Melampaui Agama, Menyibak Kesadaran

Melampaui Agama, Menyibak Kesadaran

Indra  Yudistira
Karya Indra  Yudistira Kategori Filsafat
dipublikasikan 27 Mei 2016
Melampaui Agama, Menyibak Kesadaran

Oleh : Indra Yudistira

Tuhan adalah kesaksian dirinya” (QS.Ali Imran : 18)

Kenapa hal yang paling menonjol dalam kehidupaan manusia modern adalah “agama dan keyakinan spiritual?” karena dua topik inilah yang mendasari terbentuk berbagai macam peradaban. Dua hal ini dihasilkan oleh adanya sesusatu yang bersifa swanyata atau aksiomatis dalam diri manusia. Bahwa manusia “sadar” tetang kedirian dan keberadaannya. Kesadaran manusia tentang kediri-annya telah merangsang munculnya pertanyaan tentang asal muasal, alasan dan tujuan dari kehidupan. Dengan kesadaran ini manusia mengenal Tuhan berdasarkan informasi yang mereka terima dari orang-orang yang mencapai tingkat “kesadaran maksimal”. Walaupun banyak saintis atau orang-orang yang berpijak pada pandangan materialisme yang menyangkal eksistensi segala sesuatu yang abstrak. Namun sesungguhnya mereka tidak dapat menolak kenyataan bahwa setiap manusia sesungguhnya menyadari keberadaan dirinya. Kesadaran Inilah yang mendasari keseluruhan aktivitas manusia dalam kehidupan. Namun kesadaran manusia terhadap dirinya tidaklah seragam. Inilah yang membuat perbedaan muncul ditengah-tengah masyarakat baik perbedaan secara intelektual maupun spiritual. Kesadaran kediri-an ini bersifat sangat abstrak sehingga tidak dapat diukur dengan menggunakan ukuran-ukuran kualitas apalagi kuantitas. Sifat abstrak dari “kesadaran” dalam bahasa filsafat digolongkan dalam pembahasan “transendentalisme” atau ke-ilahian.

Pandangan ke-ilahian atau pandangan dunia Ketuhanan adalah pandangan yang meyakini bahwa keberadaan alam semesta ini sesungguhnya ditopang oleh sebuah kenyataan yang lebih tinggi yang melampaui kategori-kategori yang difahami manusia secara nalar. Pernyataan ini sangat memiliki bukti. Contohnya adalah, dalam sisi ilmu pengetahuan modern kita mengenal adanya kaidah yang mengatakan bahwa setiap ilmuan harus menerapkan penalaran logis dalam menafsirkan hasil eksperimennya. Penalaran logis adalah berbicara mengenai “kategori-kategori”. Sumber dari kategori-kategori ini sendiri dapat diekspresikan secara material misalnya dalam contoh penjumlahan benda-benda material. Namun “kategori” dari sisi subtansinya sendiri bukanlah bersifat material, melainkan bersifat abstrak. Contohnya, realitas dari kategori “kualitas” tidak kita temui dialam material, begitu juga “kuantitas” (alias tidak ada materinya) namun keduanya adalah sebuah “kenyataan mental”.

Kedua hal ini bukan hanya kata, tapi sebuah kenyataan “Universal” yang nalar dalam logika harus tunduk pada kategori-kategori ini. Pertanyaanya, jika kaum materialis hanya meyakini bahwa kenyataan yang ada dialam semesta hanya yang bersifat material, maka darimanakah mereka bisa mendapatkan “kategori-kategori” ini?, para saintis akan menjawab, mereka melakukan proses abstraksi dari kenyataan material. Tepat!. Sekalipun para materialis ini hanya meyakini bahwa yang eksis hanya materi, mereka tidak dapat menolak kenyataan bahwa ketika yang bersifat materi ini mau “di abadikan”, maka dia harus di abstraksi. Hukum-hukum fisis seperti fisika, kimia dan biologi tidak bisa bersifat reduksionis. Hukum-hukum ini harus bersifat “universal”. Proses eksperiment yang dilakukan para saintis dalam usaha menemukan sebuah watak dari kejadian fisis adalah untuk tujuan menemukan “kaidah universal”. Inilah cara saintis dalam meng-abadikan sebuah kejadian fisis yang partikular untuk dijadikan hukum-hukum fisis seperti misalnya hukum gravitasi, coloumb, mekanikan dan quantum. Dari sini dapat difahami, bahwa walaupun para materialis tidak meyakini adanya kenyataan yang bukan bersifat material, tapi secara tak sadar mereka tidak dapat lepas dari kebergantungan terhadap kenyataan abstrak ini. Sifat kenyataan abstrak tidak dapat dikendalikan, karena kenyataannya lebih tinggi dari pada alam materi. Ketika manusia melakukan proses abstraksi, sebenarnya dirinya sedang melakukan proses “melampaui” dirinya. Yakni melucuti sifat-sifat kematerialnya. Ketika dia berfikir, sebenarnya dia sedang masuk ke-alam “konsep” yang bukan material. Masalahnya, kemampuan manusia untuk berfikir dan memunculkan “konsep mental” dalam dirinya tidak serta merta muncul begitu saja. Sebelum berfikir, manusia haruslah terlebih dahulu memilki “modal” untuk berfikir. Modal ini adalah “kesadaran” itu sendiri. Sadar tentang apa? Yakni sadar tentang adanya kenyataan tertinggi.

