MUKENAH BARU BUAT EMAK

abdul hafizh
Karya abdul hafizh Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Desember 2017
MUKENAH BARU BUAT EMAK

MUKENAH BARU BUAT EMAK

Abdul Hafizh

 

            Kasih ibu sepanjang kepada beta tak terhingga sepanjang masa”. Penggalan lirik itu memeliki beribu makna, yang tak bisa dipahami oleh anak-anak lugu yang sering menyanyikannya. lantas kapan kita bisa mengerti akan siratan sajak lagu itu ? sebuah tanda tanya besar mencuat, dan jawabannya adalah ketika nama ibu kita terpampang disebuat keramik, atau papan atau, semen buatan tukang, “nisan namanya”, ketika raut senyum tua paras ibu kita hanya terpampang di sebuat siluet berbingkai, ketika serak suara ibu kita dak lagi terdengar ditelinga, melainkan desiran suara itu terniang, teringat di kalbu bukan lagi terdengar, makna itu muncul takkala raga ibu yang mungil telah berbalut kain putih dan siap dibawa kekampung peristirahatan terakhirnya, kita memahami betapa, betapa, betapa……………. seorang ibu berkorban demi apapun untuk sang buah hati. Terkadang luka dibatin ibu lebih perih dari teriris sembilu, manakalah sang anak yang dulunya mungil lucu dan menggemaskan berubah menjadi pemberontak dengan suara kasarnya. Siratan itu baru kita pahami ketika ibu telah tiada, ungkapan maaf, ungkapan penyesalan hanya tertuang dalam tangisan air mata yang tiada henti-hentinya membasahi pipi, ketika hati yang paling dalam berkecimuk berkata “TUHAN… tolong kembalikan ibuku niscaya aku akan membelainya, merawatnya, dengan penuh kasih saying dengan penuh kelembutan” perkataan omong kosong yang tak berarti diungkapkan.

            Ah, lama sekali batinku bermain dengan kalimat-kalimat itu, aku harus segera bergegas mempersiapkan apa saja yang mungkin kelupaan dalam daftar list bawaanku” gumamku segera menghabiskan segelas teh celup buatan terakhir ibuku, tersadar dan beranjak bangun dari kursi kayu tua yang sudah tujuh tahun umurnya. Fajar itu pukul  kosong enam lewat lima menit, lengkingan kokong Bangkok ayam pak haji tetangga ku mengiringi hari bersejarah dalam hidupku. Aku harus meninggalkan rumah yang sudah dua puluh dua tahun hidup bersamaku, aku akan  mencari peruntungan di kota orang, di kota besar mencari penghidupan yang lebih layak.

            Ibuku pagi itu sudah terlihat memakai pakaian terbaiknya yang dia pakai hanya saat momen-momen besar, tampak wajarnya mencoba untuk melawan suasana hatinya yang sedang bersedih “anak terbaikknya yang sudah dua puluh dua tahun akan segera pergi meninggalkan dirinya”  mata nya seringkali berkedip kedip, menahan air mata supaya tak tumpah, tangannya yang sudah keriput itu sedikit gemetar.

            “ Danar apa semuanya sudah siap, tas-tasmu, semua dokumen-dokumenmu?”

            “ iya buk sudah siap semuanya kok, ini Danar lagi mau bawa keluar tasnya”

            “ jam tujuhkan berangkatnya nak”

            “ iya buk jam tujuh, nih pak somad udah kirim pesan sebentar lagi dianya jemput didepan gang buk”

            Hari itu dengan beratnya, dan harus tak harus aku pamit kepada ibuku..

            “ ibuk Danar pamit yah, ibu jaga diri baik-baik disini, teh ira bakalan nemein ibu sama anita kok buk”

            Dengan wajar berbinar, ibuku takkuat lagi membendung rasa harunya, tak dapat lagi menyembunyikan tangis air matanya, seketika ibu menangis tersedu

            “ iya nar, kamu jaga diri baik-baik, solat jangan ditinggalin, yah baik sama orang yah nak maaf ibu ngga bisa kasih apa-apa Cuma bisa kasih ini dan doa buat kamu” ibu memberikan aplop kuning berisikan rupiah jumlahnya lima ratus.

