Seminar Gerhana

Ahmad Budiman
Karya Ahmad Budiman Kategori Agama
dipublikasikan 08 Maret 2016
Seminar Gerhana

Dalam rangka menyambut fenomena gerhana matahari, Fakultas Syari?ah dan Hukum (FSH), Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema ?Gerhana dalam Perspektif Sains dan Islam?. Acara yang berlangsung pada hari Selasa tanggal 08 Maret 2016 tersebut dilaksanakan di Gedung Academic Centre UIN Raden Fatah Palembang.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Romli SA, M.Ag. selaku Dekan FSH menyampaikan bahwa setidaknya ada dua tujuan utama dari pelaksanaan seminar. Pertama, melihat dan mengetahui fenomena gerhana dalam perspektif sains atau ilmu eksakta. Kedua, mengembangkan astronomi atau ilmu falak sehingga menjadi salah satu cabang ilmu yang dapat berkembang dengan baik. Sementara itu dalam sambutan kedua, Prof. Dr. Aflatun Muchtar, M.A. selaku Rektor UIN Raden Fatah Palembang menerangkan bahwa peran UIN sebagai institusi pendikan antara lain sebagai penyeimbang antara ilmu agama (al-?ulum al-ukhrawiyah) dan ilmu dunia (al-?ulum ad-dunyawiyah). Seminar diadakan untuk menemukan kebenaran autentik di dalam Al-Qur?an yang tidak bertentangan dengan sains dan teknologi. Atau dengan kata lain, kandungan Al-Qur?an sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi.

Bertindak sebagai narasumber pertama adalah Ayub Siregar, S.T. dari Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Baltekkomdik) Provinsi Sumatera Selatan. Ayub memaparkan materi tentang simulasi gerhana matahari dalam teknologi informasi. Gerhana matahari sendiri memiliki empat jenis, yaitu total, sebagian (parsial), cincin (anular), dan hibrida (anular-total). Melalui teknologi yang dimaksud, jalur gerhana dan rupa matahari saat berlangsungnya gerhana dapat diperkirakan, termasuk sejumlah wilayah di Indonesia yang akan mengalami gerhana matahari total, antara lain di Manggar, Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, dan Ternate. ?Apa yang dapat diamati saat gerhana matahari total?? tanya Ayub kemudian. Ia menunjukkan teknologi aplikasi yang dapat digunakan, yaitu Stellarium, Celestia, dan Starry Night Pro Plus. Dalam demonstrasi yang dilakukan di layar proyektor dengan salah satu aplikasi tersebut, tampak sebagian benda langit yang berada di sekitar matahari saat langit gelap selama beberapa menit. Selain itu, ada kejadian lain yang juga bisa diamati, yaitu hilal yang diperkirakan berada di ketinggian tiga derajat.

Berlanjut ke narasumber kedua adalah Dr. Ahmad Izzuddin, M.Ag., seorang ahli ilmu falak yang sekaligus Ketua Program Studi S2 Ilmu Falak, Fakultas Syari?ah, UIN Wali Songo Semarang. Beliau juga menjabat Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak se-Indonesia. Dalam kesempatannya hadir di Palembang, ia menekankan bahwa fenomena gerhana matahari yang akan jatuh pada hari Rabu tanggal 09 Maret 2016 adalah istimewa karena satu-satunya negara di dunia yang dapat melihatnya adalah Indonesia. Keistimewaan lainnya adalah fenomena gerhana yang terjadi mirip seperti di zaman Rasulullah Saw. Hal ini dilihat dari waktu kejadian di seperempat awal pagi hari, durasi kejadian kurang lebih dua jam, dan besar piringan persentase gelap gerhana sama-sama di kisaran 80%. Banyak mitos yang beredar seputar gerhana, namun yang pasti, gerhana adalah fenomena alam yang terjadi karena posisi matahari, bulan, dan bumi, berada pada satu garis lurus. Di antara hikmah terjadinya gerhana adalah menumbuhkan rasa syukur atas kebesaran Allah Swt. Ketika gerhana berlangsung, umat muslim disunnahkan untuk menunaikan shalat gerhana, tidak hura-hura dan terlalu larut dalam euforia. Sesudah itu, saat menyaksikan proses gerhana disunnahkan membaca zikir, ?Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.? Dengan demikian, kebesaran Allah Swt. dapat benar-benar dirasakan sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya.

Seminar yang berlangsung hari itu terasa kurang lengkap karena narasumber ketiga, Drs. M. Teguh Shobri, M.Hi., berhalangan hadir. Dalam waktu bersamaan, beliau mendapatkan tugas yang sama di Pangkal Pinang, Bangka-Belitung. Beliau merupakan salah seorang ahli astronomi yang juga dosen ilmu falak di UIN Raden Fatah Palembang. Pemaparan materinya dapat diakses melalui tulisan opini di alamat berikut ini.

Menutup acara seminar, para narasumber mengingatkan untuk berhati-hati bagi siapa saja yang ingin menyaksikan proses gerhana. Gerhana bulan lebih aman daripada gerhana matahari karena pada prinsipnya adalah pemantulan cahaya. Sedangkan pada gerhana matahari, ada sebagian radiasi cahaya sehingga berpotensi mengganggu kesehatan mata.

  • view 198