Menyangkar Hati

Muhammad  Fauzi
Karya Muhammad  Fauzi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Menyangkar Hati

(Sumber gambar:?www.intrawallpaper.com)

?Hmmm....

Dia lagi... dia lagi...

tidak bosan mengurusi kebutuhan orang lain.

Terserah kamu apa katamu,

Dan terserah saya apa kehendakku!!!?

?

??????????? Ya. Ini aku sebut kebutuhan. Kenapa tidak? Aku merasa terperangkap dalam hidup yang serba salah di mata orang. Kalau aku boleh murka, kenapa aku bisa menyusur jalan panjang bersama cerita mereka. Khususnya orang ini yang serba peduli hidup semua orang. Aku pun haus sekali, ingin memuntahkan kata-kata ini di depan mukanya. ?Kenapa kita dipertemukan??. Sepertinya, itu sudah lebih dari cukup untuk merobek hatinya. Tapi, kenapa hatinya setebal tanah, bak air yang menyusup ke dalam tetap ditelan dengan sabar. Sabar sekali laki-laki berparas biasa itu.

??????????? Suatu sore itu adalah penutupan ceritaku dengan calon pendampingku, pintanya. Atasku, susah. Kata Tuhan, belum tentu itu adalah milikku. Masih keras di telinga, sayup nasihat cinta sang ustadzku dulu kalau kita merugi sekali jika melampau batas. ?Ah, apa aku sudah melampaui batas?? lelaki berparas biasa itu pun melafazkan yang serupa. Dalil mereka sama. Itupun sudah aku dengarkan di masa setahun sesudah kami sering berkumpul.

??????????? Aku hanya berdua dengan si lelaki berparas biasa. Di dalam rumah Allah yang luar biasa ketenangannya menyesak-sesak hatiku. Menarik-menarik jiwaku untuk memperbaharui niat. Tapi, ku katakan pada lelaki berparas biasa itu bahwa aku telah terlanjur sayang pada pada seseorang perempuan yang kutemui beberapa bulan lalu.

?Miz..

aku bukanlah malaikat yang bisa mengetahui apa yang kau secara terang-terangan apalagi yang kau sembunyikan.

Aku hanya mendapatkan perantara kabar dari seseorang yang tidak bisa aku sebutkan siapa nama miliknya.

Oleh karena itu, aku hanya ingin mencari terang supaya pendugaan dalam hati tidak berselimut dosa.

Benarkah, kau jalan lagi dengan perempuan itu?

Ini hanya sebatas pertanyaan standar seorang muslim untuk saudaranya yang seiman?? Ucapnya yang tidak menatapku. Tapi matanya seperti ada retak-retak air. Mungkin kecewa atas kemunafikanku.

?

??????????? Aku tidak bisa memberi alasan lagi. Setiap kali dipertemuan pada kasus yang serupa seperti ini lebih dominan aku berbohong. Jika masjid adalah tumpuan klarifikasi peristiwa itu, lelaki berparas biasa itu adalah serius. Masih sanggupkah aku mengatakan alasan yang tidak sah di dalam masjid ini.

?

?Kak, Aku....

Aku tidak bisa menjawab yang sebenarnya apa yang terjadi.

Aku sepertinya lebih malu pada diri ini jika orang lain juga mengetahui.?

?

?kalau kau masih melekat pada malu,

Silahkanlah ditanggalkan jika tidak baik.

Baik dan selamat jika kau masih sendiri.?

?

?tapi..

Aku sudah terlanjur, Kak.?

?

?apakah Tuhan ada kata terlanjur pada hamba-Nya.

Baginya tidak ada yang terlambat.

Masalah rasa adalah kebesaran-Nya.

Tapi Tuhan juga telah menyediakan tempat indah itu melepaskan rasa itu.?

?

Hening.

?

??????????? Aku sudah hafal tabiat lelaki berparas biasa itu setiap kalinya mendapatiku pada kasus yang serupa. Karena itu sudah jadi ikrar kami tiga tahun lalu. Nasihatnya dengan khas kelembutan, itu terus yang membuatku menggugah hati untuk kembali. Tapi, kenapa perempuan ini hadir di antara kami, seolah persaudaraan kami mengalami musim gugur. Gugur yang suram. Lantaskah aku juga membawa nama perempuan ini jadi masalah, atau kah aku yang sepantasnya?

?

? Aku..?

?Aku tak bisa....Kak?

?

?Kenapa, Miz??

?

?Aku sudah sering berbohong ke Kakak dan teman-teman yang lainnya.

Ya.. itu benar. Aku jalan lagi dengannya.

Dulu, Aku sudah berjanji untuk tidak berbuhungan lagi dengan perempuan yang belum syah untukku.

Tapi, aku sudah terlanjur kak...?

?

