Teologi Iblis

Indra  Yudistira
Karya Indra  Yudistira Kategori Agama
dipublikasikan 13 Mei 2016
Teologi Iblis

Iblis berusaha menanjapkan pilarnya hingga kejantung agama -anekdot-

Godaan iblis terhadap adam dan hawa ketika merayu keduanya bukanlah tentang manis dan nikmatnya buah khuldi, tapi tentang efek-efek spiritual buah khuldi terhadap kemajuan ruhani adam dan hawa. Dalam tradisi bible dikatakan bahwa ular merayu Hawa tentang betapa buah khuldi dapat membuat mereka memiliki kesamaan dengan Allah.

Sekali lagi ini bukanlah godaan-godaan Duniawi. Seorang yang berjalan menuju Tuhan, rentan dengan godaan-godaan jenis ini yang akan menjerumuskannya dalam kekafiran. Maka jangan heran jika kita sering menemukan gerombolan orang yang menggunakan simbol-simbol agama untuk memprovokasi untuk menyerang kelompk lain dengna tuduhan-tuduhan atau bahkan serangan fisik yang menyebabkan hilangnya harta dan nyawa. Jangan heran, sebab iblis sudah melakukan hal yang sama berkali-kali.

Keimanan tidak ditandai dengan sikap yang keras terhadap orang lain dalam menjalankan kewajiban-kewajiban religius. keimanan ditandai dengan kesungguhan menjalankan perintah Tuhan adalah akhlak yang terpuji. Dalam Al Qur’an dikatakan bahwa Allah mengutus Rosululloh SAW sebagai rahmat bagi alam semesta. Rahmat tidak pernah bisa turun secara bersamaan dengan kemarahan dan angkara murka. Kalimat ini begitu sederhana namun memiliki makna dan kandungan yang mendalam.

Rahmat adalah alasan kenapa alam semesta diciptakan dan para Nabi di utus. Lalu siapa kita yang tiba-tiba berdiri dihadapan manusia sebagai hakim yang menentukan seseorang atau sekelompok manusia sebagai gerombolan yang dikutuk oleh Tuhan?.

Jika Tuhan saja mengatakan bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya. Lalu siapa kita yang mendahulukan murka kita ketimbang belas kasih?. Jika agama yang kita yakini mendorong kita untuk menerapkan kemarahan dan kebencian terhadap orang lain, maka sesungguhnya agama ini tidak sedang menyembah Tuhan, melainkan iblis.

Iblislah makhluk religius yang pertama kali menjadikan angkara murka sebagai jalan interaksinya terahdap hamba Tuhan yang lain yakni adam. Iblislah makhluk dengan capaian ma’rifatullah tertinggi yang menjadikan kecongkakan sebagai dalih untuk tidak tunduk pada perintah Tuhan yakni bersujud kepada Adama. Jadi jangan bangga sudah beragama, minimal berusahalah untuk cemas,  jika agama yang kita yakini hanya mengantarkan kita kepada sikap arogan dan kesombongan yang merupakan ciri dari kegelapan batin.

 

 

  • view 188