Sejarah, dan Misteri, Manusia dan Tuhan

Indra  Yudistira
Karya Indra  Yudistira Kategori Filsafat
dipublikasikan 25 Mei 2016
Sejarah, dan Misteri, Manusia dan Tuhan

Zaman baru telah lahir

Tapi menemui orang-orang kerdil

_Hatta_

 Tiada yang dapat mengapresiasi alam semesta sebaik manusia. Jika manusia tidak ada, kita hanya akan menemukan ketidak berartian abadi dan kebosanan tanpa batas. Kita tidak pernah dapat membayangkan jika alam semesta eksis tanpa ada yang menafsirkan keberadaannya. Tiada hukum-hukum fisis yang dapat diilustrasikan, dan tiada cerita tentang gravitasi. Manusia telah menjadi cerita inti dalam kitab kosmos. Manusia telah menceritakan dirinya sendiri bahkan alam semesta yang melingkupi nya. Tidak pernah terbesit satu micro-detikpun dalam fikiran kita tentang bagaimana jadinya, seandainya manusia tidak memiliki kemungkinan untuk dapat eksis di alam semesta. Namun cerita manusia tentang dirinya, tidak sebaik cerita tentang alam semesta yang diceritakan oleh manusia itu sendiri. Manusia telah menjadikan dirinya sebagai benda asing yang sulit dipahami. Manusia mencari tentang hakikat dirinya jauh ke tapal batas kosmik. Pengembaraan manusia yang terlalu jauh ini membuatnya merasa letih untuk kembali. Orang-orang datang dan pergi, kesengsaraan dan penderitaan telah menjadi bab utama dan paling tebal dalam kisah-kisah epik sejarah. Mereka yang datang sebagian menjadi penguasa atau yang di kuasai, dan yang pergi memenuhi pekuburan-pekuburan. Tidak ada yang tersisa bagi manusia kecuali rahasia besar yang tersembunyi jauh di dasar dirinya, dan drama penderitaan. Orang-orang arif pun datang dan pergi, sebagian di dengar dan sebagian dibunuh atau dilecehkan. Para peniru pun datang dan mendapatkan pengikut paling banyak dari quorum penduduk bumi. Orang arif mengajak manusia mengenal diri dan potensi-potensinya. Para peniru mengajak manusia mengenal hasrat dan cara memenuhinya. Orang-orang arif datang dan pergi, para peniru pun datang dan pergi. Namun rahasia tetap menjadi rahasia. Manusia masih belum menemukan dirinya.

Pada mulanya, setiap kita adalah unsur-unsur yang terkandung dalam alam semesta. Dalam sebuah proses yang sulit dijelaskan, kita muncul sebagai sosok makhluk hidup biologis yang berjalan tegap. Menatap kelangit dengan berani. Bukan hanya menatap kelangit dengan berani, kita juga bertanya tentang sebuah pertanyaan yang tidak pernah terfikirkan oleh satu helai bulu landak sekalipun. Kita bertanya tentang asal-usul semua ini. Bukan hanya bertanya tentang asal-usul, kita juga bertanya tentang tujuannya. Maka manusia mulai berfilsafat dan sebagian lagi membuat rumah ibadah, dan sebagian lagi meracau. Mereka berfikir tentang sesuatu bahkan yang paling sulit untuk difikirkan, bukan hanya paling sulit untuk di fikirkan, bahkan paling sulit untuk dimengerti. Fikiran-fikiran ini telah melahirkan peradaban, hukum-hukum produksi dan konsumsi, tata aturan sipil, seni, tangga nada, lirik-lirik puisi dan kisah-kisah percintaan. Orang-orang bijak muncul dalam buku sejarah dan paling banyak diceritakan di sekolah-sekolah.

Thales, lelaki tua yang konon adalah seorang pemikir yang menaruh perhatian pada bintang-bintang dilangit. Fikirannya melukis peta tata surya dan jalan yang dilalui oleh benda-benda langit. Ketakjubannya pada jalur-jalur perlintasan benda-benda langit telah merangsang dirinya untuk berfikir, untuk apa keteraturan kosmik ini direalisasikan?. Ada rahasia apa dari hubungan-hubungan tak kasat mata dari setiap entitas materi yang majemuk di alam semesta ini. pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh semua manusia sebelum sebagian mereka menyebah arca. Thales pun pergi, tanpa sempat meninggalkan pesan tentang jawaban dari pertanyaan yang di nantikan oleh banyak orang. Ia pergi begitu saja. Tidak ada yang tersisa kecuali ocehannya tentang watak beberapa planet dan beberapa aturan musim. Selebihnya hanyalah kisah-kisah yang juga diceritakan oleh para penceramah atau para pengacara.

