Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Januari 2018   20:59 WIB
CENDANA

                       

***                                                                  CENDANA

            Di Pulau timor ada sebuah kerajaan besar. Samoro Oan, nama kerajaan itu. Diperintah oleh Raja Manek Bet, seorang raja yang arif dan bijaksana. Dikala itu ia sudah menikah, dianugrahi oleh dua orang anak. Pertama seorang putra diberi nama sesuai dengan nama neneknya yang telah lama berpulang, Bria Bot. Sedang seorang putri, Cendana namanya.

            Kelahiran putri Cendana melalui perjuangan panjang. Setelah bertahun-tahun raja dan permaisuri memohon kepada sang pencipta. Akhirnya terkabul. Lengkaplah sudah apa yang diinginkan.

            Semula kerajaan Samoro Oan cukup makmur, tetapi dengan adanya cendana, seluruh kerajaan bertambah makmur. Ia juga dapat mengobati orang, sehingga masyarakat menganggapnya Dewi pemberkah, Dewi penolong.

            Rakyat sangat setia terhadap raja. Hal ini tercermin setiap tahun mereka dating berbagai penjuru, mengantarkan upeti. Selain itu mereka juga mengikuti upacara syukur.pertanda terima kasih kepada Tuhan. Putri Cendana yang cantik nan perkasa diberi mandate penuh pemangkuh-pemangkuh adat memimpin jalannya upacara tersebut. Ia selalu dibantu Klara, seorang pembantu kepercayaannya. Wajahnya mirip putri cendana. Upacara ini rutin dilaksanakan di sebuah bukit yang sakral, menurut kepercayaan setempat.

            Berek Maun, putra raja kerajaan Kaijlu. Ia selalu mewakili yang mulia, kalau beliau berhalangan menghadiri hari-hari bersejarah di kerajaan. Jatuh cinta pada putri Cendana. Ia dengan penuh keberanian menyampaikan hasratnya untuk mempersunting putri kepada ayah dan ibunya. Raja dan permaisuripun memanggil para tua-tua kerajaan.

            Karena putra saya ingin mempersunting putri Cendana, putri raja Samoro Oan. Jadi kamu saya utus untuk memberitahukan ini kepada yang mulia dan permaisuri. Sampaikan salamku buat keluarga, “Pesan raja Kaijilu.”

 

 

***

Hari masih pagi. Bunga-bunga seakan-akan bangun dari tidurnya yang panjang. Para utusan meninggalkan kerajaan. Menjelang mentari jauh ditelan kegelapan, tiba di kerajaan. Mereka disuguhi sirih dan pinang, lambing persahabatan.

“Angin apa yang membawa para kinasak bertanda kenegri kami?” Tanya sang raja. “Begini yang mulia. Kami diutus kemari untuk menyampaikan berita bahwa putra raja kami ingin mempersunting putri raja Samoro Oan yang cantik nan perkasa jika yang mulia dan permaisuri merestui,” jawab Nahak pemimpin rombongan tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka.

“Baik, tetapi berhubungan putri kami tidak ada disini, kami belum bisa memberikan jawaban pasti. Kami akan memberitahukan hal ini kepadanya baru bisa memberikan jawaban pasti melalui utusan khusus kami. Beritahukan hal ini dan sampaikan salam buat yang mulia, permaisuri dan seluruh kerajaa,” pinta balik Raja Samoro Oan.

            Maksud daripada putra raja disampaikan. Putri Cendana menerima lamaran dari putra raja Kaijilu. Ia tersipu malu. Hal ini diketahui Klara. Ia ingin menggagalkan hubungan mereka yang baru saja disampaikan.

            Pihak kerajaanpun sudah mendapat berita balasan lamaran dari kerajaan Samoro Oan. Alangkah gembiranya putra raja Kaijilu hatinyapu berbunga-bunga sedangkan Klara tenang-tenang saja. ia bagaikan singa berbulu domba.

            Disuatu pagi yang begitu cerah. Putri Cendana mengunjugi kekasih pujaan hatinyayang ingin hidup bersamanya. Ia didampingi oleh Klara. Klara menggunakan kesempatan emas itu untuk mencelakakannya. Ketika sudah jauh dari kerajaan Samoro Oan perjalanan mereka melalui lereng-lereng gunung yang ditumbuhi pepohonan yang begitu besar. Saat itu juga Klara mengambil kesempatannya untuk membunuh putrid Cendana.