Jadi sebenarnya “kesadaran” adalah padanan kata dari “kenyataan tertinggi”, kenyataan tertinggi tentang apa? Tentulah tentang “yang ada dan yang benar”. “kesadaran” tidak bisa dikonseptualisasikan, justru “konsep-konsep” sangat bergantung pada eksistensi kesadaran. Bukti bahwa “kesadaran” tidak bisa di konseptualisasikan adalah dirinya tidak bisa didefinisikan, begitu juga “kebenaran, ada dan kenyataan” tidak dapat didefinisikan atau dijelaskan( sebenarnya ketiganya adalah satu, buktinya maknanya sama) . Karena seluruh defniisi dan penjelasan justru bersumber darinya. Definisi menunjukkan adanya “dualitas” dalam suatu subtansi. Dalam suatu subtansi terdapat “spesies dan diferentia”. Karena itu defnisi adalah kisah tentang segala sesuatu yang bersifat “terangkap, atau berkomposisi”, segala yang bersifat berkomposisi adalah entitas-entitas yang “bergantung”. Karena kesadaran tidak terkomposisi, maka kesadaran tidak mungkin dapat dicapai dengan pembentukan konsep dalam fikiran. Dengan menguatnya kesadaran, maka fikiran manusia akan lebih tertata. Kalau tidak ada kesadaran, maka manusia tidak akan memiliki pengetahuan, ketika manusia tidak memiliki pengetahuan, maka peradaban tidak akan terbentuk. Nah karena “kesadaran” tidak bergantung pada apapun, maka ia bersifat mandiri, karena ia bersifat mandiri maka ia bersifat transenden (melampau materi). Dari sini dapat dibuktikan bahwa kesadaran tak dapat dikonsepsi karena itu kesadaran adalah realitas transendens.

Kualitas kesadaran manusia berbanding lurus dengan kualitas fikirannya. Kualitas fikiran manusia menentukan kualitas perbuatannya. Nah, konsep-konsep dan perbuatan manusia ini termanifestasi dari kulitas “kesadaran”. Lalu bagaimana untuk mencapai kesadaran?. Jalannya adalah dengan laku kontemplatif seperti ibadah yang diajarkan oleh agama dan meningkatkan kualitas moral. Laku kontemplatif adalah upaya seseorang untuk masuk kedalam dirinya sendiri yang merupakan inti dari kesadaran sedangkan prilaku moral bertujuan melatih kesadaran dalam tindakan. Bagaiamana laku kontemplatif dan kualitas moral dapat meningkat?, yakni dengan menghilangkan kotoran batin. Kotoran batin apa yang harus di lenyapkan?, yakni Kemarahan, kebencian, dan rasa paling benar sendiri. Kenapa begitu? Karena tiga kotoran batin diatas adalah dasar dari sifat sombong. Sifat sombong adalah penghalang utama keberhasilan dari laku kontemplasi dan peningkatan moralitas. Lemahnya hasil dari laku kontemplasi dan moralitas memunculkan lemahnya kesadaran yang berujung pada lemahnya kekuatan dalam pengendalian diri. Ketika seseorang memiliki kelemahahan dalam pengendalian diri, selamanya dirinya tak akan mengenal Tuhan. Selamanya orang-orang yang terbenam dalam ketidaksadaran akan menganggap penampilan dan kata-kata religius, serta semboyan-semboyannya sebagai puncak dari keber-agama-an. Selamanya pula orang-orang ini akan mengangkat bendera kemarahan, kebencian dan kesombongan. Dan selamanya pula orang-orang bodoh alias tidak sadar akan mengikuti mereka.

 

  • view 214