Sekeping kebenaran yang tak Membuat Setan Menjadi Risau

Indra  Yudistira
Karya Indra  Yudistira Kategori Filsafat
dipublikasikan 13 Mei 2016
Sekeping kebenaran yang tak Membuat Setan Menjadi Risau

Suatu hari setan berjalan bersama temannya, kemudian di jalan mereka melihat seorang lelaki memungut sesuatu. Teman setan bertanya kepada setan “apa yang di pungut lelaki itu?”, setan menjawab “sekeping kebenaran”, teman setan bertanya lagi “apa kau tak risau dengan hal itu”, Setan menjawab “biarkan, aku akan menjadikan yang sekeping itu, sebagai agama baginya”.

Kisah ini adalah anekdot sederhana yang bersumber tradisi Zhen . Cerita ini kadang membuat bingung sebagian orang dan bertanya-tanya tentang nilai apa yang terdapat dalam kisah singkat yang sedikit sarkastik ini.

Sebenarnya kisah ini hanya bicara tentang tiga topik. Yakni setan yg dalam hal ini bermakna keburukan, kedua manusia dan ketiga kebenaran. Bahkan kalau mau disempitkan lagi Inti dari cerita ini malah hanya berbicara tentang satuhal, yakni kebenaran. Manusia dan setan hanyalah tokoh dalam cerita ini.

Semua orang menginginkan kebenaran. Ini premis aksiomatis. Orang paling celaka pun menginginkannya. Hanya saja ceritanya mulai beda ketika kita bicara tentang bagamana cara orang mencapainya. Ribuan darah mengucur, kota-kota hancur, peperangan di kobarkan dan peradaban luluh lantak juga terealisasi karena motivasi manusia terhadap benda ini. Begitu berharganya kebenaran, sehingga manusia rela melakukan apapun untuk mendapatkanya dan kemudian mempertahankannya.

Kebanyakan orang mencapai kebenaran melalui pola dan cara tertentu. Biasanya dengan cara dan pola ini mereka berkomunitas. Muncul hirarki sosial diantara mereka yang ber-efek sangat ideologis dan menentukan prilaku sosial mereka.

Mereka menyebut ini sebagai “agama”. Yah, agama memberi suatu identitas baru bagi para pencinta kebenaran. Mereka saling membangun dan berinteraksi dengan batasan-batasan yang ditetapkan dalam agama ini. Agama tidak selalu harus bersifat teologis. Agama secara praktis adalah sebuah pola dan metodologi tertentu untuk mencapai kenyataan tertinggi.

Agama tidak selalu harus diasosiasikan dengan seperangkat teologi, karena tidak semua agama memiliki teologi seperti kaum Budha dan Jainis misalnya. Karena ini maka sebenarnya agama adalah sebuah pembatasan yang dibentuk oleh kemapanan struktur sosial dengan tujuan mendefinisikan kebenaran dan menetapkannya sebagai sesuatu yang begini dan begitu. Sekali lagi ini kesimpulan praktis penulis terhadap agama dari aspek fenomenologinya.

Mengenai agama secara hakiki, kita akan membahasnya lain kali. Namun, benarkah agama telah memiliki kemampuan yang memadai untuk menjamin manusia telah benar-benar sampai kepada kebenaran? Ataukah kebenaran yang diklaim oleh agama telah merupakan benar-benar sebuah kebenaran yang utuh?. Jangan-jangan yang hanya sekeping itu tadi, yang bahkan tidak membuat setan risau.

Bicara soal kebenaran, tidak banyak yang menyadari bahwa subjek ini tidak dapat didefinisikan sama sekali. Tak satupun filosof ataupun ahli ilmu pengetahuan yang berani memberikan penjelasan tentang kalimat sederhana ini. karena begitu jelasnya kenyataanya. “saking” jelasnya, sehingga kadang manusia tidak menyadarinya.

Manusia memang kadang sering kali tidak sadar dengan hal-hal yang tampak begitu jelas dihadapannya. Kebenaran merupakan satu padanan kata dengan apa yang disebut sebagai “kenyataan”. Yah inilah yang dicari oleh manusia. “kenyataan”. Tak banyak juga yang menyadari bahwa kenyataan juga tak dapat dibatasi dengan definisi dan penjelasan. Karena begitu tidak terbatasnya kebenaran sampai-sampai kita tidak dapat membatasinya.

