Kaukah itu? (Bagian 1)

Muhammad  Fauzi
Karya Muhammad  Fauzi Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 Februari 2016
Kaukah itu? (Bagian 1)

(Sumber Ganbar:?goleklayangan.wordpress.com)

?Segenggam tabah ini, bisa kah Kau tanamkan sedalam hati mu? Selamat tinggal, carilah yang pantas untuk mu. Terimakasih atas semua ini. selamat tinggal.?

?Hum.... Humaiiiiii,...? Teriak di masa lalu mendejavu di dalam lamunan Hafidz di pagi fajar.

Lamunan yang pahit. Menghiasi pagi yang kosong. Belum juga fajar terhapus pergi oleh mentari. Begitu juga lamunannya, belum juga habis pahitnya. Hatinya tak semesra sepasang bangau putih yang mematuk-matukkan paruh panjangnya di empang sawah. Seekor kerbau baru saja berdiri disamping unggas berkaki panjang itu. sesama hewan saja bisa akrab untuk bertetangga. Saling bertandang di empang yang sama. Cuman, santapannya berbeda. Pasti isi hatinya juga beda walau mereka adalah bukan manusia seperti Hafidz. Hati yang dilanda pahit dan merindu pada sesosok wanita pujaannya.
Cahaya mulai menyergit di dahi Hafidz yang sedang duduk sejak seba?da shubuh tadi. Begitulah kebiasaannya selama 25 hari lebih mengabdi di desa nan indah di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pemandangan sesaban pagi. Duduk di teras rumah Pak Kardi. Rumah Kades tempat mereka menginap selama kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) berlangsung. Tinggal 5 hari lagi. Apakah sepagi itu juga bisa bertahan untuk menggenapkan di hari ke 30. Duduk menyendiri, menyeruput teh hangat buatan Bu Kardi-istri Pa kades, memilin tasbih kayu satu persatu, meluruskan kaki bertumpu ke depan, kaki cembung kursi goyang bergoyang ke depan dan belakang. Rumah kayu menghangatkan hatinya selama merana rindu di sana.
?Hafidz, indah nian pemandangan tuh di depan. Seekor kerbau diikat sang pemilik. Ada bangau putih di bawah. Seekor di punuk kecil kerbau. Mereka bisa saja bertetangga. Seperti lukisan-lukisan di rumahku. Di Tanah Datar. Tanah yang indah. Seindah tanah Garut nih Uda.?

Lamunan berubah jadi gurauan dan bayangan kampung halaman Miqdad. Temannya yangberasal dari suku tulen Minangkabau. Anak yang sungguh beradat dan bersahabat. Sosok penimpal kegaulauan Hafidz.

?Miq... Kamu bisa saja uda. Iyah.. seindah itu juga pernah bersemi di dalam hatiku. Jika di negeri kita ini memiliki dua musim. Kalau hatiku memiliki 3 musim. Bukan 4 musim seperti di negeri tropis.?
?Apa maksudnya tuh Hafidz? Aku ndak mengerti apa tafsir dari kalimat uda barusan?? Miqdad menarik kursi goyang satu lagi ke samping Hafidz. Membetulkan sarung Gajah Duduknya agak ke atas. Menaruh teh Bu Kardi didekat gelas teh Hafidz juga. Penasaran dari adopsi 3 musim ala Hafidz. Apa punya tafsir 3 musim itu.

?Uda, masih ingat kah diwaktu kecil ibu yang memandikan kita, menyuapin nasi putih, disiapin seragam taman kanak-kanak, pulang dikasih jajan, diayun di dalam kain sarung yang diikat di dua tiang rumah. Di nina bobo. Dipanggil anak mama yang tampan, yang pintar, yang rajin, dan yang shalih.?

?Iya, masih Hafidz. Justru aku anak satu-satunya di rumah. Semuanya hanya untukku.?

?Uda, kita belajar angka, mengenal huruf, pandai hitung dan membaca, pasti orang tua kita juga mengajarkan di rumah.?

