK MAU KAYAK GINI LAGI!!” Dinar langsung berlari keluar sambil membanting pintu. Tetes air mata mulai membasahi pipinya.

“TUNGGU DINAR!! JANGAN LARI DARI KENYATAAN!!” Kak Alwan masih berusaha mengejar Dinar. Namun semua itu percuma. Dinar jauh lebih cepat dalam hal berlari. Selagi berlari Dinar masih sempat mendengar teriaan-teriakan kak Alwan. Tetapi Dinar sudah tak peduli lagi. Dinar terus berlari tanpa lelah, hingga ia sampai di gang yang tak ia kenal. Akhirnya Dinar memutuskan untuk berhenti berlari.

“Ah.. Sepertinya aku tersesat..” Pikir Dinar.

“Tapi ini lebih baik daripada terus terkekang dalam rumah.” Tambah pikirannya lagi. Tiba-tiba, ada seseorang yang menyapa Dinar,

“Lho Dinar ya?” Dinar langsung menoleh. Ternyata yang menyapanya adalah sahabat Dinar semasa sekolah.

“Iya, kamu Rana kan? Gimana kabarnya Ran?? Lama nggak ketemu..” Balas Dinar tersenyum. Setelah saling melepas rindu selama beberapa menit, Dinar ikut berjalan-jalan bersama Rana. Setelah beberapa menit berjalan dalam kesunyian, tiba-tiba Rana bertanya,

“Kamu ngapain ada di sini Din? Rumahmu kan jauh..”

“Sedang kena masalah nih Ran.. Seperti dulu..” Jawab Dinar sambil tersenyum.

“Kamu sendiri, ngapain di sini?” Dinar balik bertanya.

“Masih tengkar terus sama kak Alwan ya? Kamu ini Din.. Punya kakak tampan kok diajakin tengkar terus..” Goda Rana.

“Kalau sifatnya setampan mukanya bakal enak Ran, masalahnya sifatnya sangat bertolak belakang dengan mukanya.. Sekarang aja dia udah mulai mencoba menjadi seperti ayahku dulu..” Kata Dinar sebal. Dinar memang sering bertengkar dengan kakaknya, tetapi mungkin inilah yang palin parah. Dinar bahkan sampai berani mencoba pergi dari rumah.

“Eh, kamu masih belum jawab pertanyaanku Ran, ngapain kamu kok di sini?” Tanya Dinar lagi.

“Oh ya, orang tuaku baru saja pindah rumah di sekitar sini minggu lalu. Kebetulan aku ini mau pulang. Mau mampir Din?” Tawar Rana.

“Boleh Ran. Aku lagi malas pulang ke rumah. Lagi pula aku juga nggak tahu jalan di daerah ini.” Tanpa sadar Dinar mengakui kalau Dinar sedang tersesat.

“Haah? Berarti dari tadi kamu sedang tersesat Din?” Tanya Rana terkejut. Dinar hanya menganguk pelan.

“Oke lah kalau begitu. Ayo kita pergi. Nanti kamu bisa ketemu sama kak  Amar. Dia pasti terkejut melihatmu.”

Setelah berjalan selama kurang lebih lima belas menit, mereka sampai di rumah Rana. Rumah yang tidak terlalu besar, namun Nampak asri dari luar. Setelah Rana menekan bel pintu dan menunggu beberapa menit, tampak seorang laki-laki tinggi membuka pintu rumah.

“Halo kak Amar.. Rana bawa teman nih, tebak siapa?” Rana menunjuk ke arah Dinar sambil tersenyum.

“Halo kak Amar.. Apa kabar? Lama tak jumpa..” Sapa Dinar.

“Lo Dinar? Lama tak main.. Ini alhamdulillah sehat-sehat saja.. Ayo silahkan masuk..” Kak Amar, kakak Rana menyambut kedatangan mereka. Dinar pun langsung diajak masuk ke kamar Rana. Setelah mengobrol selama beberapa menit, tiba-tiba Rana bertanya pada Dinar,

“Kenapa kamu tengkar lagi? Biasanya gak sampai pergi dari rumah deh..”

“Biasa lah.. Jiwa orang tuanya mulai muncul lagi.. Mentang-mentang ia yang lebih tua dan ia diberi amanah almarhum ayahku, Ia jadi mulai ngatur hidupku..”

“Lah memangnya kenapa kamu marah? Dia kan Cuma berusaha menjaga kamu Din.. sesuai amanahnya almarhum ayahmu dulu..”

“Dia nggak setuju kalau aku mau masuk kuliah jurusan penerbangan.. Padahal itu kan cita-cita ku sejak dulu.. Dan dia bilang dia ingin aku masuk ke kuliah akuntansi agar peluang kerjanya besar.. Bagaimana bisa aku belajar demi memperoleh pekerjaan? Kak Alwan benar-benar nggak ngerti aku pokoknya.. “ Cerita Dinar pada sahabat lamanya itu.

“Ooh kayak gitu ya..” Rana hanya mangut-mangut saja.

“Hei ini ada teh sama biscuit untuk kalian.. Tolong buka pintunya dong..” Tiba-tiba suara kak Amar terdengar dari luar. Sontak saja Rana langsung membuka pintu dan mengambil nampan berisi teh hangat dan sebungkus besar biskuit untuk kami.

“Terima kasih kak Amar…” Kata Dinar dari dalam kamar.

“Oke.. Kalau butuh apa-apa bilang saja ya..” Kata kak Amar meninggalkan kamar.

