Hijrah Cinta (Bagian I)

Muhammad  Fauzi
Karya Muhammad  Fauzi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
Hijrah Cinta (Bagian I)

(Sumber gambar:?theodysseyonline.com)

?Tuk tak tuk tak tuk tak!!!? pukulan pulpen itu berhenti. Kelas pun hening seketika. Ruang kuliah masih kosong dan kursi-kursi pun belum terisi oleh mahasiswa tingkat dua itu. Kecuali sesosok manusia yang duduk sendiri di tengah barisan kursi. Laki-laki berambut sedikit panjang yang membuat telinganya tak tampak. Kedua tangannya dililit oleh gelang-gelang karet, plastik dan anyaman kur. Ia lah Faris yang sedang membaca buku bersampul hijau menua. Sebuah buku yang kemarin sore dihadiahi oleh seorang yang belum ia ketahui. Misterius sekali. Sesekali Faris menoleh seisi kelas. Ia takut kalau ada yang mengetahui tentang buku yang sedang ia baca. lunturlah kemacoannya.

Seiring waktu. Berminggu dan berbulan hari-harinya dipenuhi dengan kiriman buku-buku yang sampai saat itu juga belum ia ketahui pengirim atas nama nickname ?saudaramu?. Siapakah dia? Hampir tiap bulan di pekan awal ada bingkisan ke rumahnya. Tentu isinya juga buku bergenre sama, yaitu buku panduan agama. Buku-buku itu berjejer rapih ia simpan di rak buku di ruang kamarnya. Tak satu pun ia buka dari pembungkus plastik itu. Cukup ia menilai dari judulnya, sudah tak perlu membuka sampai ke dalam-dalam.

?Ah, sudahlah, paling juga isinya tentang panduan shalat, puasa. Malas, ah.!!!?

Faris semakin dibuat gelisah tentang kiriman yang terus-menerus mendatanginya sebagai tamu misterius. Apa ada ide untuk mengetahui sosok yang sudi menghabiskan waktu dan uang untuk mengiriminya buku-buku yang sama sekali tidak dibukanya. boro-boro jika si pengirim berniat untuk mengajak Faris bertaubat dari kelakuan yang sudah ?sudah. Tukang rokok, mantan cewek dimana-mana, sering bolos kuliah. Pernah sekali bapaknya dipanggil oleh pihak kampus.

?Kami dari pihak kampus berharap, supaya anak bapak ini tidak lagi mengulangi kelakukannya untuk membayar teman-temannya menyelesaikan tugas kuliah. Itu kewajiban masing-masing individu mahasiswa, Pak. Yang kita perhatikan nanti pak, masa depan anak bapak ini.?

Begitulah catatan sehari-hari Faris di kampus. Belum lagi di luar kampus, dilingkungan tempat bergaul dan di rumah.

Suatu pagi, Faris menyiapkan sebuah bingkisan untuk membalas kado-kado itu. berharap ada jawaban atas pencariannya yang selama ini menjadi sosok misterius. Tidak menunggu lama, hanya lima hari saja dari tanggal pengiriman itu, faris kembali dikejutkan dengan kedatangan sepucuk surat dari alamat pengirim yang sama. Kali ini tidak lagi bingkisan berisi buku-buku. Kali ini perasaannya diajak bermain untuk bisa penasaran.

?apalagi nih isi pos, dari pengirim yang sama. Apa sih maunya orang ini??

Perlahan ia buka. Di bacanya isi surat itu.

Assalamu?alaikum wr wb.

Kepada Saudaraku seiman di alamat yang dituju.