?Pastilah uda. Kata Nenekku yang sudah almarhumah, wanita itu madrasah pertama buat anak-anaknya. Luar biasa ibuku itu.? moncong Miqdad maju ke depan membanggakan ibu kandungnya. Tetiba ingat, dia melirik, bola matanya berpindah ke kiri melirik Hafidz dan moncong bibirnya mundur ke normal. ? eh iya, Hafidz juga punya ibu tangguh... hehehehe,,?

?Waktu SMP 3 tahun. Lanjut ke SMA 3 tahun juga. Madrasah pertama yang uda ucap itu sudah tak cukup lagi. Karena di sana banyak godaan. Karena mengenal lawan jenis itu sudah mulai tumbuh. Pertanda kalau kita sudah baliq. Sudah dewasa. Untuk mu dosa mu, untukku dosaku. Begitu kira-kira pembagian dosa itu.?

?iiiiiicccchhhh... aku semakin bingung apa yang uda tafsirkan. Apa hubungannya 3 musim dengan yang ini itu tadi Uda Hafidz. Pagi-pagi begini jangan bagi-bagi kebingunganlah. Nih, teh. Kita santap saja ini. nikmat nian teh buatan Bunda Kades ini.? Miqdad memberi jarak kursi dari Hafidz. Menolak mendengarkan tafsiran 3 musim Hafidz. Berlalu menyeruput teh asli Garut.

?Uda, Aku serius. Pada siapa lagi aku ceritakan kalau dia kembali lagi ke hidupku.?

Miqdad menempelkan kursi goyangnya ke dekat kursi Hafidz. Ke pijakan kaki kursi semula. Dia penasaran dengan pernyataan Hafidz kalau ada yang datang kembali.

?Siapa dia Uda? Siapa yang datang kembali itu? Kau memang payah. Kalau bicara selalu tak habis-habis sampai ujung, selalu menanggung cerita. Jangan-jangan kau pernah digantung wanita ya... hihiihihi..?

?Makanya, aku ingin menceritakan tentang musim itu. Uda... ini musim ke dua ku.? Mata Hafidz menatap serius wajah Miqdad yang melongok tiba-tiba. Memang, Miqdad selalu siap dengan mata 100 watt jika membahas perihal isi hati yang biasa diceriterakan oleh Hafidz.

?Uda, Uda sering melihatku menulis setiap malam di kamar kos kita. karena kertas itu adalah mediasi pelampiasan hati yang membawa emosi beralaskan bunga-bunga hati. Aku ingin belajar biar tak jadi seorang yang pecundang. Dari sana aku mulai melihat bagaimana aku bisa membangun keberanian untuk menghadapi segala hal. Utamanya adalah untuk mengucapkan cinta yang halal itu.?

?alamaaaaak. Puitis kali kau ini uda. Langsung saja tanpa bermakna ganda? Susah kali ditafsirkan musim itu.?

?Uda, kemarin sore aku bertemu dengan seorang perempuan yang anggun sewaktu membeli obatnya Aldi ke warung dekat Pak RW 1. Uda, Berjalan ia anggun, bertutur ia lembut, dan berpaling ia tunduk. Aku yakin, aku pernah mengenalnya. Tapi belum bisa kupastikan kalau dia itu adalah perempuan yang pernah sekali menerima cintaku dan sekali meleburkan hatiku jadi pupus untuk membersamainya. Temannya memanggilnya, Ira.?

?Hafidz. Uda. Seberat itukah kau harus memikirkannya. Kau masih tingkat 3 di perkuliahan. Kau juga punya hafalan 30 Juz. Tidak bisakah itu jadi malaikatmu. Tidak bisakah itu jadi penjara sucimu. Istigfar uda. Jodoh tak kan kemana. Kau orang yang baik. Pasti Allah siapkan jodoh sebaik Uda juga.?

?iya uda... astagfirullaaah...?

Bangau-bangau mulai beterbangan. Mungkin rezekinya sudah sampai kenyang di empang sedari tadi. Cukuplah untuk belanja sahari dan dapat terbang sejauh ia mampu. Tapi hati Hafidz belum lah kenyang dengan perbincangan sengit yang tiba-tiba dipotong kandas berujung istigfar oleh uda minang. Betul pula, bahwa teman yang baik pasti beri nasihat baik pula bagi sahabatnya, begitu Hafidz menimpali.
Diantara kedua anak Sunda-Hafidz dan Miqdad-Padang hening seketika itu. tetiba Pa Kardi menemui mereka berdua di pelataran depa rumah yang agak serius dan saling diam.