Sebagian kita menjadi seperti seorang lelaki yang memungut kepingan dari ketidak terbatasan kebenaran, yang bahkan tidak membuat setan risau. Kepingan-kepingan kebenaran ini merupakan kebenaran yang telah dikapling menjadi bagian-bagian. Inilah agama. Kalau berpijak dengan pola penalaran ini, maka dapat disimpulkan bahwa agama (maksud saya secara fenomenologis) adalah sebuah tindakan dalam upaya melakukan pembatasan terhadap “kebenaran” atau “kenyataan”, dan ini sangat ilusif.

Selemah inikah agama dalam mengantarkan manusia dalam mengenal kebenaran?. Jawabnya adalah tidak juga. Penulis hanya menceritakan fenomena beragama. Bukan agama dalam makna hakikinya. Agama dalam makna hakiki seharusnya tidak seperti ini. kita mengetahui bahwa semua bentuk kenyataan didunia ini bergantung pada kosa kata untuk dapat dibicarakan dan kosa kata berkembang. Ada dua keadaan ketika bahasa berkembang.

Pertama pemahaman manusia yang pengaruhi bahasa atau bahasa yang berubah sejauh pemahaman manusia. Karena agama adalah kosa kata yang digunakan oleh manusia, maka agama juga bagian yang terjatuh dalam perluasan atau penyempitan makna. Celakanya, secara fenomenologi, kosa kata agama ini telah begitu jatuh jauh dalam proses penyempitan makna. Agama yang begitu luas yang bermakna keteraturan atau keseimbangan telah menyempit menjadi “segerombolan”, “sekelompok” sertea “mereka dan kami”.

Suatu pola keberagamaan tertentu memiliki sifat resistensi sekaligus agresif terahdap pola keberagamaan lain. Setiap agama saling menegasikan yang mengantarkan masyarakat beragama pada kebingungan nilai. Untuk mengatasi apa yang penulis sebut “kebingungan nilai” ini, maka orang-orang menerapkan doktrin yang berkonsekwensi sangat mendasar, yakni “keselamatan”.

Eskatologi yang tadinya merupakan hasil capaian spiritual orang-orang suci, ditangan agamawan berubah menjadi cerita-cerita yang mempersuasi sekaligus mengancam. Muncullah sikap misonarisme dan antipati terhadap kelompok dan individu-individu agama lain. Praktis agama benar-benar seperti yang disebutkan dalam cerita diatas tadi.

Sendi-sendi agama yang awalnya bertujuan mengantarkan manusia kepada kesadaran untuk dapat mencapai pencerahan sempurna dan menemui kenyataan tertinggi, hari ini malah hanya menjadi jargon-jargon politik, identitas sosial, dan tradisi-tradisi komunal. Orang-orang yang melihat agama secara fenomenologis saja akan sampai pada tahap frustasi dan pesimis yang mendalam terhadap agama. Apalagi pola keberagamaan yang seperti ini begitu dominan saat ini. Singkatnya, kita menemukan bahwa agama saat ini menjadi bagian yang terlibat dalam konflik. Agama semakin jauh dari cita-citanya.

Melihat kenyataan ini, sebaiknya orang-orang beragama kembali melakukan refleksi. Minimal mengurangi sifat agresif dalam memaksakan sebentuk keyakinan agama tertentu pada pola keberagamaan lain atau kepada sebuah masyarakat yang berpola heterogen dan mulai untuk berfikir bagaimana merealisasikan cita-cita tertinggi agama. Minimal menyadari bahwa Kata-kata yang mengungkap kebenaran dalam tradisi agama hanyalah tafsir sekian tafsir dari kebenaran.

Ada suatu tujuan luhur agama yang terlalu lama dilupakan, yakni mencapai kesadaran terhadap kenyataan tertinggi. Hal ini hanya dapat dilakukaan jika kaum beragama bersifat instropektif ketimbang ekstropektif. Sifat instropektif memungkin setiap individu beragama mengungkap kenyataan yang tak taerbatas. Bahwa kebenaran bukanlah klaim. Tapi kenyataan itu sendiri, dan kenyataan haruslah dirasakan, bukan diperdebatkan atau dipaksa-paksakan.