Hening

Achmad Syarif
Karya Achmad Syarif Kategori Filsafat
dipublikasikan 09 September 2016
Hening

Setiap pembaca artikel ini mungkin pernah mengalami, merasakan bahkan meresapi kesepian, kesunyian dan kesendirian. Dengan berbagai macam alasannya baik disengaja maupun tidak, atau bahkan seakan-akan orang di sekitar memang sengaja menjauhi dan enggan mendekati, dalam hal ini penulis ingin menyampaikan sisi lain dari "sepi" daripada bicara ramai yang cenderung membosankan meskipun sulit dilewatkan.

Disadari atau tidak, bayanganmu pun ikut meninggalkanmu dalam gelap, meminjam kalimat Paulo Coelho "Cinta adalah perangkap, ketika ia muncul, kita hanya melihat cahayanya bukan sisi gelapnya." Adakalanya kita butuh keramaian dan adakalanya kita butuh kesepian. Seringkali kita lupa bahwa cahaya yang hadir suatu saat akan redup bahkan menghilang.

Ada baiknya, mengambil pelajaran dari Seorang ulama sufi bernama Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan ajarannya "Manunggaling Kawulo Gusti" (kebersatuanku dengan Tuhan), ajaran monumental ini merupakan salah satu ajaran yang dilahirkan melalui proses menyepi, Syekh Siti Jenar ingin menunjukkan bahwa melihat manusia yang lain tidak lebih dari sekedar bangkai yang hidup. terlepas dari pro dan kontra ajarannya, penulis ingin menyampaikan betapa ajaran itu didapat dari puncak kesepian dan kesunyian yang dialami olehnya.

Dalam kesepiannya, dia berdialog dengan diri sendiri yang dianggapnya sebagai Tuhan, dalam diamnya dia merekonstruksi alam pikiran Tuhan, kemudian melihat segala sesuatunya adalah bentuk manifestasi dari Tuhannya sendiri, Syekh siti jenar mengatakan "anā Allahu" (Aku-lah Allah), dalam kajian ilmu tasawuf ucapan ini dikenal dengan sebutan "Syathahāt" (ucapan nyeleneh yang keluar atas dasar kesatuannya dengan Tuhan) namun pada saat itu ajarannya dianggap sesat menyesatkan karena konteks manusia awam waktu itu belum mampu menembus batas pemikiran syekh Siti Jenar.

Renungan sesaat lebih berharga daripada ibadah 1000 tahun penuh (Tafakkarū sā‘atan khoiru min ’ibadatin alfīna sanatin). Knowing yourself is beginning to all wisdom (mengenal dirimu adalah awal seluruh kebijaksanaan dirimu), sepi dapat menjadi medium setiap orang untuk menggali potensi dan ancaman yang ada dalam dirinya bagi orang-orang yang mau berpikir.

Konon, Setiap agama mengajarkan untuk menyepi, bahkan seperti agama hindu misalnya, ada hari raya khusus untuk itu yang dikenal dengan hari raya nyepi.

Dan akhirnya, hanya dirimu sendiri yang mampu menjadi penyelamat untuk diri sendiri, tak peduli seberapa sempit gerbang, betapa beratnya hukuman yang harus dijalani. aku adalah Tuan atas takdirku dan aku adalah Nahkoda atas jiwaku.

Syekh Siti Jenar menerima hukuman mati atas ajarannya tanpa perlawanan dan pertumpahan darah, dan sejarah tetap mencatatnya sebagai seorang waliyullah.

  • view 197