Kaukah Itu? (Bagian 2)

Muhammad  Fauzi
Karya Muhammad  Fauzi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Februari 2016
Kaukah Itu? (Bagian 2)

Biarlah pengalaman pahit di tempat KKN cukup sekali. Bukan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Bukan pula Hafiz yang tidak bertampang tampan. Ia tergolong anak yang beruntung karena lahir dari perpaduan dua gen orang tuanya, perkawinan bapaknya yang Jerman dan ibunya orang sunda. Bukan pula tak tampan ruhaniyahnya. Justru dia adalah pengurus masjid yang diketuai oleh sahabatnya sekaligus calon suami mantan pacarnya, Mas Hamzah.


Proposal cintanya hanya kalah selangkah dari Hamzah. Hafiz dan Hamzah seperti tanduk rusa yang tidak ada bedanya dalam hal keilmuan, hafalan al Qur?an, dan kuliahnya. Sama-sama gagah. Sulit, siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Tapi jujur, Hafiz harus rela diadu poin dengan kekalahannya menaklukkan cinta halal Humaira.
Suasana rumah sudah mulai mengobati rindunya setelah sebulan mengabdi di desa terpencil. Seminggu lagi masih bisa menikmati dengan kebersamaan keluarga kecilnya untuk memulai semeter barunya di tingkat empat, semester ketujuh. Apalagi suasana pagi dengan kesejukan kota Bandung. Pilihan paling tepat adalah menyaksikan berita terbaru sambil menyeduh teh khas Jawa Barat, teh Walini.


Sebulan hidup di daerah terpencil butuh juga meng-update kondisi negeri yang semakin carut-marut, perlu baginya. Harga sembako yang semakin mencekik rakyat menengah ke bawah. Hukum yang lancip ke bawah, mengatup ke atas. Pemerintah yang tidak bosan tebar pesona. Bermuka dua. Terlalu sering rakyat dikibuli dengan janji-janji kampanye yang tak sedikit dilupakan. Pantas banyak memenuhi notifikasi twitter Hafiz yang masuk. Semuanya bertagar #MenolakLupa. Ia semakin tak sabar berkumpul dengan teman-teman mahasiswa dalam kajian kastrat di selasar sekretariat BEM fakultas. Mengkaji perkembangan kampus. Hatinya semakin rindu dengan Mas Hamzah, ketua organisasi LDF-nya. Pun dirinya telah disalib dalam perhelatan cinta Humaira Ia kalah. Secara profesional, Mas Hamzah tetap jadi sahabat dan kakak kelas yang baik.


Tetiba alis matanya semakin rapat ke arah batang hidungnya. Garis dahinya berlipat-lipat. Bibirnya yang tipis dan merah seperti keluh. Batinnya tergoncang menyaksikan tontonan di berita pagi tentang korban kedzoliman. Pengungsi Suriah banyak yang terombang-ombang dilautan mencari suaka ke negara yang bersedia menjamin keamanan jiwa dan keyakinan mereka. Karena tidak sedikit yang dipaksa murtad. Tragedi kemanusiaan yang dipaksa meninggalkan tanah airnya. Suami, istri, anak dan gadis-gadis Suriah adalah korban yang harus diselamatkan. Sakit hatinya. Hafiz melirihkan doa,

Ya Allah, berilah kami petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk,
Selamatkanlah kami dalam golongan orang-orang yang Engkau telah pelihara,
Uruslah kami di antara orang-orang yang telah Engkau urus,
Berkahilah kami dalam segala sesuatu yang Engkau telah berikan,
Hindarkanlah kami dari segala bahaya yang Engkau telah tetapkan,
Sesungguhnya Engkaulah yang menentukan dan bukan yang ditentukan,
Sesungguhnya tidak akan jadi hina orang yang telah Engkau lindungi,
Engkau wahai Rabb kami adalah Maha Mulia dan Maha Tinggi.1

Seolah jiwanya sedang ikut berjuang bersama para pejuang agama Allah di tanah Suriah, Palestina, Rohingya, dan negara muslim lainnya yang sedang memperjuangkan membela negara dan aqidahnya.
Hafiz meraih handphone iPhone black. Mencari kontak salah seorang sahabatnya yang aktif di NGO. Sejurus kemudian, panggilannya langsung diterima.
?Assalamu?alaikum... Kang Deden, maaf mengganggu. Bisa ngobrol sebentar ga??
Salamnya dijawab dengan lengkap sampai kalimat warahmatullaahi wabarakaatuh.
?masyaa Allah... sudah selesai KKN nya, Ris. Apa yang bisa saya bantu, akh??
?sebenarnya lebih plong ngobrolnya kalau ketemu langsung sambil minum teh kesukaan kita di Green Tree Cafe yang di Jalan Dipati Ukur. Saya kangen juga sama surabi Kang. Akang ada waktu sore ini ga, ba?da ashar??
?Iya, saya juga oke kalau begitu tawarannya, Ris. Kita ketemu nanti sore. Eh, ngomong-ngomong giliran yang traktir siapa??

