Sepucuk Surat untuk Badrodin Haiti

Ahmad Budiman
Karya Ahmad Budiman Kategori Lainnya
dipublikasikan 24 Februari 2016
Sepucuk Surat untuk Badrodin Haiti

Palembang, 24 Februari 2016

?

Kepada Yth.
Bapak Jenderal Polisi Drs. Badrodin Haiti
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri)
di Jakarta

?

?

Assalamu ?alaikum wr.wb.

Sebelum menyampaikan isi surat ini, saya terlebih dulu ingin memanjatkan doa agar Bapak Badrodin senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah Swt., baik kesehatan jasmani dan rohani agar dalam mengemban amanah sebagai pemimpin tertinggi di kepolisian negara ini selalu diberi kelancaran, kemudahan, dan kesuksesan. Saya mohon maaf sekiranya surat ini terkesan tidak penting dan mengganggu kesibukan Bapak Kapolri. Surat ini murni insiatif saya sendiri, tiada paksaan sama sekali dalam membuatnya selain dorongan dari hati nurani sebagai warga negara republik ini.

?

Bapak Badrodin yang terhormat,

Saya termasuk orang yang kurang suka berbasa-basi, oleh karena itu perkenankan saya untuk tidak membuang waktu dengan langsung masuk ke dalam inti. Surat ini berangkat dari pengalaman seorang sahabat ketika ia terpaksa harus berurusan dengan polisi lantaran sebuah peristiwa yang bukan murni kesalahannya. Sahabat saya ini bekerja di sebuah pabrik. Sehari-hari ia mengendarai sepeda motor dari rumah menuju pabrik, sekitar 24 kilometer jaraknya yang biasanya ditempuh kurang lebih satu jam. Ibarat kata, perjuangan hidupnya adalah dari ujung kota ke ujung lainnya. Sosoknya begitu sederhana, saya banyak belajar dari anak muda ini meski usianya terpaut beberapa tahun di bawah saya.

Saya percaya, tidak ada seorangpun yang menghendaki peristiwa itu terjadi. Pun sahabat saya, pasti ia tidak menyangka bahwa hari itu akan menjadi salah satu kejadian yang akan dikenang sepanjang usianya kelak. Pagi itu sepulang bekerja, ia melintas di salah satu ruas persimpangan jalan raya di tengah kota. Kondisi lalu lintas belum terlalu padat, seingatnya waktu itu sekitar jam enam pagi. Saat lampu berubah hijau, perlahan ia melajukan sepeda motornya. Namun tiba-tiba dari ruas jalan lain, melaju kencang sebuah sepeda motor yang berusaha menerobos lampu rambu lalu lintas. Sahabat saya sontak terkejut, sekuat tenaga ia menghentikan laju kendaraannya. Akan tetapi sepeda motor lawan agaknya terlalu kencang, tabrakan pun tak terelakkan.

Sahabat saya terhempas dari sepeda motornya. Dua lelaki yang berada di sepeda motor yang menabrak juga demikian, salah satu di antaranya sempat seperti orang kejang-kejang. Hanya yang jelas, ketiganya mengalami cedera. Peristiwa itu lalu ditangani polisi. Ketiganya dibawa ke rumah sakit yang terletak persis di salah satu sisi ruas persimpangan jalan raya untuk mendapatkan pengobatan. Saya bersyukur, sahabat saya hanya mengalami luka ringan. Sementara salah seorang, yang tadi kejang-kejang, walau kondisinya tidak terlalu parah pagi hari saat dibawa ke rumah sakit, sahabat saya bercerita bahwa siang harinya kondisi si bapak kritis dan harus dirawat di ruang ICU.

Sahabat saya sempat khawatir apabila si bapak meninggal dunia. Memang betul apabila kecelakaan sepeda motor itu adalah kesalahan si bapak yang menabrak. Pagi itu, si bapak terburu-buru hendak ke tempat kerja sebagai pekerja bangunan. Ia membonceng bapaknya dan bapaknya si bapak ini juga mengakui bahwa apa yang terjadi hari itu adalah kesalahan anaknya. Ia sudah berusaha mengingatkan untuk tidak menerobos lampu rambu lalu lintas, namun tidak diindahkan. Beberapa hari kemudian, si bapak berhasil melewati masa kritis dan dipindahkan ke ruang rawat biasa. Walau demikian, sahabat saya tetap berusaha membantu semampunya dengan urun biaya pengobatan rumah sakit. Belasan juta rupiah jumlahnya, saya tidak heran, sebagian besar biaya pasti berasal dari perawatan selama di ICU.

?

