Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Filsafat 13 Mei 2016   10:49 WIB
Agama yang Paling Benar

Suatu hari Tuhan berfirman kepada Musa. “wahai Musa, carilah satu makhluk yang paling hina dari dirimu untuk kau ajak menghadap kepadaku”. Musa berkata “baik Tuhanku”. Musa pun melaksanakan perintah Tuhannya. Ia berjalan menyusuri setiap tempat untuk menemukan pesanan Tuhannya.

Ketika ia menjumpai kumpulan manusia, beliau mencoba menerka-nerka siapa kira-kira yang paling hina diantara mereka. Karena kebeningan hati  sang Nabi Musa terbenam dalam perenungan, “boleh jadi mereka tampak begitu hina dihadapanku, tapi siapa tau mereka memiliki amalan yang membuat derajat mereka bisa lebih tinggi daripada diriku, aku juga tidak selalu tau dengan hal-hal yang disembunyikan Tuhanku”. Kemudian Musa  berjalan lagi menyusuri tempat demi tempat, ia tampak kesulitan untuk menemukan satu makhluk yang lebih hina darinya. Sampai suatu ketika ia menemuka ada seekor anjing kurap yang pincang dihadapannya.

Musa pun tersenyum, barangkali  makhluk ini bisa aku bawa kepada Tuhanku. Tapi sebelum sempat ia membawa  anjing kurang yang pincang tersebut kepada Tuhan, mata batin sang nabi sontak memberikan memberikan kesadaran.

Musa pun merenung “Boleh jadi dia hanya seekor anjing kurap yang pincang, tapi dia adalah juga Hamba Tuhan, ia memang memiliki berbagai kekurangan, tapi dia tidak mengeluh, dan dia seekor hewan yang tidak dibebani Hisab, sedang aku, masih akan menghadapi peristiwa hisab dihadapan Tuhanku. Aku tak dapat menganggap makhluk ini lebih hina daripada diriku”. Kemudian Musa menghadap Tuhannya  dengan wajah lesu dan berkata Tuhannya  “Wahai Tuhanku, maafkan aku tidak dapat melaksanakan perintahmu, di seluruh bum ini aku tak dapat menemukan makhlukmu yang lebih hina dari pada diriku”. Kemudia tiba-tiba Musa mendengar  firman Tuhan “Wahai Musa, seandainya saja sempat satu makhluk saja yang kau anggap lebih hina dari pada dirimu, maka aku akan mencabut kenabianmu, perintahku adalah untuk menguji kesiapan batinmu”.

Cerita ini adalah kisah yang kurang masyhur tentang kepribadian Nabi Musa.as. cerita Nabi Musa yang beredar didalam masyarakat yang kebanyakan  hanya bercerita tentang kisah gagahnya perlawanan Musa terhadap fir’aun, sifat tegasnya hukum-hukum Taurat dan Mukjizat-Mukjizat. Tapi jarang sekali ada sebuah kisah yang menggambarkan sisi terdalam dari kearifan para Nabi padahal Agama para Nabi adalah jalan untuk melejitkan kejernihan batin dan kekuatan ruh. Kalau kita cermati, sesungguhnya para Nabi berdialog dengan kejernihan batinnya untuk bisa menyikapi wahyu-wahyu yang mereka dapatkan dari alam ilahi yang mutlak. Kejernihan batin adalah syarat utama untuk dapat berinteraksi dengan alam yang lebih tinggi. Tuhan hanya dapat didekati dengan hati yang kosong dari perkara-perkara buruk. Benda ini haruslah sangat suci dari kebencian, kemarahan, dan dorongan untuk menghancurkan. Sikap yang melenceng dari kejernihan batin ini adalah tanda-tanda pembangkangan terhadap Tuhan. Inilah kekafiran sejati yang banyak dilupakan oleh orang-orang yang mengklaim diri beragama.

Dalam cerita di atas digambarkan bahwa Musa melompat lebih jauh dari pengertian-pengertian dangkal menuju pemahamn tertinggi terhadap Firman Tuhan. Seandainya Musa memahami firman Tuhan ini hanya dalam pengalaman-pengalaman rendahan yang banyak dialami manusia yakni tanpa menyingkirkan kekotoran batin, maka Musa tentu saja akan membawa “pesanan” Tuhan tersebut yang akan mengakibatkan jatuhnya derajat kenabian yang dimilikinya saat itu.

Ini mengandung pengertian bahwa, tujuan hakiki dari misi para Nabi adalah melenyapkan tira penghalang bagi manusia untuk menyaksikan Tuhannya. Hal ini hanya dapat tercapai jika manusia dapat melenyapkan sifa-sifat kegelapan dalam dirinya. Kegelapan ini adalah kekotoran batin. Tak peduli apakah seseorang mengaku beragama atau tidak beragama.

Jika kehidupannya dipenuhi dengan kemarahan, kebencian dan nafsu maka sebenernya hatinya telah dihinggapi kekafiran. Kekafiran selalu digambarkan dalam al Qur’an dengan watak-watak yang kasar seperti keras kepala, makar dan kekerasan. Jika seseorang dihinggapi sifat-sifat ini maka dapat dikatakan bahwa dirinya telah berjalan begitu dekat menuju kekafiran.

Sifat merasa paling mulia, paling dijamin masuk surga dan merendahkan capaian keber-agama-an orang atau kelompok lain ini adalah kegelapan batin dan tentu saja  bukanlah tanda-tanda ke-imanan. Sikap ageresif dan menuding-nuding orang atau kelompok lain sebagai gerombolan orang-orang sesat tak jauh beda dengan memandang seekor anjing kurap yang pincang lebih hina daripada dirinya dihadapan Tuhan.

Jika Nabi Musa saja tidak menemukan satu makhluk yang dapat diletakan satu derajat lebih rendah terhadap dirinya, lalu siapa kita yang berani menuding orang lain atau kelompok lain lebih hina dari pada kita dan kelompok kita dihadapan Tuhan. Setan memiliki berbagai cara untuk menjerumuskan manusia kepada kegelapan batin. Kalau ia tidak menemukannya pada keindahan kehidupan duniawi, maka ia menggunakan tirai agama sebagai jalannya.

 

Karya : Indra Yudistira