Selalu Ada Harapan

Ahmad Budiman
Karya Ahmad Budiman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Selalu Ada Harapan

Sewaktu menjadi santri di salah satu pondok pesantren Jawa Barat beberapa tahun silam, sebuah pepatah Bahasa Arab dalam pelajaran Al-Mahfuzhat masih terngiang di benak saya hingga saat ini. Sebuah pepatah yang menarik perhatian bagi anak remaja beranjak dewasa. Pepatah tersebut berbunyi ?Inna fi yadi asy-syubbaani amral ummati wa fii iqdaamihaa hayaatahaa.? Sesungguhnya di tangan para pemuda terletak (segala) urusan umat dan di kaki mereka terletak (segala) kehidupan umat.

Maknanya sederhana. Yaitu bahwa para pemuda hari ini akan melanjutkan estafeta kepemimpinan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemuda-pemudi seyogianya mempersiapkan diri sematang mungkin agar kelak suatu hari dapat saling berkolaborasi membawa dan mengelola negeri, bukan saling berkompetisi. Meminjam kalimat Kaisar Romawi Marcus Aurelius, ?Jangan membuang waktu memikirkan cara orang menjadi baik, tetapi mulailah dari diri sendiri.?

Seringkali ada anggapan bahwa anak-anak muda hari ini seolah lebih peduli akan diri sendiri daripada lingkungan sekitar. Mereka cenderung mementingkan kehidupan pribadi dibandingkan harus pusing memikirkan solusi dari permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Lebih sibuk dengan perangkat teknologi, kehidupan asmara dan kedudukan sosial, dan gaya hidup yang kurang beretika. Sebenarnya, tidak demikian. Pendapat tersebut terkadang benar adanya, akan tetapi tak dapat dijadikan generalisasi.

Banyak komunitas relawan yang menjadi bukti nyata bahwa masih ada anak-anak muda yang tidak apatis dengan keadaan. Anak-anak muda yang rela bersusah payah menuju daerah pelosok nan jauh dan tak mudah didatangi, rela meluangkan waktu dan tenaga bahkan harta, serta rela berpisah dari keluarga demi tugas kemanusiaan. Menjadi relawan adalah panggilan hati, tidak ada keterpaksaan sama sekali. Dan hari ini, begitu banyak komunitas relawan baik yang berdiri sendiri maupun yang berafiliasi dengan sejumlah instansi dan organisasi.

Dalam salah satu kuliah umum di Kampus UII Yogyakarta beberapa tahun silam, Anies Baswedan yang ketika itu masih sebagai Rektor Universitas Paramadina pernah menanggapi tanya salah seorang peserta, ?Jangan selalu mengatakan kita ini sedang terpuruk. Berhenti menyalahkan kegelapan, mari bersama menyalakan cahaya.? Meski ada kekhawatiran melihat kondisi sebagian pemuda-pemudi hari ini, namun selalu ada harapan dari anak-anak muda lain yang mau bergerak. Dan kelompok anak muda ini membutuhkan dukungan untuk terus melangkah tanpa kenal lelah.

  • view 235