Berbeda, maka kita ada

Achmad Syarif
Karya Achmad Syarif Kategori Budaya
dipublikasikan 06 September 2016
Berbeda, maka kita ada

Sejak zaman nenek moyang Indonesia dikenal dengan budaya gotong royong, saling bahu membahu dan mengisi untuk membangun sebuah peradaban. Keragaman sosial, budaya dan tradisi sejatinya adalah kekayaan ilmiah yang sangat mahal karena hal demikian tidak lahir begitu saja melainkan melalui proses interaksi antar sesama baik individu maupun kelompok.


Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa inti dari pengembangan masyarakat adalah pemberdayaan,  
pemberdayaan adalah upaya sistematis untuk memandirikan kelompok rentan dalam Masyarakat dengan sumber daya yang dimiliki kelompok rentan itu sendiri dan sumber daya komplementer dari pihak lain.

Sedangkan pemberdayaan tidak akan pernah bisa dilakukan bila semua orang sama atau seragam karena tidak ada masyarakat yang perlu diberdayakan jika demikian.

Jim Ife, pakar pengembangan masyarakat dari Australia berpendapat bahwa kondisi tidak atau kurang berdaya itu dialami oleh tiga golongan: tidak berdaya secara struktural, kultural dan personal.


Ketidakberdayaan secara struktural disebabkan oleh kondisi ketimpangan struktur sosial dalam masyarakat. Kebanyakan mengacu kepada aspek ekonomi meski tidak selalu begitu. Orang miskin, pengangguran, orang lanjut usia biasanya masuk ke dalam gologan ini. Seringkali, mereka yang rentan secara struktural kemudian cenderung menjadi miskin atau setidaknya mengalami kesulitan untuk meraih kesejahteraan. Adapun ketidakberdayaan secara kultural seringkali terjadi kepada mereka yang dikenal minoritas atau ketentuan hukum adat setempat yang berlaku, biasanya mereka yang tidak berdaya secara kultural ini dipinggirkan, dan dijauhkan dari keuntungan-keuntungan kultural yang biasa diperoleh kaum mayoritas. Selanjutnya ketidakberdayaan secara personal seperti penyandang cacat, korban bencana, dan termasuk orang yang rendah pendidikannya.


Berbagai persoalan diatas adalah bagian dari cermin kehidupan di Indonesia, sejauh ini penulis melihat adanya potensi yang besar di Negara ini untuk menyelesaikan persoalan diatas apabila keragaman budaya dan profesi masyarakat bisa dimaksimalkan untuk saling memajukan dan menguatkan, namun untuk menyadarkan hal itu bukan hal yang mudah, karena butuh proses panjang untuk menyamakan persepsi/ ide.

Seperti Program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan atau biasa disebut CSR (Corporate Social Responsibility) dengan kemampuan yang sangat beragam seharusnya menunjukkan keberpihakannya pada kelompok tidak berdaya diatas dan menjadi lokomotif pembangunan Indonesia jangka panjang, baik berupa Fisik maupun Non-fisik. Ketahuilah bahwa bangunan-bangunan yang indah adalah bangunan yang dibangun atas dasar keragaman. Bayangkan jika bangunan hanya dibangun oleh satu jenis bahan seperti batu misalnya, tentu tidak akan sekuat dan seindah bangunan yang dibangun bersama dengan kayu, genteng, dll.

  • view 139