?Kang Hafidz dan Uda Miqdad, maaf Bapak mengganggu ketenangan akang dan uda berdua.? Tegur Pak Kardi mencairkan suasana.

?Oh, iya Pak Kades, gapapa.? Jawab Hafidz dengan agak kagetan sambil menyilahkan pak Kades duduk membersamai mereka.

?Jika Kang Hafidz dan Uda Miqdad berkenan ikut Bapak nanti siang ke acara undangan salah satu crew tv swasta yang sedang syuting di kampung ini. tidak jauh dari rumah ini. hanya jalan kaki sudah sampai. 15 menit ke sana. Inshaa Allah.?

?Oh iya, Pa. Mau bangat pa. Mana tau kita kebagian ikut syuting pa. Kan bisa masuk tv. Amak dan apakku bisa melihat kiu di tv. Hehehehe,? Miqdad menjawab dengan semangat. Hafidz hanya bisa mengangguk memandangi ulah Miqdad yang terburu-buru.

?Baik pa, inshaa Allah kita bisa ikut Bapak hari ini. lagi pula agenda kita di kampung hanya mempersiapkan rencana perpisahan KKN nanti. Nanti anak-anak yang lain bisa menggantikan saya.?

?baiklah kang Hafidz dan Uda Miqdad, habis sarapan pagi kita berangkat ke kampung bawah.?

***

Kampung bawah. Lokasi syuting acara tv yang fenomenal itu bagi para pemilik hati melo. Acara tv ?Jika Aku Menjadi..? Sampai kabar ke Hafidz yang akan menjadi tokoh perempuan yang akan mengabdi dengan seorang nenek tua yang semangat pada hidup itu adalah perempuan berhijab. Apakah dia perempuan yang Hafidz temui sewaktu di warung. Apakah dia yang punya nama Ira ketika teman-temannya memanggil namanya? Tapi nama yang diterima Hafidz bukan Ira, melainkan Mai. Itukah dia.
Perjalanan menurun dan berbatu menuju Kampung Bawah. Menuju desa harus memakai alas kaki agar tidak mudah jatuh akibat jalan yang berliat dan licin. Butuh perjuangan demi memenuhi undangan Pak Kades. Bisa saja hati Hafidz seperti itu juga. Butuh perjuangan menghilangkan satu nama yang pernah bertandang ke hatinya sejak ia berusia SMA. Sejak itu juga Hafidz trauma akan terikat janji dengan perempuan yang belum halal baginya. Tapi ia berjanji untuk mendapatkan kembali cintanya. Kesungguhannya dalam kuliah, menyempurnakan hafalannya menjadi hafidz 30 juz. Sesuai namanya.
Lain langit lain pula buminya. Langit di Garut-Kampung Bawah cerah. Secerah hati Hafidz yang merasa menemukan nama yang sudah hilang hampir 3 tahun itu. Ditemukan di kampung yang tidak mungkin menjadi tempat pertemuan di musim ke 2. Musim pertama biarlah jadi musim kemarau dimana cinta Hafidz gugur. Berharap musim kedua ini adalah musim penghujan yang bisa menumbuhkan kembali cinta yang sudah mati. Mungkinkah ?
Seorang wanita berhijab dengan seorang nenek tua berudaan memasukkan tangan ke dalam kolam air sawah. Memungut siput-siput bercangkang coklat kehitaman dari pematang sawah. Siput-siput merugikan bagi pertaman padi. Ditepi sawah diteropong sebuah kameramen dengan alat syuringnya ke arah wanita berhijab itu. Ramai nian orang menyaksikan. Jarang-jarang ada tontonan seperti ini di kampung-kampung. Apalagi ini adalah tayangan yang akan diputar di tv setiap sore menjelang maghrib. Para penonton syuting berharap nongol di dalam layar kaca ketika ditayangkan pekan depan. Meskipun tidak mungkin, karena syutin steril dari wajah selain wanita berhijab dan nenek tua itu. Tak apalah, yang penting sedikit ada pengalaman pernah melihat orang yang sedang syuting di tengah sawah.
Hafidz, Miqdad bersama Pak Kades menemui pimpro acara syuting itu. Jalan dibukakan para penonton untuk mereka bertiga yang tiba-tiba jadi tamu istimewa sore itu. saling salam dan saling senyum. Tetiba acara take video di tengah sawah di cut sebentar. Sutradara langsung menemui bertiga. Wanita berhijab sambil menuntun nenek tua ikut berkumpul dengan mereka. Pandangan Hafidz tetap memanah wanita berhijab itu. sungguh misterius.