Alhamdulillah, setelah berbulan-bulan aku mengirimimu bingkisan sederhana yang pada akhirnya aku menerima sebuah balasan yang selama ini aku tunggu. Meskipun tidak begitu berharap isi bingkisan itu apa. Yang paling aku tunggu adalah kapan aku bisa melihat dirimu bisa berubah. Cara pergaulanmu, sikap mu terhadap perempuan-perempuan di kampus, tingkah mu terhadap dosen-dosen yang memberi kita ilmu, juga orang tuamu.
Maaf, jika isi surat ini sedikit membuka aib mu. Tapi aku tak ada ide lagi untuk mengajakmu berubah, saudaraku. Itu alasan mengapa aku mengirimu buku-buku panduan agama. Berharap ada sedikit celah yang bisa dimasuki oleh kebaikan-kebaikan sampai engkau bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Terakhir, saudaraku.
Sayangilah sahabat-mu, sebelum mereka pergi meninggalkanmu.
Hargailah perempuan-perempuan di sekitarmu, seperti saudarimu di rumah.
Hormatilah yang lebih berusia, sebelum engkau diolok yang lebih muda darimu.
Cintailah mereka orang tua mu yang di rumah, sebelum kamu tak bisa lagi menyebutnya di kala waktu.

Mohon maaf, aku juga masih dalam tahap belajar menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Dari saudaramu.

Wassalamu?alaikum wr wb.


E-mail : gugumsetiawan.edu@gmail.com

?

Pasca kedatangan surat di hari itu. Hatinya teraduk-aduk oleh isi surat yang menyadarkan karena aib-aibnya. Ia baru sadar kalau dirinya ditonton oleh banyak orang. Sampai-sampai tak hormat pada ibu bapaknya pun sudah tercium baunya. Hatinya sakit sesakit ketika ia menyakiti hati bapak ibunya. Tak ada kerukunan yang ia ciptakan di dalam keluarganya semenjak ia masuk kampus dan bergaul dengan gerombolan yang sama sekali mengenyampingkan agama. Hedon telah menjadi tuhan baginya. Hatinya membeku sampai tak merasakan sakitnya hati orang yang dicelakainya dengan kata-kata tajamnya.

Faris duduk terpaku dan menunduk di atas kamar sejak dua jam tadi. Kedua matanya sembab. Mukanya tak lagi keras. Mukanya luntur mengakui kejahiliannya selama ini. Kejahatan-kejatahannya hadir menghakiminya.

?astaghfirullaahal adziim...?
?astaghfirullaahal adziim...?
?astaghfirullaahal adziim...?
?astaghfirullaahal adziim...?

Semenit membaca surat itu, serasa menghakiminya seumur hidupnya yang tak dekat dengan agama. Jauh dari agama membuat ia seperti ini. Ia pun mulai sadar kalau ia salah selama ini. Jauh dari kodrat manusia yang baik.

?Gimana aku bisa menghubungi orang ini. sial!!!!?

Ia buka kembali surat yang tidak sadar menjadi bola remasan. Ia berusaha mencari kontak atau sejenis alamat yang bisa dihubungi cepat. Kalau bisa malam ini mereka harus bisa bertemu. Di sisi surat bagian foot bottom ia melihat ada alamat email ?gugumsetiawan.edu@gmail.com?.

?nah, ini pasti orangnya. Malam ini atau besok harus bisa ketemu. Aku ingin bicara dengannya.?

Siang itu juga, Faris mengirimi email ke orang yang mempunyai alamat email itu. Ia mengajak untuk ketemuan di taman kompleks perumahannya di Arga Regency, di Kota Bandung. Menunggu satu menit, emailnya berbalas dengan balasan.

?inshaa Allah, bisa.?

***

Bekas rintihannya tadi siang masih tersisa sampai pada waktu shalat maghrib sampai isya. Ia pun tergerak untuk memulai shalat di awal waktu dan berusaha shalat di masjid di komplek rumahnya. Terhitung, bertahun sudah shalatnya hanya di jum?at saja. Itu juga karena tidak enak di kampus, kantin-kantin pada kosong ketika shalat jum?at. Bahkan ritualnya hanya pada shalat lebaran saja. Kali ini ia membongkar lilitan kakunya untuk melangkah ke masjid. Meskipun mata jama?ah tertuju padanya yang baru kali ini hadir dalam jama?ah shalat. Bertahun tinggal bertetangga di komplek perumahan, sepertinya dirinya adalah pendatang baru di komplek itu. Kaku nian menjadi jama?ah di awal kedatangannya.

