Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 7 Februari 2016   01:31 WIB
Menerawang Hitam


Terik siang, sepasang mata dihijab kacamata gelap,
Tanah, daun, kulit manusia, pakaian, seluruhnya dipandang seperti berubah lebih tenang. Bukan duka, tapi ia hitam yang tenang,
Bukan suram mencengkram hati,
Meremuk jiwa, bahkan menerawang rasa dengan dzon tak berbahasa juga rasa.

Ia lelaki, Gagah telah menjadi miliknya. Coba tatap wajahnya, Gagah sekaali!!!
Ia wanita, kemayu telah melekat.
Bukan mata berkaca. Tapi mata berbicara, bahwa 'aku dihadirkan sebagai penunggu rusuk si gagah'.

Kelabat awan tak semestinya dimurkai.
Coba satukan puzzlenya,
Ia akan indah di atas kawah gemunung, tak sempurna ngarainya pabila mozaiknya tak terbendung, beterbang berkelebat pelan. Dititis jarum cahaya, air pun hijau merumput.
Bak 'Hujan Tak hanya mendatangkan air, justru mendatangkan rahmat' bagi pelaku syukur-Nya.

Hitam, seisi kebesaran sang Pencipta.
Menerawang, jika ada sang hitam, maka bisalah jadi pembanding si putih. Kulit saja berupa-rupa, hitam adalah kombinasi di dalamnya.

Karya : Muhammad Fauzi