FILOSOFI WAZE

Abdis Salam
Karya Abdis Salam Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 Februari 2017
FILOSOFI WAZE

FILOSOFI WAZE

Tuhan sudah pegang kartu.

Saya teringat “Filosofi Kopi”. Buku fiksi karya dewi lestari yang menggambarkan seorang pencinta kopi dan bagaimana dia memaknai kopi dalam sudut pandang kehidupan. Terinspirai dari sana, saya mencoba melukiskan tentang semacam aplikasi penunjuk arah/navigasi yang secara kebetulan mengilhami prinsip diri dalam menjalani kehidupan. Saya menyebutnya “Filosofi Waze”, biar saingan sama “Filosofi Kopi”. Hehe.

Semenjak 2 tahun belakangan ini saya menjadi pengguna aplikasi  waze yang menurut saya lebih baik, akurat, dan lengkap memberikan informasi lokasi. Aplikasi berbasis GPS(Global Positioning System) ini sangat perlu bagi saya yang notabene merupakan warga pendatang dari Jambi ke Jakarta sejak 2012. Saya sering melakukan “perjalanan tanpa bayangan”. Nggak terbayang alias nggak tahu dimana tempat yang dituju dan arah menuju tempat tersebut. setelah banyaknya perjalanan demi perjalanan yang saya lalui dengan petunjuk tuhan melalui  wasilah aplikasi waze. Saya memperoleh pandangan yang teranalogi terhadap aplikasi waze.

 

 Yang membekas dalam benak saya dari aplikasi waze adalah bila saya tidak mengikuti petunjuk arah yang telah diberikan dilayar smartphone dengan benar atau salah mengambil jalan. Waze tidak menuntun saya kembali kejalan yang tadi. Waze mengarahkan kejalan yang baru. Seakan berkata “kenapa harus berbalik arah? Toh didepan juga ada jalan dengan arah ketujuan yang sama”. Saya memaknai kejadian tersebut kedalam hidup saya. Ketika saya mempunyai sebuah harapan dan cita-cita yang diimpikan. Saya butuh sesuatu yang memberitahu bagaimana impian itu dapat terwujudkan. Sesekali saya mengambil langkah keliru dalam perjalanan menggapai impian. Mungkin orang lain akan berbalik arah, tapi tidak dengan saya. Saya memilih tetap  melangkah kedepan memperbaiki kekeliruan yang terjadi. Bukan  malah berbalik arah tanpa memperbaiki kembali kekeliruan yang diperbuat.

Ketika saya berada dalam posisi mengambil jalan yang salah. Saya tak melulu menganggapnya benar-benar salah. Karna saya percaya, tuhan ingin melihat bagaimana saya menghadapi dan menyelesaikan kesalahan itu. Setiap kesalahan adalah pembelajaran bagi sesiapa yang mau memetiknya. Mungkin orang lain beranggapaan jalan yang kita lalui hanya memperlambat langkah menuju impian yang dicitakan. Tapi coba perhatikan kembali bahwa tuhan sudah pegang kartu kesuksesan kita. Hanya tinggal menunggu waktu. Kapanpun kartu itu bisa diberikan pada kita. Bisa lebih cepat, juga lebih lambat. Bisa pula tidak diberikan. Terpenting adalah kita tetap berusaha, beribadah kepada-nya, dan percaya bahwa semua kerja keras takkan sia-sia.

Begitulah filosofi waze mengajarkan saya bahwa didepan selalu ada jalan. Masalah seberapa jauh perjalanan tersebut cepat atau lambat biarlah tuhan yang menentukan. Bila cepat itulah yang kita harapkan. Bila lambat, berdoalah semoga tiba-tiba tuhan beri kita keajaiban.

  • view 136