Khas obrolan mereka jika saling kangen adalah menanyakan giliran mentraktir.
?saya juga lupa kang. Saya aja kang... oke, kita ketemu langsung di sana, Kang.?
?Oke, Akhy Hafiz.?

***
Sore pun meyambut dengan rinai hujan yang rintik. Semburat matahari seolah terseyum dibalik awan yang berlapis. Merelakan titik-titik hujan menjatuhkan tubuhnya di wajah bumi yang sudah lama tidak disapu oleh air. Bulan November memang waktunya hujan leluasa menari di dahan-dahan pohon, dan pingsan manja di muka tanah. Warna mendung Kota Bandung semakin romantis. Para manusia lebih memilih mengurung diri di rumah-rumah, ada yang sambil ngobrol di kafe-kafe kecil khas Bandung. Bapak-bapak pemangkal ojek berubah jadi satria penakluk hujan dengan raincode warna-warni dan setia membidik calon penumpang yang terjebak hujan di pinggiran jalan. Begitulah doa-doa ketika hujan di kota Bandung.


Mobil hitam Toyota Yariz meluncur pelan membelah Jalan Dipati Ukur ke arah selatan melewati kampus Universitas Padjadjaran. Setelah melewati jalan dua jalur, Hafiz menyetir ke arah kanan mengambil jalan dua arah. Begitu tenang ia membawa mobil mewah itu. Syal rajut pemberian ibunya melilit dilehernya sedikit dimainkan untuk mendapatkan balutan rajut yang lebih hangat. Kostum baju santai dan baju hangat membuat ia semakin tampan dan gagah. Belasteran Jerman-Sunda.


Lima menit kemudian, ia pun tiba di kafe yang sudah dijanjikan tadi siang dengan Deden. Hafiz menatap ke dalam kafe yang tembus pandang. Dijung kafe sedikit ke dalam duduk seorang yang ia maksud. Kang Deden sudah memesankan dua gelas minuman yang asapnya yang bulat tak beraturan mengepul dipermukaan. Pasti itu teh khas Jawa Barat.


?Assalamu?alaikum Kang Deden... alhamdulillah... apakah saya telat dari waktu janjian kita, Kang?? Sambil membuka kursi tepat di depan Kang Deden.
Deden mengangkat tangan kanannya.
?semenit lagi jika batang hidungmu belum aku lihat, kau bukan lagi orang yang aku kenal orang paling disiplin dengan waktu se Kota Bandung ini.? Jawabnya serius dan dibalas dengan tertawa lepas.
?hehe... Kang Deden bisa saja nih kalau masalah bercanda memang rajanya.?
?ini teh kesukaan mu sudah saya pesan. Teh Bandreknya silahkan diminum sebelum hangatnya habis. Kalau tidak hangat, nikmat aromanya hilang.?
?Terimakasih Kang...? Hafiz mengangkat gelas ukuran sedang dan menikmati teh bercampur rasa rempah khas Jawa Barat itu.
?apa yang bisa saya bantu, Ris. Sepertinya bakalan ada kerja sama lagi dengan organisasi kampus mu?? Deden menebak.
?betul sekali, Kang. Jadi, kali ini berbeda programnya. Objek kita bukan lagi anak-anak yang terlantar disekitaran kampus saya. Maksud saya anak-anak ini tetap kita urus. Hanya, jumlahnya kita stop dulu. Kita urus dulu yang sudah ada. Sehingga kita bisa menampung yang lain.? Nada Hafiz agak serius. Butiran hujan yang semakin deras sampai memecahkan suaranya, suara dua oktaf terpaksa ia keluarkan. Bukan marah melainkan ingin memperjelas suaranya. Begitu juga dengan Deden.
?Kalau kita stop, siapa yang mau kita target. Yang lain itu siapa??
?Suriah... Ya..anak-anak Suriah, ibu-ibu, bapak-bapak dan gadis-gadis Suriah Kang. Mereka butuh bantuan kita, Kang? Nadanya memelas dan agak turun nada oktafnya.
?Hafiz... saya bukan tidak mau. Justru saya bangga punya sahabat yang memiliki kesadaran tingkat tinggi seperti ini. Sampai kepikiran untuk menampung para pengungsi Suriah. Cuman.... ?
?Cuman apanya Kang... baru kali ini saya mendengar ada kata cuman keluar dari mulut Kang Deden yang tegar ini.?
?saya menyaksikan berita tadi siang kalau pemerintah kita tidak menerima pengungsi dari Suriah, akhy Hafiz. Karena segala program kemanusiaan NGO ini harus tetap ada izin resmi dari lembaga pemerintahan. Apalagi masalah Suriah.?
?Jadi, hanya karena itu semangat Kang Deden sudah luntur. Kang, program ini tetap direncanakan dan segera dilakukan. Saya tidak mau melihat ada anak-anak Suriah yang kelaparan terombang-ambing di atas perahu boat yang belum pasti mau ke mana. Saya tidak kuat melihat itu. saya tidak mau mendengar belas kasihan dari seorang ibu Suriah yang memohon kasih. Mereka hanya sebagai tontonan di tv yang terombang-ambing dilautan dengan nyawa taruhannya. Di mana hati nurani kita. Jika saudara seiman yang satu sakit, maka badan yang di sini merasakan pula.? Hafiz menunjuk dirinya.