Bapak Badrodin yang terhormat,

Baik keluarga sahabat saya maupun keluarga si bapak sebenarnya sudah sepakat untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Namun sayangnya, kasus ini sudah ditangani polisi. Mau tak mau dan suka tak suka, polisi ikut andil dalam penyelesaian masalah ini. Kedua sepeda motor yang terlibat kecelakaan telah ditahan sejak pagi naas itu. Kasusnya sedang di tahap penyelidikan. Sebelum ke tahap selanjutnya, kedua pihak akhirnya memilih berdamai. Saya yakin, akal sehat manapun yang mengikuti alur cerita ini sedari awal akan menganggap bahwa permasalahan sudah selesai, selesai seselesainya secara tuntas.

Bapak tahu yang terjadi selanjutnya? Sahabat saya ini justru dimintai biaya perkara yang tidak sedikit jumlahnya. Sekitar lima juta rupiah. Sudah dua pekan sepeda motornya ditahan akibat peristiwa itu. Ketika hendak mengambil sepeda motornya yang ditahan, polisi masih meminta uang rokok. ?Punya kamu ini motor besar, lima ratus ribu sajalah,? ujar polisi yang bertugas. Seingat sahabat saya, ia baru saja mengisi bensin sebelum peristiwa kecelakaan itu terjadi, sewaktu mengambil sepeda motornya yang ditahan, tangki bensinnya sudah kering. Entah siapa yang tidak bertanggung jawab menguras isi bensin di dalamnya.

Sudah jatuh, tertimpa tangga.

Saya geram sekali mendengarnya! Di mana aplikasi Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 13 Ayat 3 tentang tugas pokok ?memberikan pengayoman, perlindungan, serta pelayanan bagi masyarakat??

Kedua pihak yang terlibat kecelakaan itu boleh dikatakan bukan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Jumlah sekian juta tersebut tentu besar sekali artinya bagi mereka. Sahabat saya waktu itu memang memiliki uang, namun sudah direncanakannya untuk keperluan berwirausaha. Tega sekali polisi berbuat demikian kepada rakyat kecil. Saya gagal paham, Pak, belum berhasil menemukan esensi uang jutaan untuk menyelesaikan kasus kecelakaan agar tidak berlanjut ke tahap persidangan. Apa yang dialami sahabat saya itu mungkin baru satu kasus dan baru sebagian kecil kejadian di negeri ini. Saya mencoba berlogika sederhana. Apabila dalam sehari 24 jam terjadi tiga kasus kecelakaan sepeda motor (cukup tiga saja yang ketahuan polisi), kemudian terjadi di 30 kota (cukup 30 kota saja se-Indonesia), dalam satu hari sedikitnya ada 90 kasus. Dan jika dikalikan lima juta, hasilnya 450 juta! Sehari. Semoga saja logika saya ini salah.

?

Bapak Badrodin yang terhormat,

Situasi lalu lintas di kota kelahiran saya memang semrawut, terutama bagi pengendara sepeda motor. Sejumlah persimpangan lampu rambu lalu lintasnya kurang dipatuhi. Lampu tersebut menyala, namun tak berfungsi apa-apa. Jika terjadi kecelakaan, sepertinya polisi senang sekali. Sebab akan mendapatkan lahan basah, ladang uang, sekalipun pihak-pihak yang terlibat sudah memilih untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Apakah ini erat kaitannya dengan isu ratusan juta rupiah harus dikeluarkan demi menjadi seorang polisi? Ah, itu hanya desas-desus, bisa benar bisa pula salah.

Saya ini hanya seorang warga negara biasa, Pak. Saya ini hanya lulusan pesantren dengan ijazah sarjana teknik yang sedang berjuang meraih beasiswa studi lanjut. Dari pemberitaan di berbagai media massa, terutama media elektronik, saya memandang Bapak Badrodin sebagai sosok yang tenang, sabar, cermat penuh perhitungan, dan tidak meledak-ledak seperti Bapak Abraham Samad atau Bapak Basuki Tjahaja Purnama. Saya percaya, Pak, masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas para pemimpinnya, terutama pemimpin tertingginya. Saya percaya, Pak, masa depan kepolisian di bawah kepemimpinan Bapak Badrodin akan lebih baik lagi sebelum Bapak sendiri memasuki masa pensiun pada 24 Juli 2016 mendatang.

Saya tidak meminta para bawahan Bapak yang bersikap tidak terpuji kepada sahabat saya itu diberikan hukuman. Toh sahabat saya sudah ikhlas, percaya bahwa yang sudah terjadi merupakan kehendak Allah dan biarlah kuasa-Nya yang memberikan ganjaran yang setimpal. Saya hanya memohon kepada Bapak agar dilakukan pembenahan sistem di kepolisian agar oknum-oknum yang berbuat tidak patut semacam ini tak lagi memainkan masyarakat dan berfungsi sesuai tugas pokoknya sebagai polisi. Sekali lagi, saya mohon maaf sekiranya surat ini terkesan tidak penting dan mengganggu kesibukan Bapak Kapolri.

Wassalamu ?alaikum wr.wb.

?

?

Hormat Saya,
Ahmad Satria Budiman

  • view 197