?Sejak di warung tak lulus mengenali siapa namamu.
Yang ku tahu kau adalah Ira, panggil teman mu.
Apalagi wajah mu tak ku lihat.
Sungguh aku menjaga pendangan ku.
Keculai sudah halal bagiku.
Sore ini, Aku diajak kesini, berharap bisa mengetauhui siapa nama lengkap mu.
Siapa nama aslimu.
Kau kah Mai sebut pak Kades atau Ira panggil temanmu.
Atau Kaukah itu Humai...??

Begitu rasa penasaran hati Hafidz. Berbicara sendiri dalam hati. Tak ada yang tahu kalau Hafidz punyai hati yang sedang bergejolak. Menerawang nama seorang wanita berhijab yang menjaga segala tingkahnya.
Dari pematang sawah sampai tempat hafidz berkumpul dengan para crew, pandangan wanita berhijab hanya pada nenek yang dia tuntun. Sampai pada sesi salaman bahwa ia mengatup kedua tangannya di depan dadanya sesiapun lelaki ia mau salamin. Shalihah sekali ia. Pasti dia bukan Humai. Karena Humai tak seperti itu kelakuannya. Sama sipapun ia rampas tangannya ketika bersalaman.
Ketika wanita berhijab itu tepat di depannya, Hafidz membuka mata selebar-lebarnya. Misi utamanya harus tuntas siapakah perempuan berhijab yang menghantui pikirannya ketika di warung. Bukan Mai, bukan Ira, atau pun Humai.

?Assalamu?alaikum... saya Humaira.?

Lempar salam wanita berhijab pemilik nama Humaira itu ke Hafidz. Mulut Hafidz tak bisa terbuka. Keluh rasanya. Hatinya bergetar. Tangannya gemetar terkatup di dadanya menyambut salam Sang Humaira. Wanita berhijab lebar. Salamnya yang ayu, tingkahnya yang luhur, dan pandangannya yang teduh. Melelehkan semua anggapan-anggapannya sejak sore kemarin. Sekarang terjawab sudah. Wanita yang pernah mengatakan untuk menanamkan segenggam tabah dulu adalah dia. Bukan lagi Hum atau Humai yang dulu. Bukan Mai panggilan Pak Kades. Bukan Pula Ira panggilan teman-teman KKN Hafidz. Namanya adalah Humaira. ?Kaukah itu?? tanya yang dalam oleh Hafiz di hati kecilnya.

***
Langit tak selamanya biru. Bunga tak selamanya mekar. Larva tak selamanya berbentuk ulat. Metamorfosis bentuk menjadi makhluk yang indah. Mozaik warna sepasang sayap indah masyigul. Sahabat bagi kuntum bunga yang memekarkan mahkotanya. Humaira, sang gadis capcus tak lagi Hum atau Humai yang dulu. Humaira, sebuah nama yang menjadi saksi sejarah Kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Fisik dan jiwanya telah hijrah. Barangkali isi hati-sang cinta juga bersama ikut hijrah. Ketika dipandang, sungguh meneduhkan pandangan. Ketika didengar tuturnya, sungguh menenangkan pikiran. Hanyut sehanyut-hanyutnya. Berkata Ia seperlunya. Memandang Ia hanya sekilas. Memastikan kalau didepannya bersama mengatup tangan adalah sang mantan. Sekilas pandangan itu berlalu. Wanita berhijab adalah Humaira dan meninggalkan aroma penjagaan.

