Uplik

Abu Rifai
Karya Abu Rifai Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Uplik

  • UPLIK
    Sebuah Cerpen karya Ahmad Abu Rifai
     
    Seperti yang sebelum-sebelumnya, tiap rampung menunaikan sholat isya', kami sekeluarga duduk melingkar di atas tikar dari daun pandan. Di depan kami tersuguh nasi jagung dan sambal pindang.

    Sekitar kami gelap, listrik dari pemerintah belum menjangkau daerah kami. Sejauh ini, kami hanya bisa menikmati manfaat listrik ketika ada momen-momen penting. Misal, saat ada Indonesia bertanding atau saat pengumuman sidang isbat.

    Setiap malam, kami hidup diterangi oleh bulan dan lentera yang bernama uplik, yaitu alat penerang dari botol bekas yang diisi minyak tanah lalu diberi uceng sebagai media bagi api untuk tetap menyala. Sebenarnya mungkin ada tiga penerang menurutku, penerang yang ketiga adalah cahaya-cahaya hidup yang terpancar dari wajah keluargaku.

    Aku hidup dengan enam anggota keluarga di sebuah rumah kecil, mereka adalah ibu, ayah, kakek, nenek, kakak dan juga adikku. Kami hidup dibayang-bayangi oleh jerat kemiskinan, sama halnya dengan sebagian tetanggaku yang lain. Bahkan, ketika angin malam yang dingin menusuk-nusuk, kami harus saling memeluk satu sama lain agar hangat. Ya, kami tak punya selimut.

    Walau secara material kami miskin, namun aku bersyukur, setidaknya Tuhan memberikanku kekayaan dalam bentuk yang lain. Tiap makan malam, keluargaku selalu menghadap ke arah kiblat yang sama, yaitu satu buah uplik. Saat itulah, kami saling berbagi cerita tentang apa yang terjadi hari ini, beban apa saja yang telah dipikul seharian, hinaan dan caci maki apa yang telah terdengar hari ini serta kebahagiaan apa yang telah didapat. Semuanya kami bagi.

    "Hari ini aku dapat nilai matematika enam puluh, Pak. Padahal teman-temanku mendapat sembilan puluh, bahkan ada yang seratus. Aihh, maaf pak, aku memang anak yang bodoh!" ceritaku pada Bapak sambil menunduk.

    Ketika aku mengadukan hal seperti itu, Bapak tak pernah marah, beliau tetap tersenyum, bahkan mengelus-elus kepalaku dengan sabar dan penuh kasih.

    "Tidak apa-apa, Nak. Tidak ada orang yang bodoh di dunia ini, hanya saja, ada yang pintar di bidang akademik dan ada yang pintar di non akademik. Kalau ada yang pantas di sebut bodoh, maka dia adalah orang yang malas belajar dan enggan menggali potensi diri. Kamu harus sabar, Nak. Jangan mudah putus asa, tetaplah belajar! Man jadda wajada!"

    Hebat sekali bukan kalimat Bapakku? Aku kadang bisa tak mengenal Bapak ketika beliau berkhutbah, kata-kata beliau bahkan lebih manis daripada janji-janji pemerintah saat kampanye. Padahal, beliau hanya lulusan MTs, namun aku tahu, sebenarnya Bapak itu cerdas luar biasa, namun karena desakan ekonomi, maka mimpi Bapak untuk menjadi seorang guru pun sirna. Dan sekarang, mimpi itu seakan hijrah di atas pundakku.

    "Bapakmu benar, Le.." sahut Ibu. "Pak, aku ingin jujur.." kata Kakakku ikut berbicara. "Opo, Le? Silahkan jujur saja, jangan ada yang ditutup-tutupi.." jawab Bapak. "Sebenarnya aku bosan seperti ini, Pak. Aku bosan jadi orang rendahan, aku bosan diejek teman-temanku," kata Kakak sambil terisak. Bapak dan Ibu tampak menundukkan kepala, Bapak langsung mendekati Kakakku dan langsung memeluknya.

    "Maafkan bapak dan ibumu, Le. Maaf kalau kami cuma bisa memberikan yang begini-begini saja. Tiap hari bapak selalu ke sawah dengan tujuan untuk membahagiakan kalian. Bapak selalu berdoa, bahwa tiap langkah yang bapak tempuh, tiap cangkulan yang bapak lakukan dan tiap benih padi yang bapak sebarkan di sawah juragan itu akan membuat kalian lebih dekat dengan masa depan yang lebih baik.." Kakak langsung menangis tersedu-sedu, aku dan ibu juga. "Maa.. Maafkan aku, Pak. Aku telah lancang..." Kakak melepas pelukan dari Bapak, lalu menciumi tangan dan kaki Bapak yang kasar dan hitam.

    "Sudah hentikan, Le.. Tidak apa-apa, bapak tahu perasaanmu. Tapi bapak minta, ingatlah kata-kata nenekmu dulu sebelum wafat..."

    "Allah itu tak pernah memberikan cobaan, hanya saja bumi sedang berotasi lebih kuat pada saat itu. Pijakan kita belum kuat, dan akhirnya kita terguncang.." kata Bapak mengutip.

    Itu adalah salah satu kalimat yang paling kuingat dari Nenek. Beliau memang sangat bijak dan pintar merangkai kata, juga sangat paham agama karena dulu tiga tahun merantau di Arab.

    Namun sayangnya, beliau telah wafat karena tumor ganas yang menggerogoti tubuh ringkihnya. Kami tak cukup punya uang, pemerintah tak peduli pada orang kecil, dan hakikatnya maut memang sudah terlalu dekat. Dahulu waktu pertama diperiksa, dokter berkata bahwa itu cuma tumor jinak yang sangat mudah diobati. Namun dua bulan setelah itu, beliau merasakan sakit luar biasa dan harus ke rumah sakit untuk kemo terapi. Tumor yang ada di tubuh beliau sudah menjelma seperti iblis yang mengerikan. Tiga kali kemo, akhirnya beliau menyerah, tak sadarkan diri beberapa jam, lalu wafat dengan tersenyum.

    Agaknya, Tuhan memang lebih sayang kepada hamba-hambanya yang taat, saking sayangnya, Tuhan memanggil mereka lebih cepat daripada saat memanggil bangsat-bangsat yang masih berkeliaran bebas di bumi.

    Bisa kulihat dalam anganku, nenek sekarang sedang tersenyum di surga, beliau tengah berayun di ayunan pohon yang teduh dengan ditemani para bidadari yang menakjubkan.

    Mungkin, boleh saja beliau sekarang telah wafat. Namun petuah-petuah beliau akan terus hidup di hati kami, menyinari tiap sudut gelap ketika hati mulai teracuni oleh duniawi. Karena sampai kapanpun, kami sekeluarga selalu hidup bersama, sehidup sesurga.

     

  • view 543