??????????? Muka lelaki berparas biasa itu akhirnya bangun ke atas. Dia pun menatapku serius. Sinyalnya adalah sepertinya dia akan marah lagi, kecewa sekali tampak dari wajahnya.

?

?Miz...

Tidak apa-apa.?

?

?Tidak apa-apa maksudnya gimana kak??

?

?Kau tidak apa-apa untuk jujur seperti ini,

Jadi kita tahu bagaimana kita bisa berbuat.

Kita bisa membantumu untuk bisa meninggalkannya.?

?

?Tapi, aku tidak bisa kak..?

?

?Hmmm....

Apa yang sulit bagimu, Miz??

?

Aku pun tidak berkutik dari diam. Tak kuat aku menatapnya. Aku sadar, salahku jadi memagarku untuk bisa berubah.

?

?Miz, aku saja yang berparas biasa ini tidak takut tentang masalah jodoh.

Karena aku yakin, kita diciptakan berpasang-pasangan.

Aku optimis aku pasti ada jodohnya.

Tapi jalan yang diridhoinya bukan yang seperti ini.?

?

lelaki berparas biasa itu sebentar menarik nafas.

?

?justru itu harus jadi buat kau jadi perenung.

Kau yang bertampang rupawan,

Keturunan yang baik-baik,

Berpendidikan,

Insyaa Allah, perempuan mana yang tidak bisa terpikat oleh kau nantinya.

Tapi catat, ini untuk nantinya.

Makanya perlu mempersiapkan diri.

Jadi optimislah untuk meraih pasangan rasa nantinya, bukan sekarang jika belum halal.?

?

??????????? Nasihat ini sudah ketiga kalinya disalamkan ke padaku. Sesering itu pula aku melanggar janjinya.

?

?Miz... belum cukupkah itu jadi dzikir untukmu.

Ingat sama Allah, kalau kita diciptakan berpasang-pasangan.?

?

??????????? Aku pun menggeleng isyarat aku belum bisa, meninggalkan dia.

?

?Hmmm...

Begini Miz, apakah kau bisa menjamin setelah lulus akan tetap bisa bersama dia.

Kau akan pergi, tentunya bekerja di suatu perusahaan.

Begitu juga dengan dia.

Jarak akan menyiksa kalian berdua.

Kalau kau tidak bisa menjamin untuk tetap bersama, baiknya kalian menikah saja.

Itu lebih baik, sesuai agama kita, dan kau dan dia pun akan jadi terjaga.

?

?Nikah??? kagetku mendengarnya. Nikah semuda ini. Ah, tidak mungkin.

?

?Iya, menikah!!!?

?di jarak yang jauh, kita tidak bisa menjamin bahwa dia akan tetap menjaga rasa tetap untukmu.

Tempat kerja adalah syurganya ujian hati.

Bagaimana kalau dia menemukan yang lebih darimu.

Kau bisa dicampakkan.

Dan kau pun, rasa itu tidak stabil.

Cenderung itu pun sifat khas manusia, kau pun akan menemukan yang lebih dari dia.?

?

??????????? Aku pun tiba-tiba seperti tersungkur dalam lamunan. Benar juga kata lelaki berparas biasa itu. Beginilah akhirnya setiap kali dipertemukan, selalu ada celah untuk menarikku kembali ke jalan mereka. Jalan baik menurutku. Aku merenung diam menerawang kalimat pamungkas itu. lama sekali.

?

?Miz....

Oleh sebab itu,

Kita perlu sekali memagar hati ini,

Biar tidak terjatuh pada lembah zina.

Begitukan peringatan Tuhan pada hamba-Nya.

Yuk, mari segera menata sangkar hatinya lagi.

Menyangkar hati itu untuk saat ini dan sampai kapanpun adalah yang? terbaik.?

?

??????????? Aku menatap tajam. lelaki berparas biasa itu pun serupa. Malaikatku hari ini lebih kuat. Iblis-iblis telah terbakar oleh apinya sendiri. Aku tidak bisa membayang jika yang diumpamakan lelaki berparas biasa itu adalah benar akan terjadi dan kualami. Lebih baiknya adalah menurut dan terbuka pada kebaikan itu, agar selamat.

?

?Baiklah kak, akan kucoba untuk menjauh dari maksiat ini.

Tapi aku juga butuh dorongan.

Doakan aku, dan nasihatilah aku jika salah lagi dan khilaf.

Akan kucoba untuk istiqomah.

?begitu juga dengan aku, Miz.

?

Watawa shoubil haqqi watawa shoubishshabar.

?

?

Serusaknya raga,

Peliharalah makanan dan sumbernya,

Serusaknya jiwa,

Sangkarlah rasa di dalam hati,

Menyemai yang baik,

Memanen yang baik pula.

Rasa, hati, adalah memagarnya untuk dipersembahkan kepada pemilik-Nya. ?

  • view 134