Gagal Move On

abdul hafizh
Karya abdul hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Desember 2017
Gagal Move On

GAGAL MOVE ON
Abdul Hafizh
 

            Pekatnya sunset petang hari yang menyelimuti kota tua, kota kelahiranku dan dia

Sepoi sepoi angin sore  menggugurkan beberapa dedaunan yang mengering. Ku berjalan kesudut kota, tepat disana berdiri bangunan yang bercatkan cream kehijauan, bangunan yang sudah berpuluh puluh tahun usia nya, iya itu adalah Sekolah ku dahulu, tempat dimana aku menghabiskan tiga tahun masa remajaku. sepoi angin sore itu merasuk seolah  Hatiku berkecamuk, tanganku, kakiku tak terbendung menahannya… “ Aaahhhh, apalah rasa ini” cakapku dalam hati, ku ayunkan kaki melangkah menuju gerbang bercat putih yang sedikit sudah mulai karatan. Jari jemariku mendorong pintu gerbang disisi kiri, sehingga terbukalah sedikit pintu gerbang itu, langsung saja pelan kulangkahkan kaki menyusuri mulai dari sudut selatan bangunan, terbukalah lagi jendela  kenangan yang telah tiga tahun berlalu….

            Sampailah didepan pintu kelas paling ujung, yang berdekatan dengan ruang Osis dan Labor Komputer. Tepat di depan ruang kelas berjejer pot- pot yang telah dilukis dengan berbagai macam ide-ide kreasi, yah itulah hasil karya kami tiga tahun silam saat ujian prakarya seni pak Gun. terlihat tepat diatas pintu terdapat  papan kecil bertuliskan XII IPS I.. “ ini Loh ruang kelas ku dahulu, tawa riang, sedih, galau campur aduk selama satu tahun disini, melihat tingkah konyol teman-teman ku dahulu, Nandito dengan aksi-aksi gilanya, atau Beni dengan logat cakapnya yang khas tak ayal seringkali membuat suasana kelas menjadi riuh. Hahaha itu satu peristiwa kala itu pelajaran bahasa Indonesia sontak si Beni mengucapkan pantun jenaka miliknya “ Tut wuri Handayani siapa yang kentut tak berbunyi” sontak gelak tawa memecahkan kehengian saat itu. Yah mememang kami kelas paling bandel satu sekolah kami, banyak guru-guru yang tak tahan dengan perangai tingkah laku kami, sudah bisa lulus SMA saja udah suatu berkah bagi kami saat itu.  masa itu takkan kuhapus dari inggatanku” clotehku..

            kucoba untuk melihat suasana dalam kelas dari jendela, melihat suasana ruang kelas yang sudah berbeda dari tiga tahun lalu. Selepas beberapa menit kupandang ruang kelasku, aku berlalu berlanjut banguanan lainnya. Terlihatlah reflika Bungan raflesia, panggung, yang menjadi saksi bisu perjalananku menuntun ilmu disini bersama teman – teman seperujangan ku. Tampak dipojok sebuah lapangan basket dan futsal tempat dimana aku dan teman-temanku bermain, latihan, bertanding futsal kala itu.

 Pelan langkahku menguak satu persatu kenangan kala itu, kususuri lagi satu persatu ruang ruangan kelas itu, tampak pintu-pintu dengan cat yang mulai memudar,  kususuri lagi kebangunan bagian bawah, dan akhirnya ku menghela nafas dalam “hmmm”. XI IPA II. Ruangan inilah saksi bisu perjalanan kisah kasih ku dimulai kala itu……………………….

***

            4 Maret 2013

            “ Bang lu tenang aja bang, lu yang kasih bunga ntar gua yang ngiring pake gitar”

“ buset dah lu gembul, bentar nih gau lagi ngmpulin semangat nih”

“ alah lama lu bang” seketika itu badan yuda yang berpostur dua kali lipat dari berat badanku mendorong paksa aku masuk keruang kelas IPA II. Di dalam kelas sudah menanti cewek berpostur 157 cm duduk di ujung kelas kira-kira jaraknya tiga meja kebelakanglah.yang menunduk tak berani mengangkat dagunya tersipu malu, apalagi untuk menatapku, akupun demikian sangat gugup rasanya, melihat kegaduhan anak-anak kelas kalimat-kalimat “ cie mei ” itu yang membuat aku semakin tak karuan.