            Diriku juga tak tahan raga tak bisa berbohong akan ketulusan hati diriku juga menangis seketika sambil memeluk erat tubuh mungil ibuku, slam perpisahan untuk yang terakhir. Selepas itu tak lama kemudian dering teleponku berbunyi sedikit mencairkan suasana haru. Ternyata pesan masuk dari pak Somad.

            Pak Somad      : Assalamuallaikum Danar, bapak udah didepan gang nih

            Danar              : Walaikumsallam pak, iya pak Danar keluar nih

  “ Buk, tuh Pak Somad udah didepan gang, Danar berangkat yah”

            “ Iya nak, ibu anterin sampai depan gang yah”

            “ iya buk”

            Lantas bergegaslah kami meninggalkan rumah menuju perempatan ujung gang yang disana sudah menanti mobil Van berwarna silver milik pak Somad

            “ Pak Somad titip Danar yah sampai ke kota “

“ iya buk, tenang aja kok dianterin Danarnya sampe kota, pamit ya buk Assalamualaikum buk”

“ walaikumsalam hati-hati dijalan yah”

 Lambaian tangan menjadi simbolik perpisahan antara anak dan sang ibunya.

           

            Selang tiga jam perjalanan akhirnya aku sampai di Jakarta, kota besar bung, yang menjadi primadona masyarakat Indonesia untuk mengadu nasib di kota belogokan monas ini. Presepsi masyarakat dari sejak dahulu tetap sama yaitu dengan kita bermigrasi ke Jakarta kita akan mendapatkan peluang kerja yang lebih besar. Iya sih peluang kerja lebih besar disini, namum persaingan di kota yang dipimpin oleh pak Anis ini juga tak kalah menakutkan, orang disini melakukan berbagai mancam cara, semuanya dihalalkan demi mendapatkan satu tempat yang layak di Ibu Kota.

            Sudah beberapa hari aku disini, aku juga msih sibuk berkliaran ditengah gedung-gedung pencakar langit, membawa berkas-berkas dokumen tersalip dilengan kiriku, keringat diwajahku sudah mulai tampak, aku lelah rasanya ingin sejenak merebahkan tubuh, mendinginkan tubuhku, melegakan kerongkonganku yang sudah kering.

             Selepas meneguk setengar botol air mineral, aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan, berjalan ditrotoar ibu kota yang serba sibuk dengan membawa berjuta harapan untuk hidup yang lebih layak bermodalkan ijazah tamatan SMK jurusan finansial. Lama kumenanti, lama sangat lama waktu berlalu tiga bulan lamanya, dan akhirnya aku diterima di salah satu perusahaan swasta sebagai staff adminstrasi di perushaan itu. Yah gaji yang kudapatkan cukuplah untuk seorang pemula sepertiku.

            “ Selamat bapak sudah bergabung dengan kami, semoga bapak seusai apa yang kami cari dan kami harapkan selama ini, dan besok hari bapak sudah boleh muali bekerja, pukul delapan teng yah pak, jangan sampai telat karna kami menjunjung tinggi kedisiplinan”

 

                        “ Terimakasih banyak pak, siap pak saya akan bekerja sesuai dengan apa yang bapak harapkan “

            Selepas pulang ke kontrakkan aku langsung menghubungi Teh Ira (Karna ibuku tidak bisa menggunakan telefon genggam dan tidak memiliki nya jadi aku putuskan untuk menghubungi Teh Ira)

            Danar              : Assalamualaikum teh, ada kabar baik nih “

            Teh Ira            : walaikumsallam nar, eh apaan tu kabar baiknya?”

            Danar              : Danar dapat kerja teh, Alhamdulillah nih, sampein juga sama ibu?”

