Yang Terlupakan Dari Sumpah Pemuda

Abdul Mujib AS
Karya Abdul Mujib AS Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Oktober 2017
Yang Terlupakan Dari Sumpah Pemuda

 

Sejarawan Perancis Ernest Renan mengatakan, salah satu modal utama menjadi sebuah bangsa adalah kemauan atau kehendak untuk menjadi satu.

Peristiwa Sumpah Pemuda 89 tahun silam adalah tonggak utama pergerakan untuk mencapai kemerdekaan. Peristiwa yang di motori para pemuda inilah yang mewujud sebagai modal untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang solid dalam kemerdekaan.

Dari tiga point sumpah pemuda  --dengan tanpa menulis ulang, semoga kita semua sudah hafal diluar kepala—dapat kita sarikan menjadi satu poin yakni bertekad menjadi SATU tanah air, bangsa dan bahasa persatuan Indonesia.

Di zaman berkemajuan saat ini, tugas utama kita adalah melek terhadap setiap peristiwa sejarah yang ada. Apa itu melek sejarah? Manusia yang  melek sejarah adalah mereka yang memahami dan mampu mereflesikan kandungan peristiwa sejarah sesuai dengan zamanya.

Tak terbayang bagaimana perjuangan para pemuda 89 tahun silam dalam menghimpun kekuatan untuk mengikrarkan diri, bersumpah untuk menjadi SATU dalam tumpah darah tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Lalu, sampai hatikah kita yang sudah berkemajuan, bergelimang dengan segala akses ilmu pengetahuan untuk memporak-porandakan sumpah pemuda?

Tumpah Darah Yang Satu, Tanah Air Indonesia

Miris rasanya, jika ada segelintir golongan –juga termasuk pemuda-- dengan pongah menolak apa yang menjadi hasil perjuangan pahlawan kita yakni Tanah Air Indonesia. Ideologi  pancasila adalah ancaman bagi golongan ini. Dengan tanpa rasa salah mereka mendaku sebagai wakil dari Tuhan untuk memberangus siapa saja yang tak sepaham dengan golonganya.

Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya membawa manusia untuk berkemajuan pula dalam berpikir dan berwawasan. Bukan sebaliknya, malah mundur ke zaman kebodohan.  Jika pada saat lahirnya sumpah pemuda yang penuh dengan keterbatasan mereka bersumpah bersatu, satu bangsa Indonesia. Lalu mengapa pemuda yang mendaku anak modern, berkemajuan dan kekinian malah sibuk mempertajam perbedaan ; beda suku, golongan, agama dan seribu perbedaan yang lainya. Bukankah hal ini akan mengoyak rajutan tenun persatuan kebangsaan Indonesia?

Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia

Untuk mencapai persatuan yang paripurna sangat penting untuk menjunjung satu bahasa, bukan sembarang bahasa melainkan bahasa persatuan Bahasa Indonesia. Jadi sangat tidak keren jika saat ini menjamur bahasa kebencian, permusuhan, bahkan bahasa yang menggiring kepada perpecahan. Kemajuan tekhnologi tidak sepatutnya digunakan untuk menebar bahasa kebencian. Ajaran bangsa Indonesia bukanlah bahasa yang marah, apalagi marah-marah. Ajaran leluhur kita adalah bahasa yang  ramah dan penuh rahmah.

Aktualisasi dan Optimisme Sumpah Pemuda

Setiap sejarah akan nihil makna, tanpa adanya proses aktualisasi nilai untuk kehidupan kekinian. Peringatan sumpah pemuda hanyalah seremonial belaka.

Sebagai tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia kita seharusnya mampu mengaktualisasikan ruh (nilai) sumpah pemuda. Ruh sumpah pemuda adalah terwujudnya persatuan.  Indonesia terdiri dari beraneka suku, ras, golongan dan agama seharusnya menjadi modal utama untuk menjadi Indonesia yang kaya. Indonesia yang istimewa. Dengan menjadikan ruh sumpah pemuda sebagai nafas kehidupan kita, maka segala bentuk perbedaan akan mampu kita pahami, kita hargai guna kita jadikan modal persatuan.

Jika ada golongan yang masih sibuk mempertajam perbedaan, menebar bahasa kebencian maka tak lain golongan tersebut hanyalah segelintir dari jagat Indonesia yang mencitakan persatuan. Untuk mewujudkan cita- cita luhur pendahulu kita, maka optimis adalah adalah modal utama. Indonesia akan tetap menjadi bangsa yang disegani dan dihormati. Indonesia akan menjadi bangsa yang merdeka selama kita mau dan mampu bersatu.

Kita sadar, kita tidak sama tapi kita mampu  bekerjasama. Maka, Indonesia Bisa!

  • view 110

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    15 hari yang lalu.
    Inget ya mas mas jangan lupa tagarnya ketinggalan loh, ayo di tulis tagarnya wk

    • Lihat 2 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    15 hari yang lalu.
    Sepertinya ada kalimat yang rancu, yang membuat saya harus baca terus berulang-ulang agar ngerti apa yang di tulis wk...bagus sih, saya jadi melek baca beginian panjaaaaaaannnnggggg...


    Salam kenal yaaaa

  • Anis 
    Anis 
    15 hari yang lalu.
    "Jika ada golongan yang masih sibuk mempertajam perbedaan, menebar bahasa kebencian maka tak lain golongan tersebut hanyalah segelintir dari jagat Indonesia yang mnecitakan (mencitakan?) persatuan. "

    saya belum paham kalimat ini, kak. *eh
    'yang TIDAK mencitakan persatuan' gitu ya harusnya?

    • Lihat 2 Respon