Dalam Weda, Sutra-sutra, Upanishad dan kisah-kisah Pewayangan tersebutlah tentang kisah mengenai satu jenis makhluk yang memiliki beberapa kuasa supranatural. Memiliki kedigjayaan dan kesaktian seperti yang di miliki para dewa di kayangan. Makhluk spiritual ini bernama, Asura. Kebanyakan kisah kayangan hanya menjadikan Dewa sebagai pemilik kisah spiritual, padahal kitab-kitab para Resi juga menceritakan tetang para asura.

Walaupun disisipi sifat-siat negatif, para asura bukanlah makhluk yang tidak memiliki kesadaran tentang keilahian, mereka melatih diri dan juga berusaha masuk kedalam kondisi samadhi seperti yang dialami para dewa. Asura adalah makhluk yang memiliki kesadaran tentang ke-tidak mandirian eksistensial diri (atman) dan Karenanya mereka melatih diri untuk dapat sampai pada kenyataan sejati (brahman) dengan cara masuk kedalam kondisi samadhi.

Itulah mengapa para resi juga mengatakan bahwa sesungguhnya para Asura juga adalah Dewa, namun memiliki sifat-sifat rendahan yang bersifat negatif, seperti kebodohan, cemburu, sok kuasa dan menyukai makar. Celakanya, karena sifat-sifat negatif atau kebodohan yang melingkupi kaum asura, maka hasil-hasil kultivasi (latihan spiritual) mereka hanya menghasilkan kesaktian-kesaktian yang malah menutupi jalan mereka mencapai pencerahan.

Secara sederhana, Asura adalah sisi mata koin yang lain dari sang pencipta. Ketika beliau memanifestasikan keheningan menjadi Triloka yang memiliki tingkat kekasaran yang berbeda, bersamaan itu juga tercipta sebuah kehidupan yang miliki inisiatif mandiri berdasarkan tingkat kesadaran yang dimilikinya.Ketika Tuhan menciptakan Awan maka bersama awan itu tercipta kedahsyatan petir yang memiliki daya menghancurkan. Awan dan petir adalah kebijaksanaan ilahi.

Sebagaimana para dewa dan asura. Para resi tidak pernah menjelaskan tentang apakah kondisi ke-asura-an atau ke dewa-an suatu makhluk adalah berasal dari pengkondisian yang azali. Para resi hanya mengatakan bahwa faktor yang membedakan ataran asura dan dan dewa adalah sifat-sifatnya yakni antara kebodohan dan pengetahuan.

Bodoh dan keras kepala adalah sifat para asura. Dan pengetahuan adalah sifat para dewa. Kabar baiknya adalah, keduanya sama-sama percaya dengan Tuhan. Sekarang para asura dan dewata menjelma dalam kehidupan nyata. Hidup dan berinteraksi dalam siklus masyarakat sosial yang kita hadapi sehari-hari.

Dulu seorang asura dapat menitis menjadi Kansa yang raja, atau Wisnu yg Dewa menitis menjadi Krisna sang gembala. Tak ada satupun bukti bahwa Krisna melawan Kansa lantaran ia tidak percaya dengan kehidupan spiritual. Kansa adalah seorang raja yang religius. Krisna melawan Kansa lantara kezalimannya.

Kitab suci masa lalu penuh dengan sindiran yang tajam Yang mengglitik sisi kesadaran ruhani yang paling dalam. Kedalaman makna sindiran-sindiran tajam ini hanya dapat dipahami oleh para pelaku lelaku spiritual pada masa itu. Masyarakat modern telah disindir, bukan oleh buku-buku etika modern, tapi oleh inskripsi-inskripsi klasik. Tidak peduli pengutipan kisah ini akan dianggap tahayul atau tidak. Itu bukan tujuan penulis.

Yang menjadi pokok persoalan dari kisah ini adalah, betapa gamblangnya sifat-sifat manusia relgius ditelanjangi dari kisah ini. Para asura zaman kini telah menjadi masyarakat yang memiliki kesadaran kolektif. Mereka sangat religius dan sangat percaya Tuhan. Mereka berkata, bahwa mereka akan kembali ke surga dengan jalan ketaatan religius. Mereka membaca kitab suci, sembahyang dan mengaji, bersedekah dan melakukan ritus-ritus agama.Dengan kehidupan beragama ini para asura tampil dihadapan masyarakat dalam tampilan surgawi yang dimiliki para dewa ahli surga. Namun karena sifat asli asura yang terbenam dalam kebodohan, maka keberagamaan mereka tidak menghasilkan pencerahan apapun.