?SubhanaAllah, Engkaulah penyentuh hidayah bagi hati-hati kami, Ya rabb.? Kekaguman menyetrum segala keping darah dalam jiwa Hafidz. Seperti disetrum listrik. Dari ujung kaki sampai kepala, seperti ditindik duri-duri tajam. Kagum bercampur gagap. Hampir salah tingkah. Ucapnya hanya bisa didengar oleh dirinya. Berdegup mengguncang hati jantungnya.

?Wa?alaikumussalam... Hum..Humai...Humairaa....*^**.?
Salam terasa berat untuk diucapkan dari bibir lesunya. Mata terasa membanjir, meruah merembes dibulu-bulu, basah terasa di atas tulang pipi. Sebutir dua butir jatuh. Gemetar bibir sembul keluarkan satu nama yang dirindukan. ?Humaira..? lirih Hafidz tak ada yang mendengar.

?Astagfirullah.... Astagfirullah... Astagfirullah.?
?Kang Hafidz. Ini semua para petugas yang melakukan syuting di sini.?
Pak Kardi menepuk keras punggung Hafidz yang tertunduk lesu menangisi dirinya.

?Iya Pak Kardi...? Terkejut dan menepis butir-butir air matanya. Terlihat Hafidz seperti terpukul. Hati diaduk-aduk antara kekaguman bercampur merasa bersalah.

?Pak Kardi, Punten pisan, sepertinya saya dan Miqdad kembali ke rumah Bapak lebih dahulu saja. Anak-anak di sana sepertinya lagi membutuhkan kita berdua. Semoga tidak mengurangi kemeriahan pertemuan siang ini.?

?Ya sudah Kang Hafidz. Bapak tidak melarang. Sudah menemani bapak kesini saja sudah senang Kang. Iya tidak apa-apa kang.. Mangga..?

Miqdad memandangi dua laki-laki itu sepertinya sedang serius pembicaraannya. Ketika Hafidz dan wanita berhijab tadi berhadapan dan tak saling pandang, Miqdad sudah dapat sinyal kalau wanita itulah yang membuat Hafidz dipenjarai oleh rindu yang menganga.

?Uda Miqdad, Ayo kita ke Rumah...? Ajak Hafidz nada serius. Rona muka tak begitu bersinar seperti Hafidz yang murah senyum biasanya.
?Tapi....? Sela Miqdad masih ingin berlama-lama menyaksikan kegiatan syuting.
?Baiklah...? Miqdad mengalah ketika melihat kelopak mata Hafidz yang lembab. Bekas air mata yang tak bisa ditinggalkan. Membekas seperti rindunya yang belum hilang.

***

Hafidz berjalan sekencang-kencangnya. Lurus memandang ke depan. Jalan yang menanjak dan licin tidak jadi sulit baginya. Hatinya merasa diaduk-aduk ingin mengucapkan kalimat yang belum terucap. Seperti dikungkung masa lalunya yang menjerat anak orang ke jalan maksiat. Masa lalu jahiliah yang menghantui dirinya saat ini.
Miqdad tinggal sejauh 10 meter dibelakang Hafidz. Dipersimpangan jalan Hafidz mengambil jalan ke arah kiri. Harusnya lurus jika mau pulang ke rumah Pak Kardi.

?Uda Hafidz, mau kemana?? Panggil Miqdad dari belakang dan heran kenapa membelok ke kiri.
?Kan harusnya lurus. Gimana sich!!!? Kesal Miqdad tak dipedulikan.

Diujung jalan yang membelok ke kiri ada sebuah masjid. Hafidz terus berjalan tanpa memedulikan Miqdad yang tertinggal dan memanggil-manggil namanya. Miqdad hanya mengikuti pasrah melihat tingkah Hafidz yang berubah tiba-tiba. Melihat jam tangan baru menunjukkan 10.30 WIB.

?Mungkin mau shalat Dhuha dulu.? Miqdad berusaha mengerti. Sepertinya Hafidz ingin menenangkan diri dan menghapus air mata kepedihan dan kebersalahannya di rumah Allah itu. Sunyi tidak ada orang lain selain mereka berdua.