Selepas shalat isya, Faris menuju taman, tempat yang sudah disepakati tadi siang dengan sosok beralamat email itu. Dari kejauhan, ia melihat ada laki-laki berpakaian serba putih duduk tenang dan menunduk. Mungkin laki-laki beralamat email itu, lemparnya.

?ehm..? kode faris kalau ia sudah di taman.
?Assalamu?alaikum..? laki-laki penunggu itu memberikan salam dan mengakkan pandagannya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.

?waa...wa..waalaikumussalam.? ia kaget dan kaku. Ternyata orang yang menungguinya adalah ketua BEM di fakultasnya, Gugum Setiawan. Yang biasa dipanggil Gugum.

?Silahkan duduk Mas Faris.?
?maaf, kalau gue membuat loe lama menunggu di sini.?
?ga apa-apa Mas Faris. Justru saya sangat berterimakasih bisa silaturrahim dengan Mas Faris.?

?ini orang baik bangat. Sudah gue yang minta ketemuan malah dia yang nungguin gue.? Heran Faris atas sikap Gugum.

?Gugum, jadi selama ini yang mengirimi bingkisan dengan tujuan atas nama gue... eh.. saya itu Kamu gum??

?Ia Mas Faris. Sudah dibaca kah mas??
?maaf, sebentar. Apa alasannya kamu mengirimi buku-buku itu??
?tidak ada alasan apa-apa mas. Saya hanya ingin mengajak mas saja...?
?dan... tunggu.. ? Faris memotong bicara Gugum.
?mengajak saya supaya menjadi sosok yang kamu tulis di dalam surat itu??

Keduanya hening. Tapi dalam hati Faris ingin mengatakan kalau ia menjadi tersadarkan dengan tulisan itu.

?Gugum, saya ingin cerita dan ini tidak saya katakan ke siapapun selain kamu.?
Gugum agak heran. Awalnya membuatnya takut kemudian menjadi tenang.

?ada yang bisa saya bantu mas??

?Gugum, saya ingin belajar agama. Jika kamu bersedia, saya berjanji akan membaca buku-buku yang kamu kirim itu. dan buku-buku itu belum saya baca sama sekali. Tapi saya berjanji ingin berubah seperti kamu. Kamu shaleh, baik, hormat kepada orang yang lebih tua. Dan kamu di hargai di kampus. Pantas kamu jadi ketua BEM. Meskipun saya belum tau nama ketua BEM, ya Kamu. Sampai segitunya apastisku sejauh ini. jadi, mohon bimbingannya, Gugum.?

?Alhamdulillahi robbil ?aalamiin.? Ucap syukur Gugum mendengar kesediaan Faris untuk berubah.
?Baik mas Faris. Saya akan mencoba. Tapi saya bukan guru Mas faris, saya juga masih dalam tahap belajar.?

?Inshaa Allah, saya akan siap juga jika kamu saja yang mengajari saya tentang ilmu-ilmu ibadah yang dasar. Wudhuku juga belum sempurna. Kadang lupa mana yang lebih didahulukan antara tangan atau muka. Juga bacaan Al Qur?an. Hampir huruf hijaiah susah dibedakan. Mohon Faris.?
?satu lagi, bagaimana aku bisa terhindar dari mempermainkan perempuan. Aku selalu dihantui, Gugum.?

?Oke Mas. Begini saja. Saya mau kasih penjelasan dulu. Mana tau Mas Faris bisa mengikuti.?
?pertama, setiap sore mas Faris ikut saya ke Masjid Fakultas. Di sana saya setiap hari kamis ada kajian Tahsin. Kajian tahsin itu belajar membaca al Qur?an sesuai dengan cara penyebutan hurufnya, namanya Makhrajul huruf. Nah, kadang, diselingi dengan kajian fiqh, nanti kita bisa mendapatkan ilmu bagaimana kita bisa beribadah sesuai syari?at islam.
Kedua, kalau mas Faris malamnya tidak ada tugas kuliah. Mas Faris bisa membaca buku-buku yang saya kirimi itu. Di sana ada buku bersampul pink, judul bukunya ?Udah Putusin aja?. Buku itu bagus sekali dan cocok buat Mas faris kalau misalnya ingin jauh dari hantu-hantu perempuan yang selama ini pernah bergaul dengan mas Faris. Pengarangnya Ust. Felix Siauw.?
?Mas Faris, islam itu indah. Tidak sulit. Mudah untuk mendekat kepada Allah. Hanya, kita saja yang sulit diatur. Bahkan ga mau diatur. Padahal yang punya kehidupan kan Dia, Allah swt.?