            “Klara, bagaimana caranya agar kita cepat keluar dari hutan yang sunyi ini, begitu banyak pohon- pohon yang besar,” ucap putri Cendana.

Namun, Klara tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh putri Cendana. Ia masih memikirkan cara untuk mencelakakan putri Cendana.

            Saat mereka melewati jurang yang begitu dalam, tiba-tiba Klara menolak putrid Cendana dari kudanya, sempat putri Cendana memegang tangan Klara, namun karena dorongan dari Klara sangat Kuat. Putri Cendanapun akhirnya terjatuh dari kudanya dan terlempar sampai ketepi sungai. Sebelum Klara melanjutkan pejalanannya. Iapun melihat kearah tepi sungai, langsung seketika raut wajahnya terkejut melihat putri Cendana yang sedang berusaha memegang sebuah akar pohon.

            “Rupanya kamu belum mati,” ucap Klara sambil tersenyum sindir.

“Kenapa kamu melakukan ini Klara? kenapa kamu tega mendorongku?,” ucap putri Cendana.

Tapi Klara tidak menghiraukannya, iapun kembali dan membawa sebuah pisau untuk ri memotong akar kayu yang dipegang putri Cendana. Sontak putri Cendana berteriak dan meminta tolong. namun, tak ada satupun orang yang lewat di hutan tersebut.

Disangka putri Cendana telah menemui ajalnya, Klarapun pergi menemui pangeran Berek Maun. Sesampainya Klara di kerajaan Kaijilu, ia disambut oleh pangeran Berek Maun. Ketika melihatnya pangeran Berek Maun sangat kagum melihat kecantikannya. Berek Maun memperkenalkannya dan iapun mengaku sebagai putri Cendana ia disanjung dan dipuja-puja. Sebab ia merasa legah dan bangga karena martabatnya diangkat-angkat oleh pangeran Berek Maun, dari dalam bayangannya bahwa putrid Cendana sudah menemui ajalnya.

 

***

            Putri Cendana tidak seperti yang diduga Klara. Ia terbawa air, terpaut pada sebuah akar pohon. Seran, seorang petani. Pada waktu itu sedang mengai ikan, kagetketika melihat seorang perempun yang terpaut di akar pohon. Dengan rasa iba seranpun mendekati dirinya untuk menolongnya. Seran mengobatinya degan menggunakan obat tradisional. Dia adalah putri Cendana. Istri Seran mengobati putri Cendana hingga sembuh. Namun, merekapun tak tahu bahwa putri yang mereka tolong itu adalah putri dari raja mereka. Sebaliknya putri sendiri enggan memberitahukan siapa dia sebenarnya. Sebagai tanda rasa terimakasih putri Cendana kepada bapak Seran bersama istrinya yang telah menolong dan merawatnya, ia menyerahkan beberapa keping perak. Setelah itu ia kembali seorang diri kekerajaannya dengan menunggang seekor kuda yang dibelinya dari bapak Seran.

            Kisah pahit yang dilakukan Klara diceritakan. Sedih, haru bercampur marah melhat wajah ayah,ibu, kakak yang barusan menikah. Hari itu juga raja, permaisuri, putri Cendana ditambah bala tentara kerajaan pergi menghadap Klara. Ketika sampainya mereka di istana kerajaan Kaijilu, Klara tersentak kaget saat melihat mereka dan sejumlah besar lascar kerajaan yang dipimpin langsung pangeran Bria Bot.

            “Klara, rupanya kau berhati busuk. Ternyata selama ini kau menyimpan benih dendam terhadapku, padahal aku belum pernah menyakitimu, kau mencelakakanku agar kau disebut dan disapa putri raja,” ucap putri Cendana.

            “Bohong,” jawab Klara.

“Aku adalah putri raja,” kata putri Cendana bernada emosi. “Akan kutunjukkan kesaktianku.” Klara hanya menunduk malu dibelenggu rasa sakit.

Putri Cendana mundur beberapa langkah. Berlutut mengarahkan keua tangannya ke langit. Hujan pun turun dengan deras, diiringi bunyi halilintar, menyambar hilang Klara entah kemana. Sedang putri Cendana menjadi sebatang pohon yang rimbun. Pohon penjelma itu baunya wangi, pohon itu pun dinamakan pohon Cendana.

 

 

 

 

 

 

Karya : Abdi arakian