Ayah Tak Lagi Disini

Ayah Tak Lagi Disini

abdul hafizh
Karya abdul hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Januari 2018
Ayah Tak Lagi Disini

AYAH TAK LAGI DISINI

By. Abdul Hafizh

 

            Kutatap dia dengan penuh rasa kekaguman, pria dewasa tampak terlihat jelas kumis, jenggot menghiasi wajahnya, rambutnya sih sudah mulai sedikit keputihan, uban kayaknya itu, ya dialah pahlawan hidupku ayahku.

Kala itu usiaku 8 tahun mudanya, seorang pria kecil yang belum tahu banyak tentang kehidupan, pria yang masih imut-imutnya, masih lugu-lugu nya, yang fikirannya hanya main,main,main,teman,main ya itulah aku Irfan Handoko namaku.

***

 “bu ayah kok lama sekali sih pulangnya,?” guam ku sedikit murung.

“ sabar fan, bentar lagi ayah pulang kok, mungkin lagi dijalan “ tenang ibuku sembari menyiapkan lauk pauk dimeja makan.

“ ya udahlah irfan mau kerumah Deni aja dulu deh bu “ tandasku. Saat kakiku hendak melangkah keluar rumah terdengarlah suara bariton ciri khas pria dewasa

“ assalamualaikum….. ayah pulang “. Yee itu ayah. “walaikumsallam, kok ayah lama banget sih pulangnya?” Tanya irfan.

“eh.. anak kesayangan ayah, tadi ayah ada sedikit urusan dikantor, jadinya lama. “ sambung ayahku.

 “ lama tetap lama ayah “sahutku dengan wajah murung.

 “ ih lucu deh ngeliat irfannya ayah ngambek, udah jangan ngambek lagi ayah ada hadiah buat irfan”. Canda ayahku.

“ beneran mana-mana yah?” sambungku mulai menghilangkan raut murung diajah.

“ tapi tutup matanya dulu ya…. Satu….dua…….tiga….. ini hadiahnya  “

Setelah itu aku memejamkan mataku dan kurasakan kecupan ayah dikeningku.

“ ayaahh, kok hanya ciuman sih..” guamku..

“ itu pertanda kasih sayah ayah irfan buat anak kesayangan ayah, eits tapi ada lagi kok, besok minggu kita, mancing bareng di kolamnya eyang” lanjut ayahku…

 “ yeeeee mancing mancing mancing” sahutku kegirangan..

“ eh udah, makan dulu yah, irfan juga makan sama ayah “ tandas ibuku yang mengakhiri percakapan pendekku dengan ayah.

***

Minggu pagi rumahku telah disibukkan dengan berbagai aktifitas, tentunya aktifitas persiapan memancing kerumah eyang.

“ fan tolongin ayah sini, benarin joran, “ cakap ayahku.

“eh,bentar yah, lagi ganti baju, “ sambungku

“ iya, cepat ya fan” tandas ayah

“ eh ayah, irfan ini bekalnya jangan sampe lupa “ cakap ibu sambil memasukkan kotak nasi kedalam tas pancing.

“ibu memang juara, pas banget abis mancing makan di pondokkan sawah eyang” puji ayah.

“makasih, ayah hehe, udah ah pagi-pagi udah gombal nih ayah” lanjut ibu sembari tertawa kecil.

“ ibu, ibu, ibu ngga ikut?” Tanya ku.

“ ngga fan, ibu dirumah aja, masih banyak kerjaan ibu, irfan sama ayah aja, salamin ya sama eyang sama bik Sri ya fan” jawab ibu.

“ ya deh bu, ntar disampein, dah ibu asalamualaikum” tandasku.