Pelan dan sangat hati-hati langkahku menghampiri dia dan berlutut tepat diahadapannya, menyodorkan bunga kepadanya. “ tembak.. tembak… tembak…. Teriak anak-anak kelas.

Tak banyak kalimatku “ Mei mau ngga kamu jadi pacarku?”. Sontak satu kelas itu gaduh lagi “ terima… terima… terima…. 

“ ehh teman diam dulu nih, kita mau dengar jawabannya” celoteh jefri dari balik badan Gusti.

 Dengan suara lirih, pelan kalimat itu terucap “ iya deh aku terima” sontak tadi nya kelas yang mendadak sunyi, kembali pecah

“ horeee… selamat emei.. selamat hafiz… ngga jomblo lagi yah”

Ku hiraukan kegaduhan anak-anak kelas itu, karna aku menang yah, aku menang mendapatkan hatinya.

Aku mengutarakannya secara langsung itu karena selepas chattingan kami di media sosial, kala itu aku sedang sakit dan lagi boring-boringnya, kulihat statusnya lagi online, yah iseng-iseng aja aku memulai chattingan dengannya, dan ternyata dia itu cewek yang mengasyikkan, baru beberapa hari dekat aja udah seperti lama akrab, chattingan itu berlanjut dan terhenti dihari ketiga, karna di hari ketiga lewat chattingan media sosial aku mengutarankan perasaanku kepadanya. Lantas tanggapannya “eh masa cowok beraninya lewat catting aja sih, secara gentle dong, langsung dong” dan lantas aku menyetujui tantangan dia itu. Begitulah awal mulanya sih.

            Hari – hari berikutnya aku pergi kesekolah tak sendirian, ku jemput dia dirumahnya yang tak jauhlah dari Sekolahan kami. Pagi itu klakson motorku telah terdengar dari luar rumahnya, mengawali kisah kisah kami tiga bulan kedepannya. Keluarlah dari dalam rumah cewek berbalut jilbab warna abu-abu “ buk berangkat ya”.

            “ hei udah lama nunggu?”      “ ngga kok barusan, yuk berangkat”

***

            1 Mei 2013

            Pergi dengannya pulang juga dengannya dong, hari ini selepas pulang sekolah dan mengantar dia, aku cepat cepat bergegas pulang kerumah karena aku mau membeli bola futsal baru kami, bola yang lama telah rusak dan kebetulan aku juga adalah bendahara futsal saat itu, yah aku adalah salah satuanggota klub futsal sekolahan kami. Ketika hendak mengambil buku catatan keuangan dari dalam tasku, aku melihat ada yang ganjal didalam tasku, tapi aku putuskan untuk melihatnya selepas pulang dari membeli bola. Setelahnya dengan keheranan aku cepat membuka ressleting tasku mengulik-ulik isi tasku, ternyata benar saja ada barang yang tak biasa di dalam tasku, kotak persegi berwarna ungu, harum sih kotak persegi kecil itu., kubuka kotak pecil itu perlahan dengan penuh kebingungan, teryanta “ baaaammmm!!!!” arloji ternyata, dibalik arloji itu ada secarcik kertas bertuliskan tinta pulpen berwarna hitam “ selamat ulang tahun sayang” kalimat sederhana nan penuh makna di secarcik kertas itu. Hadiah ulang tahunku ternyata, ya aku berulang tahun satu hari sebelumnya 30 April. Dengan penuh riangnya ku kenakan arloji itu di pegelangan tangan sebelah kiriku, sebentar-bentar aku melirik arloji baru pemberian dia itu.

            Dalam pesan singkat kuucapkan terimakasih kepadanya.

            Dul      : “ Sayang makasih ya jamnya :)”

            Mei      : “ …oh udah di buka toh, iya sama-sama deh, selamat ulang tahun ya sayang  

                           

            Dul      : “hehe iya deh kesayangan”

            Mei      : “ eh sayang tapi maaf ya ngga kasih secara langsung soalnya biar surprise

                           katanya”

            Dul      :  “iya ngga apapa deh sayang”

Setalahnya obrolan kami berlajut ke topik-topik yang lain dan tak perlulah untuk disebutkan satu-persatu.

