Ayat Ayat Cinta 2: Sebuah Perlawanan

Ahmad Budiman
Karya Ahmad Budiman Kategori Buku
dipublikasikan 22 Februari 2016
Ayat Ayat Cinta 2: Sebuah Perlawanan

Judul Buku : Ayat Ayat Cinta 2
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit : Republika (PT. Pustaka Abdi Bangsa)
Cetakan : IV, Desember 2015
Tebal : vi + 690 Halaman

?

Bagi penikmat karya sastra, siapa yang tidak mengenal Habiburrahman El Shirazy? Pada akhir tahun 2004, ia menerbitkan novel ?Ayat Ayat Cinta? yang meledak seketika di pasar buku tanah air. Hingga Maret 2008, novel tersebut tercatat memasuki cetakan ke-41. Jumlah terbitnya sampai hari ini melebihi satu juta eksemplar. Sutradara Hanung Bramantyo pun mengangkatnya ke layar lebar. Sebelas tahun kemudian, Kang Abik ?demikian sapaan akrab sang novelis? merampungkan kelanjutan kisah hidup Fahri setelah bebas dari penjara Mesir dalam ?Ayat Ayat Cinta 2?.

Fahri Abdullah, dikisahkan menjadi staf pengajar di The University of Edinburgh, Britania Raya (Inggris). Setelah menyelesaikan tesis magister di Pakistan dan melanjutkan program doktor di Jerman, ia melanjutkan postdoctoral research di bidang filologi dengan bimbingan seorang supervisor bernama Profesor Charlotte Brewster. Sesekali, lulusan Al-Azhar Kairo yang mahir berbahasa Arab, Inggris, Turki, dan Jerman ini diminta oleh sang profesor menggantikan tugas mengajar di dalam kelas. Kemampuan menulis artikel ilmiah di jurnal-jurnal internasional juga menarik minat seorang profesor lain untuk mengangkat Fahri menjadi peneliti di sebuah pusat studi.

Fahri tinggal di suatu komplek perumahan di selatan Kota Musselburgh. Jaraknya menuju kampus tak lebih dari setengah jam bermobil dalam kondisi jalan bebas kemacetan. Anak penjual tape dari Jawa Timur ini hidup berdua dengan Paman Hulusi, seorang asisten sekaligus sopir pribadi yang telah bertahun-tahun mendampinginya sejak tinggal bersama Aisha di Jerman. Ia hidup bertetangga dengan sepuluh rumah lain, dua yang paling dekat adalah perempuan Yahudi lanjut usia bernama Nenek Catarina dan wanita Kristen paruh baya bernama Nyonya Janet dengan kedua anaknya yang berbeda ayah, Keira dan Jason.

Baik Keira maupun Jason, keduanya begitu membenci Fahri hanya karena identitas sebagai seorang muslim. Berkali-kali Fahri menawarkan kebaikan, namun keduanya tetap bersikap dingin dan menunjukkan permusuhan.

Selain disibukkan kegiatan akademik, Fahri memiliki bisnis minimarket, restoran halal, dan butik mahal. Di salah satu minimarket tersebut, Jason kerap tertangkap basah kamera pengawas sedang mencuri cokelat. Bukan sekali-dua kali, melainkan berkali-kali. Dalam kesempatan yang lain, Paman Hulusi dan Fahri sering mendapati coretan-coretan kasar di kaca mobil ketika hendak sembahyang Shubuh berjamaah di Edinburgh Central Mosque. Setelah dipasang kamera pengawas, akhirnya mereka tahu pelaku vandalisme tersebut.

?Hoca terlalu sabar. Hoca terlalu baik dan pemurah,? sering kali Paman Hulusi berkata demikian saat Fahri tidak bertindak tegas terhadap beberapa kejadian yang bagi orang awam menimbulkan emosi. Fahri tidak melaporkan aksi anak tetangganya ke polisi, justru mengajak Jason menjadi kawan dekat dan membiayai pendidikannya, tentu dengan mengajukan persyaratan yang harus dipenuhi. Fahri melakukan hal yang sama terhadap kakak tiri Jason. Dengan bantuan beberapa orang untuk menutupi identitas sebagai donatur tunggal, Fahri berhasil membawa Keira menjadi pemain biola internasional.

Kebencian tidak harus dibalas dengan kebencian, namun ia diselesaikan dengan mencari akar permasalahan. Fahri menyadari, Bom London 7 Juli 2005 yang merenggut nyawa ayah Keira adalah akar masalah kebencian kedua anak muda di Stoneyhill Groove itu. Pelakunya sekelompok muslim. Oleh karenanya, Fahri berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan citra muslim di mata Keira dan Jason dengan langkah-langkah bersahabat.