 Selepas itu aku dan ayahku bergegas aku mengambil tas pancing berwarna biru hitam itu lalu meyelempangkannya dipundakku. Ayah menyalakan kontak motor bebek miliknya yang usianya tiga tahun lebih muda dariku, dan kamipun bergegas pergi kerumah eyang. Kurang lebih dua jam tiga belas menit dalam perjalanan akhirnya kami sampai dirumah eyangku. Disamping rumah semi permanen itu tampak kakek tua usia tujuh puluh tahun, kepalanya dihiasi blankon khas jogja, pakaiannya pun demikian baju coklat khas jawa, dipundakknya dia memikul cangkol yang masih berlumuran tanah yang masih basah, kakinya tak beralaskan apapun, tubuhnya sudah mulai membungkuk, napasnya pun juga mulai terengah-engah, dialah eyangku, mengangkat tangannya, seperti hormat tetapi lebih ketengah dibawah dahi, diantara kedua mata yah melindungi matanya dari silau sinar matahari, memandang lurus kearahku, dan berteriak, Irfan cucuku, dan seketika langsung mendekati kami. Dan mulailah aku, ayah dan eyang tak henti-hentinya berbincang samapai kedalam rumah eyangpun tetap berlanjut.

***

            Aku sudah tak sambaran lagi untuk mancing, langsung saja aku berlalu meninggalkan ayah dan eyangku yang mengikuti dari belakang menuju kolam eyang.

“ ayah, dapat nih ikan nya gimana nih “ tanyaku kepanikan.

“ tarik pancingnya dan gulung jorannya fan” jawab ayah.

Tak lama kemudian aku berhasil mendapatkan ikan nila yang kira dua kilo lah beratnya.

“ waah gede ikannya fan haha bagus fan, ibu bakalan senag nih ” sambung ayah kegirangan.

Dan itulah salah satu momen- monen bahagia semasa kecilku yang tak terlupakan bersama ayah.

 Tujuh tahun berlalu masa-masa kecilku yang sangat-sangat berharga dihiasi oleh pria hebat yang bernama ayah. Seketika itu ayah selalu bercanda tawa, bercerita-cerita, bermain, memancing bersama aku pokoknya ayah is the best deh.

***

 Angka Lima Belas menunjukkan aku sudah tumbuh menjadi remaja, dimana masa-masa tempatnya mencari jati diri, mengganggap diri sendiri lebih baik, rasa keinginantahuan, rasa ego yang tinggi, dan pokoknya banyak deh.

Disitu jugalah aku mulai bergaul dengan teman-teman satu sekolah, wara wiri, sok sibuk dah, sok cool, banyaklah itulah yang membuat rasa kebahagiaan bersama ayah, sedikit terusikan, bagaimana tidak kini aku terlalu sibuk dengan teman-teman, sekolah, dan hal yang lain.

Disitulah pada suatu hari ayah menunjukkan sebuah sudut yang berbeda seratus delapan puluh derajat yang Selama ini aku lihat dari sisi ayah, yaitu amarah….

“ IRFAN, KEMANA SAJA KAMU SEHARIAN INI GAK PULANG!!!” Tanya ayah dengan nada yang tinggi.

Mendengarnya, aku sedikit terkejut tetapi jiwa muda akau keluar yaitu rasa ego, ya rasa ego tersebut membuat mulutku juga mengeluarkan kata yang sedikit kasar.

“ aku main bareng yuda, Ayah jangan terlalu protektif deh, udah kaya polisi aja, aku harus diawasi 24 jam!” jawab aku dengan nada menentang.

“ ngelawan kamu ya, udah berani ngomong gitu sama ayah!” sambung ayah dan mendaratlah tamparan itu, tamparan pertama ayah dimukaku.

“ ayah, ga boleh kasar, gitu sembarangan aja main pukul” bela ibuku.

“ dia itu, udah mulai kurang ajar bu!!!” sambung ayah..

Sejak itulah aku ngerasa dirumah bukan hal yang menyenangkan dan nyaman lagi..

Selalu ada saja ribut antara aku dan ayah..

“ fan tolongin ayah dong” pinta ayah terdengar dari halaman belakang rumah

Tetapi perkataan ayah takku jawab sepatah katapun hanya ragaku bergerak yang menemuinya.

Tapi ayah tak membalas dengan amarah, dan dia hanya diam saja, kemudian tak disangka airmata pun terjatuh dipipinya.