“Enak ya kalian.. Jarang tengkar sesame saudara.. Aku jadi iri..” Kata Dinar pada Rana.

“Eh kata siapa? Dulu kami sering banget tengkar gara-gara hal sepele.. Tapi lama-lama juga berhenti..”

“kok bisa berhenti?”

“Ya bisa lah.. Asal bisa saling pengertian sesama saudara.. Juga jangan suka saling bentak.. Itu bisa merenggangkan hubungan.. Terus jangan kabur dari masalah.. Kalau menghadapinya bersama, pasti ketemu jalan keluarnya..”

Deg.. tiba-tiba heti Dinar berdegup keras. Kalimat yang disampaikan Rana barusan seolah ditujukan hanya padanya. Dinar lalu mengingat perbuatannya tadi, mulai memecah piring hingga membentak kakaknya. Padahal ia tahu kakaknya hanya berusaha mencari jalan terbaik untuknya.

“Terus kalo marah, jangan pertahanin egomu sendiri.. Minta maaf terkadang dapat menyelesaikan masalah..” Lanjut Rana. Dinar yang dari tadi mendengarkan hanya bisa termenung meratapi perbuatannya terhadap kakaknya tadi. Akhirnya Dinar pun tak tahan,

“Eh Ran, aku boleh minta tolong nggak?” Tanya Dinar.

“Boleh Din, mau minta tolong apa?”

“Anterin aku pulang ke rumah.. Aku mau minta maaf ke kak Alwan..” Kata Dinar.

“Oke.. Tunggu di luar Din, aku mau keluarin sepeda motor dulu.” Dinar dan Rana pun segera pergi menuju ke rumah Dinar. Sesampainya di sana, Rana langsung pamit pulang ke Dinar,

“Din, aku pulang dulu ya? Sudah mulai gerimis nih..”

“Oke Ran makasih tumpangannya. Salam buat kak Amar.” Kata Dinar. Dinar langsung berlari mencari kak Alwan.

“Kak Alwan!! Kak Alwan!!! Kamu di mana kak!!” Tetapi taka da jawaban. Setelah lima belas menit Dinar menelusuri rumah, kak Alwan masih tidak ia temukan.

“Jangan-jangan, kak Alwan masih mencariku..” Pikiran itu mulai terbesit dalam benak Dinar. Ia langsung bergegas mengambil payung dan jaket kak Alwan. Hujan deras tak mampu menghalangi Dinar mencari kak Alwan.

“Maafin Dinar kaaak… Dinar udah jahat sama kak Alwan.. Maafin Dinar kak….” Batin Dinar. Pikiran seperti itu mulai membuat air matanya meleleh. Setelah lama mencari, akhirnya Dinar menemukan kak Alwan di taman kota. Ia tampak sendirian di tengah guyuran hujan. Saat Dinar mendekat, terdengar lantunan lagu dari mulut kak Alwan.

You can fit me

Inside the necklace you got when you were sixteen

Deg.. Saat mendengar lagu itu, Air mata Dinar langsung mengalir deras. Ia tahu, lagu yang berjudul ‘Photograph’ dri Ed Sheeran itu sangat sesuai dengan keadaan dirinya dan kak Alwan saat ini. Dinar langsung mengeluarkan kalung kecil pemberian kak Alwan dari balik kerah bajunya dan menatapnya lamat-lamat. Kak Alwan melanjutkan nyanyiannya,

Next to your heartbeat where I should be

Keep it deep within your soul

Dinar tak kuat lagi menahan isak tangisnya. Ia langsung menjatuhkan payung yang ia bawa dan berlari memeluk kak Alwan dari belakang. Suara isak tangis dari Dinar terdengar menyatu bersama hujan. Hanya satu kalimat yang terucap dari mulut Dinar,

“Maafin Dinar kaaak…”

Kak Alwan pun tersenyum dan berbalik menatap Dinar. Kak Alwan lalu melanjutkan kembali lagunya,

And if you hurt me

That’s ok baby only word bleeds

Inside the pages you just hold me

I won’t ever let you go

Isak tangis Dinar sudah mulai tak terdengar. Tapi ia masih menggenggam erat tangan kak Alwan. Kak Alwan hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Ia pun mengajak adiknya pulang ke rumah.

Setelah mereka sampai di rumah dan selesai membereskan diri, kak Alwan mengajak Dinar untuk makan malam. Dinar hanya menganguk kecil sambil berjalan ke ruang makan. Selesai makan, kak Alwan memulai pembicaraan,

“Maafin kak Alwan sudah maksa kamu.. Kamu berhak nentuin jalan yang amu pilih Din.. Kakakmu ini akan selalu mendukungmu.” Ia tersenyum pada Dinar. Dinar yang melihatnya pun mulai meneteskan air mata.

“Maafin Dinar juga kak. Dinar udah bertingkah egois kayak anak kecil.. Bentak bentak kak Alwan.. Maafin Dinar kak” Kata Dinar sambil terisak mengingat perbuatannya.

Kak Alwan pun tersenyum dan berpindah posisi duduk di sebelah Dinar. Dinar lalu mulai menyandarkan kepalanya ke pundak kakaknya itu. Kak Alwan pun mulai bernyanyi lagi,

When I’m away

I will remember how you kissed me

Under the lamppost back on sixth street

Hearing you whisper through the phone,

Wait for me to come home

Dan akhirnya Dinar pun tertidur kelelahan dalam dekapan kak Alwan.

  • view 74