Kisah Fahri dengan Keira dan Jason hanyalah sebagian kecil isi novel ini. Ada kisah-kisah lain sarat makna dari kehidupan Fahri di Inggris, seperti bagaimana ia mengantar Nenek Catarina ke sinagog untuk beribadah, memperhatikan kesehatan nenek yang hidup sebatang kara itu, dan menyelamatkan rumah Nenek Catarina yang diusir oleh anak tirinya sendiri. Kisah lain yang tak kalah mengagumkan adalah ketika Fahri menolong seorang perempuan tunawisma buruk rupa bernama Sabina yang pingsan di St. Andrew Square, menanggung seluruh biaya pengobatannya, dan mengajak Sabina untuk tinggal bersama di rumah demi memperbaiki citra umat muslim sebagai kaum minoritas.

Karir akademik Fahri pun semakin cemerlang. Intelektual muda Indonesia itu diceritakan mengikuti debat ilmiah di Oxford Debating Union, sebuah forum debat paling prestisius di Britania Raya. Forum yang dimaksud biasanya diikuti orang-orang penting, seperti presiden Amerika Serikat, perdana menteri Inggris, dan tokoh-tokoh terkemuka di dunia. Sukses berdebat, Fahri mendapatkan tawaran mengajar di Oxford University. Dalam waktu singkat, ia menjadi dosen paling menyedot perhatian mahasiswa dan media. Namun sedari awal membaca novel ini, sebenarnya kita disuguhi sebuah pertanyaan mendasar, ?Apa yang terjadi dengan Aisha??

Meski tampak sebagai pribadi sempurna, Fahri rapuh oleh cinta. Bertahun-tahun pencarian terhadap Aisha yang hilang tidak membuahkan hasil. Sering ia dilanda kesedihan mendalam saat menemukan hal-hal yang berhubungan dengan istrinya. Hingga orang-orang terdekat mengingatkan bahwa hidup membujang dalam waktu lama itu tidak baik. Tawaran jodoh pertama kali datang dari Syaikh Utsman, guru semasa di Kairo dulu. Tawaran lain datang dari keluarga besar Aisha. Hingga sebuah SMS dari seorang muslimah mengusik Fahri, ?Kenapa sunnah Nabi terhalang oleh sebuah kerinduan tak jelas yang berlebihan? Bukankah berlebih-lebihan itu tidak baik dalam ajaran agama kita??

Tidak jauh berbeda dengan novel yang pertama, ?Ayat Ayat Cinta 2? masih membuat Kang Abik dihampiri pertanyaan serupa, ?Adakah orang sesempurna Fahri?? Dalam salah satu bedah novelnya, dosen dan sastrawan kelahiran Semarang, 30 September 1976 ini menuturkan bahwa sosok Fahri tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan hidup di zaman Imam Nawawi dan Imam Syafi?i. Tokoh Perubahan Indonesia 2007 versi Harian Republika yang tinggal di Salatiga ini menghadirkan Fahri untuk melakukan perlawanan karena anak-anak muda hari ini dikepung oleh contoh-contoh tidak jelas yang menjadi polusi bagi cara berpikir dan beridealisme. ?Kalau Fahri sudah dianggap manusia langka, generasi macam apa yang kita harapkan?? lanjut Kang Abik.

Jika dicermati, sebenarnya pembaca dapat menemukan rahasia kesempurnaan perilaku Fahri. Banyak kebiasaan yang menjadi qudwah hasanah dalam diri Fahri. Salah satu seperti digambarkan novel ini adalah senantiasa menunaikan sembahyang tepat waktu. Teladan baik lainnya adalah menjaga wirid harian membaca Al-Qur?an, baik dengan mushaf ataupun hafalan. Setiap hari lima juz, sehingga dalam enam hari khatam 30 juz.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan, karya sastra ini sudah tepat dikatakan sebagai novel pembangun jiwa. Sebab isinya tidak melulu soal cinta seperti judulnya, tidak sebatas pada etika hidup bertetangga. Ada pembahasan mengenai perbandingan agama, konsep amalek, jual beli barang haram di negara nonmuslim, fikih peradaban, teologi agama, zuhud, dan hukum transplantasi organ tubuh manusia. Semua dikemas apik oleh Kang Abik dengan bahasa deskriptif dalam bingkai cerita. Penulis resensi mengucapkan terima kasih untuk terbitnya novel ini, semoga ada banyak nilai gizi yang dapat dicerna jiwa usai melahapnya di waktu-waktu senggang. Selamat membaca.

?

  • view 370