***

 Tahun berlanjut, begitulah kisah selanjutnya antara aku dan ayah, tahun yang berlanjut itu membuat teman-temanku menghilang satu persatu, sibuk dengan diri sendiri masing-masing, semua masa itu taka da yang abadi, kuliahpun aku sudah hanpir selesai yang membuat aku kini berfikir lebih sedikit dewasa, memikirkan masa depan tentunya tanpa teman-teman yang dulu disampingku….

Tetapi suatu hal, ayah, ayah tetap saja dismpingku, mengajari aku mempersiapkan masa depan, mengajari aku banyak hal tentang arti dunia ini yang sebenarnya.

Suatu ketika rasa jenuh yang teramat akhirnya menghampiriku, dan kata ini pun keluar dari batinku “Tuhan aku bosan, aku jenuh, aku rindu padaMu, kembalikan aku Tuhan.” Syukurnya doa aku pun di kambulkan melalui ayahku, yah ayahku terkenal rajin dalam beribadah.

Magrib itu adzan berkumandang, ayah menghapiriku dikamar dan duduk disampingku, “Fan solat bareng yuk, “ tandas ayahku.

“baiklah yah” aku mengiyakan pinta ayahku dan bergegas wudhu dan solat bareng, sehabis solat kami pun membaca Al-quran bersama, sehabis itu kami berkumpul dan ayah berbicara..

“Fan dunia ini titipan, Allah itu maha esa maha segalanya, tawakalkan dirimu dengannya tak selamanya abadi, mau pekerjaan kita berusaha, berdoa dan Allah yang nentuin, dan begitu seterusnya, pada akhirnya kelak, Allah menginginkan kita kembali Fan, kuburan itu sempit, gelap, sunyi, panas ga ada yang nolongin sekalipun itu keluarga kita Fan” itulah perkataan ayah yang berubah hidupku menjadi lebih baik, tapi satu hal yang tak bisa terlepas dariku yaitu terkadang rasa egois itu masih dapat menembus raga dan fikirku. Tapi pokoknya aku menjadi orang yang lebih baik.

***

Satu hal lagi yang tak terpungkiri adalah…ayah sudah mulai sakit-sakitan, dan sudah berapa banyak uang, obat yang terbuang habis demi kata sembuh, tetapi nihil jua hasilnya, lama-kelamaan sakit ayah bertamah parah, sekarang sudah kurang lebih epat tahunan ayah sakit-sakitan, tetapi aku selalu berdoa agar Allah selalu memberikan kesembuhan buat ayah.

 Malam itu begitu larut, akupun begitu lelah, sangat lelah, diriku tak ada rasa semangat, dan aku pun tertidur pulas dibuatnya.

“ Hei, Irfan, anak kesayangan ayah, bangun dong mulor mulu,” lebut ucap ayahku.

“ eh ayah.. udah sehat ayahnya?”

“udah dong liat nih segar buharkan, hari inikan libur udah lama toh, ayah mau……..?”

Ucap ayahku semakin membuatku penasaran.

“ haha lucu dah ngeliat Irfan bengong.. iya ayah mau ngayak Irfan mancing kelaut sambilan jalan-jalan nih” lanjut ayahku yang menyenangkan hati

“ eh iya yah udah lama engga mancing sama ayah kangen juga nih” guamku dalam hati.

“ okedeh ayah siap dong haha”

Kamipun bergegas kekota untuk mancing, semua amunisi sudah siap mulai alat-alat pancing sampai perbekalan udah siap seratus persen, soal kendaraan yang pastinya kali ini engga pakai motor bebek ayah lagi, melaikan pakai mobil yang baru dua tahun dibelinya, yah walaupun bekas masih layak pakailah.  Tiga jam berlalu kami sampai kekota, dan lansung menuju pantai dan menyewa perahu yang ada, kami sangat bahagia, senang rasanya melihat ayah tersenyum lagi, udah lama aku tak melihatnya seriang itu, mana lagi ombak yang menerjang begitu menantang membuat suasana semakin seru. Empat jam lebih kami berada dilaut, ikan yang kami dapat, kami kembalikan lagi kedalam laut, melihat langit sudah mulai gelap, sunset sudah jelas terlihat kami putuskan untuk pulang. Sebelum bergegas pulang kerumah, kami makan dibawah pohon kelapa yang rindang, angin sore yang sepoi-sepoi, ditambah lagi dengan latar sunset menjadi spot pemandangan kami, selepas menghabiskan nasi bungkus buatan ibu, kami menuju mobil dan bergegas pulang.