?Iya, Gugum, nanti yang dua poin itu saya ikuti. Ini ibarat kontrak saya dengan Gugum.?

?inshaa Allah... bismillah aja mas Faris.?
?Sepakat..bismillahirrahmanirrahim.?

***

Selepas pertemuan itu, kompas hidup Faris berubah 180 derajat. Tak ada waktu lagi untuk main-main dengan teman-temannya. Saban Kamis sore rutin ikut Gugum ke Masjid Fakultas. Malamnya pun khusyu membaca buku di kamar tidurnya.SMS dan miss call an yang masuk pun dari kontak cewek berinisial Lena pun tak digubrisnya. Teman-temannya, khususnya Lena sang teman spesialnya merasa heran dengan kelakuan Faris yang semakin hari tak pernah membalas SMS. Telepon tidak diangkat. Bahkan di kampus pun jarang ditemukan. Lena dapat kabar kalau Faris sudah menjadi anak masjid.

Sehabis perkuliahan. Faris bergegas ingin menemui Gugum. Karena sore ini jadwal mereka ikut kajian Fiqh di Masjid Fakultas. Tiba-tiba ada rangkulan keras dan sepasang tangan melilit lehernya dari belakang.

?Sayaaaang... kamu kemana aja, ko kamu ga balas-balas sms aku. Boro-boro di balas. Di calling pun ga diangkat. Kamu kenapa sih, sayangku Faris!!!!? rengek manja Lena yang merangkulnya ibarat Faris seperti ayunan daun kelapa yang bisa ditarik kesana-kemari.

?Astagfirullah...? Faris menengok ke belakang dan ia sudah tahu kalau itu lena yang sifatnya biasanya dengan tingkah yang membabi-buta kelakuan ala-ala barat itu.

?Lena, Stop!!! Lain kali kamu jangan lakukan di depan umum. Malu di depan orang banyak. Punya sedikit etika kenapa sih? Satu lagi, ga hanya di depan umum, tapi di mana pun.?

?Faris... sayang..!!!?

?Lena, jangan sebut-sebut itu lagi.?

?Kamu kenapa sih, Faris???

?Stop, banyak yang harus saya lakukan. Kalau kamu mau ikut, ayo. Langkahkan kaki sendiri.?

?Aku mau ikut kemana pun kamu bawa, sayang.?

?Ayo, ke masjid, di sana ada gudang ilmu. Biar kamu tahu juga kemana harus kau katakan kata-kata sayang mu itu.?

?ke masjid.. mesjid... Faris... hellllow. Sejak kapan kamu se alim ini, hah? What happened, honey.? Lena ingin merangkul faris lagi.

?Satu lagi terakhir, kalau kamu ga mau ikut, dan kalau kamu ingin bertemu saya, tolong jangan pake rangkulan-rangkulan segala. Dan jangan menyentuh saya. Kalau kamu mau menegur saya, jangan pake tangan, pakai pensil, pulpen, atau kayu sekali pun. Kita belum muhrim.

Wassalamu?alaikum.?

?Faris.. faris...?

Faris berlalu dari pandangan Lena. Kelaukan Faris yang romantis menurut kamus Lena ikut pergi juga. Heran seheran-herannya bagi Lena melihat transformasi sikap yang drastis berubah. Kamus sayang, romantis, kecupan, pelukan, dan manjaan Lena sepertinya telah berlabuh entah kemana. Benar dugaan Lena, gadis mantan pacar Faris. Cinta Faris telah berlabuh ke cinta yang sesunggunya, yaitu belajar mencintai rabbnya.


-Bersambung-

  • view 180