Beberapa waktu setelah kematiannya, beberapa orang cerdas muncul di athena, sebagian mereka memang ada yang begitu bijak, sebagian hanya sekedar cerdas, dan sebagian lagi bahkan yang hanya berpura-pura pandai. Seorang lelaki tua dengan jenggot yang lebat memberi kuliah yang membuat anak-anak muda terlalu banyak berbicara. Dialah socrates, orang bijak yang tidak mampu berbuat apa-apa terhadap istrinya yang cerwet. Kelak di kemudian hari, beberapa orang penuh dengki menuduhnya macam-macam sekaligus menghukum mati Socrates dengan memerintahkannya minum racun. Namun ia telah meninggalkan warisan berharga. Dua orang muridnya yang brilian, Platon dan Aristoteles mengambil alih peran gurunya dihadapan masyarakat hingga melintasi zamannya. Kedua lelaki yang akhirnya juga menjadi tua ini menjadi inspirasi bagi orang-orang bijak di kemudian hari. Dari keduanya, peradaban dunia berangsur-angsur mengalami kemajuan.

Di belahan bumi timur, seorang lelaki tua muncul menjadi pengajar bagi beberapa murid. Ia berbicara tentang bagaimana sharusnya manusia hidup dengan layak, agar dapat membedakan dirinya dari unggas musim dingin. Lao Tse, pria yang namanya susah di eja ini mengajarkan tentang betapa seharusnya manusia menjaga keseimbangan. Keseimbangan adalah inti dari alfabet kosmik. Ia mengajarkan banyak raja dan para pedagang untuk bisa berjaya denan cara yang selembut-lembutnya dan secerdas-cerdasnya. Sebagian murid-muridnya menjadi penyembuh, jago kungfu, atau bahkan penyair. Lao tse pun pergi, ia meninggalkn jejak yang mungki saja berguna bagi sebagian besar manusia. Tapi tetap saja, rahasia masih menjadi rahasia.

Di tanah yang diberkati, ratusan abad berlalu. Para Nabi dan pewarta langit turun ke bumi, menjadi saksi bagi altar khayangan bahwa penguasa jagat raya bernama Tuhan. Mereka mengajarkan kejernihan batin da keluhuran moral. Rumah-rumah ibadah berdiri. Tuhan telah disembah, namun manusia hingga kini masih bertengkar tentang siapa yang paling pantas disebut hamba Tuhan. Sekali lagi, rahasia masih menjadi rahasia. Manusia gagal menemukan jati dirinya. Mereka mengenal alam semesta dan Tuhan, tapi kembali lupa tetang dirinya. Ajaran para Nabi telah dilupakan dan kitab suci telah salah ditafsirkan. Agama berubah menjadi brigade-brigade militer dan komunitas-komunitas petempur.

Dibelahan bumi lain, tempat sang Krisna menjejakkan kakinya dan mengajarkan keluhuran akhlak pada Yudistira, di bumi kavilavastu. Seorang putra raja yang jernih batinnya menemukan hakikat alam semesta. Setelah beribu kalpa berlalu rahasia maha agung yang tersembunyikan terkuak. Sidartha Gautama Budha. Ia mengajarkan tentang jalan kembali kepada atman, kejalan kemutlakan tanpa pengkondisian melalui jalan pengendalian diri. Bukan hanya rahasia semesta kosmik material yang dapat terkuak melalui jalan yang diajarkannya, namun ribuan petala langit dan semesta tak kasat mata akan dapat disibak, bahkan diri manusia itu sendiri. 15000 orang suci muncul dari pembabaran khotbah agungnya. Semuanya menyebar keseantero dunia. Vihara-vihara berdiri. Dan ajaran agung ini hanya berakhir menjadi arca. Rahasia tetap menjadi rahasia. Sebagian orang saja yang dapat menyibaknya, namun bingung untuk menjelaskannya.

Di belahan barat sana, para filosof muncul, mereka berdiskusi dimeja-meja kafe. Berbicara tentang sesuatu yang agung. Tentang masyarakat mulia. Tentang tatanan yang seimbang. Tentang jiwa manusia. Tentang hakikat Tuhan dan alam semesta. Tapi kemudian mereka pulang dan menyumpahi lawan diskusinya. Bagaimana sebuah rahasia maha agung dapat terkuat dengan cara konyol seperti ini.

  • view 196