Dalam perjalanan pulang aku menemukan yang yang jarang aku temui, sepanjang perjalanan aku dan ayah begitu akrab, tertawa dengan berbagai cerita-cerita atau lelucon-lelucon ayah, begitu bahagianya aku hari itu, melihat ayah tak lagi sakit, mengulang cerita lama yang sudah jarang dilakukan, tertawa bersama itu jauh dari kata sempurna, sederhana dalam bahagia.

 Sesampainya dirumah, kami, mandi, makan malam dan bersiap untuk pergi solat magrib, aku  melihat ayah mengenakan pakaian serba putih, bercahaya sekali, wangi sekali ayah tak biasa, dan ayah menoleh kepadaku diam seribu bahasa dan hanya tersenyum.

 “ Allahu akbar………….. Allahu akbar…………” suara adzan beguming dari toa masjid lingkunganku.

Dan ternyata bukan adzan magrib melaikan adzan subuh, aku terbangun dari mimpi panjangku, seketika air matapun terjatuh menetes, sebagai simbolik perih hati yang terasa lebih sakit dari tersyat sembilu, aku terbangun, aku tersadar ayah tak lagi disini!!! sudah tiga bulan lamanya berlalu sejak saat itu, tiga bulan berlalu ayah meninggalkan aku untuk selamanya.

***

Tiga bulan yang lalu, tepat malam itu senin 23.15… tubuh ayah yang terkulai tak sadarkan diri dan telah terpasang ventilator pun bergetar, dan aku pun panik, tetap saja aku membimbing yahku mengucapkan kalimat syahadat Asyahadu Allah Illaha Illallah wa asyahdu ana muhammadan Rasulullah, atu tek menghiraukan sekelilingku, ibu memanggil perawat yang bertugas, setekah diperiksa beberapa menit, perawat itu berkata “ yang sabar ya buk, bapak sudah ngga ada” sontak kamipun histeris,sehisterisnya….

Setelah nya jenazah ayah dibawa pulang kerumah, kamipun bersiap-siap untuk menjalankan fardu qifayah ayah..

Disamping raga ayah yang takbernyawa kubacakan surah yasin, kubuka satu-persatu lembaran yasin, tetesan air mata membasahi surah yasin itu..

Setelah dimandikan dan disolatkan…tibalah kami di pemakaman, disudut pemakaman terlihat lubang, yah itulah lubang 2X1 dimana raga ayah akan ditanam.

Aku masuk kelobang itu bersama dengan kakakku, dibukalah pentup keranda, terlihat ayah telah terbungkus kain putih, diangkatlah ayah, kami menyabutnya dari dalam lubang, kubuka perlahan kain yang menutup wajah ayah kuletakkan, kudekatkan wajah perlahan dengan tanah, …

Dengan hati yang teriris, hati yang hancur, hati yang menangis, kutarik nafas, kumandangan Allahuakbar…Allahuakbar … dengan suara lirih, sesudah itu kutup dengan papan, kami secara perlahan mulai mengguyuri tanah kedalam kuburan ayah, dan tertancaplah nisan bertuliskan Bambang Handoko, lahir 23 03 1963 wafat senin 18 04 2016…..

Melihat hal itu hati berkecamuk fikiran takmenentu,” ayah.. maafkan Irfan, banyak dosa yah, maaf yah, Irfan banyak salah, kini Irfan ngga bisa apa-apa selain alfateha, semoga ayah tenang, kurang ayah lapang dan terang amin”

 Ini adalah revisi dari cerpen sebelunya.

 Terimakasih dan salam hangat :)

  • view 127