Tensi kekecewaan Hafiz meningkat. Bak termometer yang tiba-tiba dicelupkan ke dalam air panas, langsung ke angka 100oC. Panjang lebar ia membuka hati Kang Deden agar tetap membuka bekerja sama. Ia pun menjelaskan bagaimana proses izin legalisasi pengungsi Rohingya sampai bisa diterima di Nanggro Aceh Darussalam, Sumatera. Karena baginya itu sama saja. Sama-sama pengungsi yang butuh pertolongan.


Deden hanya menatap diam atas penjelasan Hafiz yang panjang. Ia tahu persis Hafiz adalah orang yang memiliki karakter jiwa kemanusiaan yang tinggi. Ia teringat pengalamannya mereka berdua ketika menjadi relawan di Tsunami Aceh tahun 2004. Waktu itu masih SMA. Apalagi sudah menjadi mahasiswa, pasti idealismenya dan ekspektasinya semakin tinggi.


?Baiklah kang.. saya lihat akang hanya diam saja. Daripada orang-orang di sini menonton percakapan yang hanya seperti angin lalu saja tanpa respon dari antum, lebih baik kita sudahi saja obrolan sore ini. terimakasih kang atas kesempatan undangan saya sore ini. saya yang akan membayar dua teh enak ini di kasir. Maaf kalau saya sudah lancang. Terakhir, mungkin akang juga sudah melihat di tv. Negeri yang bukan mayoritas muslim saja sanggup berbuat. Kenapa kita yang mayoritas muslim tidak menjadi yang terdepan... afwan...Wassalamu?alaikum..?


Hafiz berjalan cepat menuju kasir untuk membayar dua teh pesanan Kang Deden. Raut wajah tegang jelas tampak terbingkai oleh syal rajut hijau lumut. Ia berjalan mengarah ke parkiran mobilnya tanpa membalikkan tubuh dan mengitari pandangan sebatas syarat izin pulang duluan. Terlihat Hafiz kecewa. Deden menahan diri untuk menenangkan dirinya. Mobil Hitam Yariz melaju melawan rinai hujan lebat dan menghilang ditutupi butiran hujan yang rapat.

***
Hari-hari seperti dilipat jaraknya. Tak terasa masa aktif dikampus mulai hidup lagi. Hafiz siap-siap memasukkan barang-barangnya ke dalam bagasi mobil hitam Yariznya. Dua koper hitam besar. Walaupun tinggal di Bandung dan kampusnya di Kabupaten Sumedang, Fariz lebih memilih hidup seperti mahasiswa yang tinggal di kosan.


Mulai hari itu, Hafiz merasa ada semangat baru yang akan ia bawa ke kampus di tahun ajaran baru ini, yaitu isu Suriah. Ia yakin pasti teman-teman sekampus satu frame dan ingin berbuat seperti yang Ia rencanakan.


Ia mulai dari rapat-rapatnya di lembaga masjid, di ruang-ruang organisasi, dan sampai jajaran dekanat untuk mendapatkan dukungan. Pasti dapat apalagi bertemakan charity.


Banyak mahasiswa yang ia himpun. Sampai jajaran pemerintah provinsi pun sudah mendapatkan izin di tangan. Sesibuk itu membuat ia terlupa kalau ia pernah mengalami kegagalan mendapatkan cinta Humaira. Seolah hari-harinya ada selalu semangat baru dalam dirinya. Tentu, misi pengungsi Suriah.