            Teh Ira             : waaahhh syukur Alhamdulillah nih nar selamat yah, iya kata ibu dia

  senang banget akhirnya Danar dapat kerjaan”

            Danar              : gimana kabar kalian disitu Teh?”

            Teh Ira             : Alhamdulillah sehat semua nar ibu sehat, Anita sehat juga, kamu

 semangat semangat yah kerjanya”

            Danar              : Tenang aja kok teh, semangat pastinya, eh teh udah dulu yah Danar mau

 mandi nih belum mandi hehehe, salam buat ibu dan Anita yah

Assalamualaikum “

 

            Teh Ira             : Pantesan bau hehehe iya deh walaikumsallam nar”

 Seketika itu mengakhiri pesan singkat aku dan Teh Ira malam itu.

            Tiga tahun lamanya aku bekerja di Jakarta dan aku masih diperusahaan swasta itu. Sekarang aku mulai terbiasa dengan berbagai macam polemik kehidupan kota metropolitannya Indonesia, yang macetlah, banjirlah, kasus-kasus kriminal lah dan banyak macam lainnya. Diriku sudah terbiasa sibuk dengan kerjaanku yang mulai pukul delapan dan berakhir pukul enam. Kopaja atau ojek online sudah menjadi kendaraan dinasku selama tiga tahun ini, aku sudah hapal bagai mana bau khas asap mobil kopaja atau warna jaket abang ojek online itu, dan juga aku sekarang akrab dengan bang muis, abang kedai warung kopi di depan sebelah kiri kontrakkanku setiap selepas pulang atau hendak berangkat aku tak pernah ketinggalan dengan kopi buatannya, goring pisan seribuan dan lagu sang raja dangdut bang haji rhoma irama. bulan ini tak terdengar lantunan lagu dangdut rhoma irama itu dari radio tua yang sudah sedikit karatan milik bang muis karna bulan ini, adalah bulan ramadhan, bang Muis hanya buka selepas adzan magrib dan sirine berkumandang itupun tanpa lantunan lagu bang haji rhoma, “ Ah sedikit hilang ciri khas dari warung kopi bang Muis ini, tapi agama dan ibadah itu lebih penting”

Sudah tiga minggu bulan ramadhan berjalan, kantorku sedikit memberi keringanan di bulan suci dengan kortingan jadwal pulang, agak cepat satu jam dari bulan biasanya. Pulang dari kerja aku tak putuskan mencari Kopaja atau menghubungi ojek online via aplikasi. Aku berjalan di pinggiran kota melihat berbagai jajanan berbuka puasa semuanya ada, ada juga yang mulai berjualan pakaian, ketupat, alat-alat masak untuk keperluan hari raya nan fitri. Diriku terhanyut, terdiam, terpaku, aku sedikit mengerutkan dahiku, mengigigt kecil bibirku, melihat pajangan mukenah cantik berwarna putih tepat dihadapanku.

 

“ mukenah yah? Oh iya yah semenjak Ayah telah tiada tujuh tahun silam ibu tidak pernah mengganti mukenah nya ya” gumamku, yang membuat kerutan didahi semakin rumit.

“ kubeli ajalah buat ibu, oleh_oleh yang lain nyusul aja deh”

Akhirnya akupun mendatangi penjual itu dan membeli mukenah cantik berwarna putih itu.