            Namanya cinta pasti ada pasang surutnya, jam pemberian dia itu akhirnya hilang, entah kemana hilangnya selepas kami bersuka ria atas kemenangan tim sepak bola SMA kami, dia marah besar waktu itu. Yang membuat hari-hari berikutnya menjadi lebih sulit dan beberapa hari kemudian dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami yang baru berjalan tiga bulan itu

           

 

Dan akhirnya kisah kami itu kembali tersambung di bulan November, seperti biasalah

Kisah kasih kami itu berlanjut ada hal yang menarik di bulan Desmber, kala itu satu bulan full kami tak saling sapa baik langsung, maupun via telefon, aku sibuk dengan urusan futsalku dia yah mungikin sibuk dengan pelajaran dan teman-temannya, walaupun begitu hubungan kami tetap lanjut sampai bulan April sebelum Ujian Nasional, kembali dia memtuskan hubungan dengan alibi sebentar lagi Ujian Nasional dan dia kepengen fokus belajar “ yah salah satu alibi-alibi unggulan yang lazim terucap saat tak lagi merasa hubungan yang terasa spesial tak lagi merasa ada kecocokkan, dan dua hati itu harus berpisah” aku tak tahulah apakah itu hanya sekedar alibi, atau memang dia harus fokus, aku tak pernah berfikiran negatif soal dia, yah karena aku sangat percaya kepadanya, karna aku belum pernah bertemu dengan wanita sepertia dia sebelumnya, merasa nyaman, cocok kalau bersama dia, aku merasa kami bukanlah seperti minyak dan air yang tak akan pernah menyatu, aku merasa kami seperti lebah dan bunga yang saling membutuhkan , aku bukanlah sesosok laki-laki gagah, smart, rupawan, dan juga dia bukanlah wanita yang seperti aku bayangkan tapi, jika kami menjadi satu, maka kami akan menjadi lebih dari kata sempurna, dua watak yang berbeda, bertemu di waktu yang tak terduga dan akhirnya saling menyatu untuk saling melengkapi.

***

           

 

 

 

Ahh sialan, teringat lagi aku akan itu, hemmm, memang selepas tiga tahun kami dipisahkan oleh jarak dan luas lautan, sudah jarang berkomunikasi, ya paling berkomunikasi menanyakan kabar, kuliah, dan sebagainyalah, tapi aku gagal move on  walaupun ragaku disini tapi hatiku tetap untuk dia, telah aku coba melupakannya, tapi suara kecil nan lembutnya itu masih saja berguming dari benakku. Setelah lama berjalan aku belum menemukan yang cocok dengan karakterku seperti dia, aku adalah lingkaran dan dia adalah lingkaran, yang banyak kutemui saat ini, aku adalah lingkaran dan yang lainnya adalah segita, persegi, oval, ya tak bisa cocok, tak bisa di paksa. Lantas bagaimana ini?, tanda Tanya besar dalam benakku, iya aku harus mencarinya lagi, mencari yang sama denganku, sama-sama lingkaran. Baiklah, kuputuskan untuk mencoba kembali menghubunginya.

Selepas kembali kerumah , kuniatkan untuk kembali menghubunginya, dan seperti biasa responnya selalu positif kepadaku, dan obrolan-obrolan dia itu tak pernah berubah, selalu begitu yah itulah yang kusukai dari dia, tak pernah mencoba menjadi orang lain, obrolan-obrolan kami selalu nyambung, selalu cocok, dan aku rasa Tuhan itu tahu, dan Tuhan telah mentakdirkan kami mejadi lingkaran dengan linngkaran, atau menjadi kepingan-kepingan puzzle yang berbeda bentuk tapi melengkapi, ya melengkapi lukisan yang bernama cinta.

Tamat

Terimakasih, dan salam hangat :)

  • view 114

  • abdul hafizh
    abdul hafizh
    6 bulan yang lalu.
    sobat udah aku perbaikkin kok, mohon komen yah jika penulisan aku masih ada yang salah atau keliru

  • abdul hafizh
    abdul hafizh
    6 bulan yang lalu.
    unutuk teman-teman maaf yah masih terdapat kesalahan dalam penulisan, ini akan menjadi evaluasi saya kedepannya, terimakasih sudah mampir dan ngshare