Waktu terus berlanjut. proses kuliahnya lancar, organisasinya semakin terkenal karena menangani kegiatan kemanusiaan. Ia pun tambah terkenal sampai tingkat universitas. Humaira tahu kalau Hafiz sempat mengantar surat keikutsertaan menjadi relawan di acara charity tersebut ke fakultasnya. Humaira sangat tertarik akan itu ditambah lagi kalau ia seorang mahasiswa kedokteran.
***

Kegiatan kemansiaan yang Hafiz bentuk mendapat izin jatah untuk bisa menampung seribu pengungsi dari segala umur. Syukurnya lagi ada sebuah pesanteren yang mewakafkan tanahnya seluas tiga hektar untuk dijadikan sebagai tempat camp-camp pengungsian.


Para pengungsi dari Suriah mulai berdatangan. Para anak-anak yang lemas tergambar di wajah-wajah mungilnya karena lama diperjalanan dari pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Bandung. Ditambah lagi asupan makanan yang tidak cukup selama berada di atas laut. Para ibu-ibu yang terlukis rasa syukur dibibir-bibir keringnya. Para bapak yang semakin tumbuh semangat hidupnya. Para gadis Suriah menjadi lebih yakin untuk tetap terjaga. Begitu juga dengan para pemudanya.


Hafiz berjalan menelusuri gang-gang kecil yang memisahkan antara camp-camp kecil. Ia menyaksikan bagaimana para relawan memberikan pelayanan terbaik bagi para pengungsi Suriah. Ia pun kaget melihat Humaira menjadi bagian relawan itu juga sedang memberikan perawatan medis pada seorang gadis berhijab di depan Humaira.
Hafiz mendekat, ia pun menunduk dan memberikan salam. Ia menyaksikan begitu fasih bahasa inggrisnya dengan pasien tersebut. ia menduga kalau pasien itu pasti orang yang berpendidikan. Dilihat dari bagaimana ia membalas percakapan Humaira dan gadis suriah itu sepertinya tahu juga tentang kemedisan. Hafiz memeriksa kartu identitas perawatan pengungsi gadis tersebut. namanya, Fatimah Az-zahra. Nama yang indah, gumamnya.


?Boleh saya bergabung...? Hafiz berusaha menghubungkan percakapan dengan bahasa inggris tentunya.
?Silahkan Fahri..? Balas Humaira dan isyarat pasien yang bernama Fatimah itu dengan mendukkan kepalanya.
?Nama anda Fatimah, Fatimah Az-Azzahra...barusan saya melihat kertas medis Anda.? Hafiz memulai percakapan itu.
?Ya... nama Saya Fatimah... panggil saja, Mahaz...?

Humaira menyelesaikan balutan perban di tangan pasiennya Fatimah atau Mahaz. Hafiz dan Humaira agak sedikit kaget kanepa panggilannya Mahaz. Bukan Fatimah, atau Azzhra.
Hafiz tidak memperlihatkan rasa penasarannya. Pandangannya menunduk untuk menjaga.
?Aduh....? Mahaz merintih kesakitan ketika tangannya yang diperban dipindahkan ke posisi yang lebih menjaga supaya tidak terganggu oleh apapun.
Hafiz seketika menegakkan wajahnya. Pandangannya mengarah ke wajah Mahaz. Hatinya pun berdesir melihat gadis Suriah itu. Dari sekian sample kekayaan bentuk wajah, Sepertinya Suriah merupakan tempat dimana India, Eropa, Dan Arab bertemu. Mata biru. Terlihat sepintas wajah Mahez yang memang tidak mengenakan cadar ataupun abaya hitam di wajah mulusnya seperti kebanyakan wanita Suriah.
?Astagfirullah....? Hafiz memalingkan pandangannya.
?tidak apa-apa... sakitmu akan segera sembuh? balas Humaira.
?kalau boleh tahu dan Mahaz sudah bisa kuat untuk bercerita, kami ingin mendengar ceritamu lebih dalam lagi.? Hafiz membuka lagi diskusi itu. Humaira juga sekata apa yang dimaksud oleh Hafiz.
Mahaz menatap Hafiz yang baru saja nyeletuk tapi tidak memandanginya. Pandangannya pun mengitari ke arah Humaira. Humaira pun mengangguk seolah mengatakan, gapapa cerita saja. Mahez menarik nafas yang dalam. Kedua matanya mengatup dengan alis asli yang indah dan hitam. Tidak diberi treatment dengan pewarna. Seolah mengumpulkan semangat dan keikhlasan serta kesyukurannya tiba di negara yang pertama ia kenal dari jauh, yaitu Indonesia. Telah menyelamatkan jiwa dan menyambung nyawanya.
?Namaku Fatimah Azzahra. Tapi selama di Suriah saya biasa dipanggil Mahez. Saya sangat bersyukur sekali bertemu dengan saudara seiman di Indonesia ini.?
Mahez bercerita panjang dengan membuat haru Hafiz dan Humaira. Bagaimana para rakyat Suriah diperlakukan tidak manusiawi oleh militer pendukung Basar Assad. Tetangganya dan rakyat Suriah banyak yang terbunuh di depan mata kepalanya sendiri. Rumahnya sudah rata dengan tanah. Keluarganya berpencar ke beberapa negeri yang menerima pengungsi dari Suriah.
?Dan saya sangat bersyukur bisa bernafas hari ini.? Nafasnya begitu tak teratur karena merasakan pedihnya penderiataan mereka selama di Suriah.
?Mahez... di sini kamu aman... kami ini keluarga baru mu,... saya saudarimu.? Humaira berusaha menenangkan Mahez.
?Mahez... kedua orang tua ada di mana.. keluarga besarmu?? tanya Hafiz.
?Ayah dan ibuku sudah wafat. Keduanya ditembak oleh tentara laknat Basar Assad. Waktu itu saya masih kuliah di kampus.? Tangis Mahez semakin besar.
Hafiz dan Humaira tersentak kaget. Hafiz merasa bersalah telah bertanya tentang itu. Humaira pun berusaha menangkan tangisan iba Mahez.