Mereka masih berkelahi,berdebat dan saling menjatuhkan, walaupun semuanya mereka lakukan atas nama Tuhan. Setiap muncul para dewa yang berpengetahuan yang mengingatkan dan berusaha mencerahkan mereka, maka para asura ini mulai menyarang sang dewa dengan gada dan cakra yang berbentuk kalimat sederhana namun berkonsekwensi luar biasa yakni kalimat “kafir”, “Murtad” dan “Bid’ah”. Tidak seperti kaum asura yang gemar kesaktian dalil dan dan kutipan-kutipan kitab, para dewa jarang sekali mengeluarkan kesaktian walaupun mereka memilikinya.

Mereka para dewa, sadar bahwa mereka bukanlah tukang berkelahi dan berdebat, mereka adalah pencerah. Adu kesaktian dengan para asura malah akan mengubah mereka jatuh dalam kedudukan para asura. (Baca: Tuhan dan Kitab Suci Kaum Tertindas)

Kaum asura yang memang suka berkelahi ini memanfaatkan kesaktian mereka bukan untuk mencapai pencerahan walaupun mereka juga sungguh menginginkannya. Namun kebodohan mereka melahirkan hasrat-hasrat kotor yang rendah yakni hasrat untuk berkuasa dan mendominasi.

Hanya ada satu cara untuk berkuasa dan mendominasi, yakni mereka harus mengubah seluruh makhluk bernalar menjadi asura atau bertempur memusnahkan mereka. Maka sebagian asura bertempur, membunuh dan menghabisi, sebagian lagi melakukan propaganda. Kenapa asura ini berkuasa? Karena asura selalu cemburu dengan para dewa yang seolah-olah tanpa kesaktian mampu berkuasa dan mengelola kehidupan.

Para asura tidak menyadari kebodohannya, lantaran memiliki kesaktian yang berupa-rupa, kadang mereka merasa lebih tinggi daripada para dewa. Mereka acapkali menyerang para dewa dan merendahkan pengetahuan para dewa. Karena tak jarang ada asura yang memiliki keasaktian yang luar biasa yang mengalahkan kesaktian seorang dewa, maka tak jarang seorang dewa kalah keok oleh sang asura.

Kekalahan sang dewa digunakan oleh si asura untuk menjustifikasi kebenaran klaimnya. Padahal benar dan salah bukan urusan kesaktian. Kebenaran tidak hadir untuk memuncul si kalah dan si menang. Kebenaran hadir untuk mencerahkan dan mengangkat seluruh kehidupan kepada kesadaran keilahian dan kesucian.

Pada point ini, si asura telah jatuh lebih dulu kejurang kebodohan yang dalam. Lihatlah betapa yakinnya Dewa Virta sang Ashura yang berdo’a kepada Tuhan untuk melawan Dewa Indra sampai-sampai Dewa Indra pun “kaget” dengan pengetahuan Ke-ilahian yang dimiliki seorang asura seperti Dewa Virta.

Virta menyembah Tuhan dan mengharap kekuatan untuk mengalahkan Indra. Kagetnya dewa indra bukanlah lantaran begitu agungnya Virta, melainkan karena tingginya pengetahuan ke-ilahian yang tidak diiringi oleh kesadaran. Betapa banyaknya orang-orang yang bersembahyang menyembah Tuhan dan melakukan praktek-praktek kesucian, namun keluar dari rumah ibadah seraya memaki mobil pertama yang memotong jalannya. Betapa banyak orang-orang yang bepuasa sambil menyusun makar, menyerang, memaki dan melontarkan tuduhan palsu. Betapa banyaknya para pengkhotbah yang mengisi khotbahnya dengan fitnah, cacian dan kebencian. Lalu dalam khotbah itu mereka berdo’a mengharap kasih sayang Tuhan?

Para asura tak pernah mati, begitupun para dewa. Kita yang memilih menjadi apa diantara keduanya.

Tulisan ini juga di muat dalam www.satuislam.org