            Tiga hari berselang hatiku amat berseri-seri karna aku dapat jatah mudik selama seminggu dari perusahaan maklumlah sejak meninggalkan rumah baru ini aku bisa mudik pulang kekampung halaman. Sementara dikotrakkanku sudah siap oleh-oleh yang akan ku bawa nanti ketika mudik kekampung halaman. H-3 sebelum kepulanganku kekmpung halaman, hari itu aku termat gundah, gelisah rasanya, ada yang mengganjal dibenakku, batinku tak enak rasanya, hati selalu berkata “ aku kepengen pulang…. Aku ingin pulang….. aku ingin pulang…. Aku rindu ibu” . ternyata arti dari semua itu kudaptkan setelah menerima panggilan telefon Teh Ira

            Sambil menahan isak tangis Teh Ira menelponku     “  Hallo Nar, Assalamualaikum nar, ibuk Nar, ibu” diriku semakit tak karuan dimana dari telefon Teh Ira terdengar samar suara lantunan surat yasin “ ibu sudah tiada Nar, ibu meninggal Nar”

Dengan tubuh yang bergemtar, air mata tak tebendung lagi, aku menagis, menangis tersedu-sedu, tiga tahun tak bertemu, yang kuharapkan ketika aku pulang akau menjadi sebuah momen yang sangat indah menjadi momen terakhir aku melihat ibu, tak bisa lagi melihat tawanya, tak bisa lagi melihat raganya, tak bisa lagi mendengar suaranya dan yang terpenting ibu aku belum membahagiakanmu. Badanku yang tadi begitu semangat berubah menjadi sangat sangat tak berdaya, lesu, kuputusakan untuk pulang kekotrakkan untuk langsung pulang kekampung halaman tanpa menunggu hari ketiga, telefon dari Teh Ira langsung terputus karna Teh Ira tahu akan situasiku yang sedang remuk.

            Keseokkan harinya aku pulang kekampung halamanku, perihal mukenah baru itu ku bawa saja kekmpung halaman. Setibanya di kampung halaman, pelan jalanku menyusuri setapak gang menuju kerumah, tetanggaku sudah ramai mendatangi kediamanku, tampak kursi kursi berjejer dijalanan, dan di satu sudut terlihat kerandang berbalut kain hijau sudah tampak siang membawa raga ibuku ke tempat peristirahatannya, sampainya di depan pintu, aku diam, menelan ludah, air mata sudah basah tercecer dipipiku, melihat kedalam ruangan rumah berukuran tiga kali tiga meter tampak jasad ibuku terbaring disana, disampingnya ada Teh Ira, Anita, dan kerabat-kerabatku. Aku masuk perlahan, mendekati jasad ibuku, dan mendekapinya, pecah tangisku sebagai seorang anak, yang sekarang statusnya adalah yatim piatu. Diikuti Teh Ira, dan Anita juga memelukku dari samping.

            Setelah dari pemakaman ibuku, aku yang terakhir pulang, Teh Ira dan Anita sudah pulang lebih cepat dariku. Dipusaran ibuku, aku berkeluhkesah, semua yang ada didalam hatiku ku utarakan didepan pusaran ibuku, “ ibu maaf Danar belum bisa kasih apa-apa buat ibu, Danar belum bisa membahagiakan ibu, Danar rindu tau ibu, rindu banget sama ibu, Danar kepengen ketemu ibu sebentar saja, Danar pengen bilang, Danar rindu ibu, Danar saying ibu, Danar kepengen membuat ibu bangga, Danar kepengen jagain ibu..” terus tanganku mengusap usap tanah yang menimbun raga ibuku.

 

 “ huft ya Allah, izinkan aku bersabar dengan semua cobaanmu ini, aku tahu Kau lebih menyayangi dia daripada aku, aku titipkan ibuku disurga Tuhan,  sampaikan aku, Danar, anaknya akan tetap berdiri dan baik-baik saja”  kuletakkan mukenah cantik itu disamping kendi didekat nisan ibuku.

            “ IBU DANAR PAMIT PULANG, TENANG ADA ALLAH YANG JAGAIN KOK, DANAR AKAN BAIK-BAIK SAJA, IBU INI ADA OLEH-OLEH MUKENAH BARU BUAT IBU, ASSALAMUALAIKUM BUK”. Aku pamit dengan ibuku untuk yang kedua kalinya, tetapi saat ini bukan aku yang meninggalkan dirinya, tapi dialah yang meninggalkan aku untuk selama-samanya.

 

  • view 161