Ratusan tenda terdapat pengungsi Suriah yang ditangani berbagai lembaga kemanusiaan. Pasti cerita dari pengungsi Suriah mengalami apa yang dihadapi oleh Mahez.

***

Sebulan sudah Hafiz menangani pengungsi Suriah. Kabarnya para pengungsi sudah bisa beraktivitas. Banyak sudah yang mendapatkan pelatihan. Ada juga belajar buat anak-anak yang duduk di usia setingkat SD hingga SMA. Mahez termasuk menjadi pengajar di tenda pengungsian tersebut.
Lamunan Hafiz membawanya merasakan perjuangannya ketika memperjuangkan pengungsi Suriah bisa masuk Indonesia. Tentu juga berkat dari kerja sama tim besarnya. Namun, ia merasa masih ada yang kurang berjuang meskipun tantangannya sekelas pengungsi suriah telah ia selesaikan. Namun, ia masih ada yang kurang. Ia terus beristigfar untuk dibukakan oleh Allah jalan terbaiknya untuk bisa segera menikah. Dan bisa melupakan Humaira. Apalagi sosok tangguh Mahez telah hadir seperti menggantikan posisi Humaira. Hafiz dan Miqdad sedang membereskan berkas-berkas biodata pengungsi Suriah.
?Ris, kenapa melamun... jangan suka melamun lah.. mmmm.. saya tahu nih, pasti lagi mikiran ketika kamu ditolak Humaira di tempat KKN, kan.. iya kan..?? Sahabatnya Miqdad membangunkan Hafiz dari lamunan galaunya.
?Sok tau aja kamu, Miq... saya itu lagi mikirin pengungsi Suriah... membayangkan kembali perjuangan untuk bisa menampung pengungsi suriah. Nikmat sekali perjuangan itu, Miq... tapi...?
?Tapi kenapa Ris,,, ada masalah lagi, kah??
?jujur ya tidak membocorkan ini ke siapapun kecuali cuman dua hati, empat mata, dan dua kepala, yaitu hanya antara saya dan kamu.?
?ok.. janji?
?ada seorang gadis pengungsi Suriah, namanya Mahez. Bagaimana kalau dia saya lamar saja. Dia juga tidak ada yang menjaga, ayah ibunya menjadi korban pembunuhan di Suriah.?
?Serius, Ris. Ga salah dengar, nih??
?apa saya pernah ga serius dan ga jujur. Saya rasa lebih baik menikah saja. Daripada seperti ini membayangkan seorang gadis yang belum halal bagiku. Saya takut dosa, dan saya juga takut kalau perempuan itu menjadi dosa baginya jika bayangannya selalu hadir dalam benakku. Perempuan itu Mahez, Miq.?
?kalau begitu, baiknya kamu ceritakan baik-baik dengan kedua orang tuamu dan calon istrimu, yang bernama Mahez itu. saya setuju, Ris.?

-bersambung-

  • view 113