Imagologi; Strategi Rekayasa Teks, Sosial dan Politik

Achmad Syarif
Karya Achmad Syarif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 September 2016
Imagologi; Strategi Rekayasa Teks, Sosial dan Politik

Sehebat apapun bahasa, pada dasarnya tidak mampu menggambarkan secara utuh setiap kenyataan yang terjadi. Namun bahasa bisa menjadi kekuatan paling kuat untuk memobilisasi dan mempengaruhi suatu kelompok bahkan suatu bangsa dalam menyikapi satu realitas yang sebenarnya multitafsir.

Pada kesempatan ini penulis ingin menjelaskan cara melihat orientasi sebuah media dari sudut pandang "yang lain" atau bisa disebut perspektif imagologi yang mana pendekatan ini salah satu pendekatan baru dalam dunia kritik media atau wacana.


Setelah perang dunia ke-2, kekuatan senjata bukan lagi hal yang utama melainkan hanya sebagai penopang dalam sebuah peperangan, yang utama adalah ghazwul fikr atau The War Of Idea (perang pemikiran). Serangan non-fisik atau biasa disebut Ghazwul Fikr (perang pemikiran) mengacu kepada berbagai ide yang dinilai sebagai bagian dari rekayasa teks, sosial, dan budaya suatu kelompok untuk menguasai kelompok lain.
Inilah yang dimaksud Gramsci dengan "hegemoni" atau menguasai dengan "kepemimpinan moral dan intelektual" secara konsensual. Teori hegemoni dibangun dalam premis pentingnya "ide" dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik.

Istilah modernitas kini telah menjadi bagian realitas nyata kehidupan masa kini, sebuah keadaan kehidupan yang sungguh-sungguh ada, terlihat, terasakan, serta dialami oleh semua orang yang hidup pada masa kini. Semua orang ingin diberi predikat modern. Untuk itu, gaya hidup mereka diubah, menyesuaikan diri dengan syarat-syarat yang bisa mendatangkan sebutan modern. Kenyataan tentang modernitas merupakan realitas yang common sense, yaitu suatu kenyataan yang dipahami bersama oleh semua orang sebagai sesuatu yang lumrah (lazim).

Seorang pemikir bernama Marshall McLuhan dalam buku Understanding Media: The Extention of Man, membagi 2 macam peran media. Peran pertama, media sebagai alat atau perantara menyampaikan pesan (inti peranan ini adalah hendak menyampaikan isi pesan yang disampaikan melalui media). Peran kedua, media berubah sebagai tujuan bukan sekedar perantara pembawa pesan (pemakaian media bukan dimaksudkan untuk memudahkan tersampaikannya pesan-pesan, melainkan bagaimana agar suatu pesan dapat menempati media-media). Dalam bahasa sederhana, fenomena di masyarakat yang berebut "nampang". Itulah contoh dari medium yang telah menjadi tujuan bukan sarana.
Medium terkecil dan paling sederhana yang tidak memerlukan alat khusus adalah pembentukan gestur, bahasa tubuh, atribut, dan gaya bicara yang disampaikan oleh tubuh kepada tubuh lain.

Dalam fenomena imagologis, semua realitas telah dicipta, didesain (direkayasa) demi satu pesan tertentu atau demi menguasai medium tertentu. Semua bentuk-bentuk realitas sosial tidak lagi utuh apa adanya, tetapi memiliki sisi yang ditonjolkan (demonstrasi) dan sisi yang disembunyikan (monstrasi). Adapun fenomena imagologis keagamaan menyebabkan kematian agama itu sendiri, akibat proses pe-medium-an yang mengonstruksi wujud utuh keagamaan dari realitas faktual agama (aktifitas keagamaan) menjadi tampilan-tampilan layar agamis semata. Sehingga melupakan isi pesan dan terjerumus dalam komersialisasi keagamaan demi kepentingan individu atau kelompok tertentu.

Dalam media pemilihan "diksi" atau "kata" itu menjadi penting karena berhubungan langsung dengan kepentingan berbagai macam kelompok, sehingga seringkali media menampilkan berita (opini) tergantung dari pemesan opini tersebut yang ujungnya kembali pada komersialisasi bukan idealisasi. Sehingga para pembaca diharapkan dapat terpengaruh oleh pemberitaan tersebut. Lalu ada proses inception (penanaman ide) bahwa yang disampaikan oleh media adalah sebuah kebenaran mutlak tanpa perlu verifikasi lebih lanjut oleh pembaca. Disinilah pengetahuan itu menjadi penting sebagai alat uji kebenaran informasi yang diterima, memang benar media menyampaikan fakta namun realitanya seringkali disusupi kepentingan.
Seperti contoh "penggusuran tanah dan bangunan warga", media yang pro-pemerintah akan mengatakan "pemerintah merelokasi bangunan warga". Sedangkan media yang kontra akan memberi judul "penggusuran paksa dilakukan oleh pemerintah". Objek yang sama namun dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

 

  • view 201