Hafidz membasahkan anggota badannya untuk berwudhu. Memasrahkan dirinya dalam dhuhanya yang khusyu. Badan tersungkur sujud sebada shalat dua raka?atnya. Miqdad menunggu ikhlas di shaf belakang Hafidz. Menonton badan Hafidz yang tersengguk-sengguk dalam tangisan sujudnya. Terlalu lama, menunggu sejam. Miqdad pun menghampiri Miqdad untuk menyadarkan dari kesedihan yang berlebihan itu.

?Uda... Uda Hafidz... sudahlah... Ceritakanlah apa yang membuat mu merintih menderita seperti ini. Tidak baik jika membuat badan mu sakit. Kepala Uda nanti pusing.? Membangunkan Hafidz dari sujudnya.

Mata Hafidz basah sebasa-basahnya. Menunduk tak sanggup melihat Miqdad. Bicarapun susah. Mulut terkunci oleh rintihan yang belum habis.

?Uda.. istigfar Uda... ayo ceritakanlah. Jangan menyalahkan diri sendiri.
Ayo tarik nafas pelan-pelan..?

Hafidz berusaha mengikuti instruksi Miqdad untuk mendapatkan ketenangan hati dan tak merintih lagi. 3 menit diperagakan, akhirnya teratasi juga.

?Uda, sejak tadi dari Kampung Bawah, Awak sudah heran dengan Uda Hafidz. Berjalan pun Awak ndak bisa mengejar Uda. Kayak pedati kuda di Tanah Datar. Tak bisa dikejar. Ada apa gerangan Uda? Tiba-tiba ngajak balik. Ceritakanlah.?

Sesenggukan masih ada. Sekali dua kali. Berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Menatap kedua bola mata Miqdad yang terbelalak tajam. Serius menunggu jawaban atas tingkah anehnya siang itu.

?Uddda... Miqdadd... Dialah.. dialah yang Aku ceritakan tadi pagi. Dialah wanita berhijab itu. Dialah yang aku temui ketika di warung Pak Dandi. Namanya Humaira. Bukan Ira ataupun Mia. Dialah yang mewarnai hati ku di musim pertama dulu, sewaktu di SMA?

?Cantik sekaaalii Uda Hafidz. Terus apa yang membuat Uda menangis? Bukankah pertemuan ini awal segalanya. Sambunglah silaturrahim lagi!!!?

?Aku menangis karena kekaguman melihat perubahannya yang se-indah itu. se-shalihah itu. Aku memandanginya, tapi dia tak memandangiku. Aku merasa, Akulah penyebab semua ini.? Potong Hafidz sebentar mengambil nafas.

?Dulu ketika SMA. Aku yang merayunya supaya dia menjadi teman istimewaku. Pacarku. Waktu itu kami sama-sama tak kenal hukum agama. Tiga tahun kami bersama. Sebatas pacaran anak ingusan biasa. Dari situ, aku mengira, dia menghindar dariku yang akhirnya putus karena dia mengetahui tingkah kami itu salah. Lari dari jalur agama. Ketika aku meilhat Humai yang sekarang. Itulah jawabannya. Astagfirullah.. ampuni hamba ya Allah.?
?Uda Hafidz. Jika hidup ini ada yang patah. Masih bisa diperbaiki yang patah itu. Ya mengganti dengan yang baik. Tapi sekarang Uda sudah menjadi Hafidz Al Qur?an. Yang patah dulu digantikan dengan yang baik sekarang. Semoga itu menjadi modal Uda sampai akhirat sana. Alhamdulillah. Jika sang Mantan yang Uda lihat menjadi shalihah, semoga itu juga pengganti yang patah baginya.?
Siang yang syahdu. Meratapi masa lalu menjadi bahan muraqabah dan muhasabah bagi diri Hafidz. Rumah Allah menjadi saksi atas keduanya yang menyaksikan kebesaran-Nya pada diri seorang wanita berhijab yang tak sanggup menatapnya di siang itu. Keduanya sama-sama membalut hati yang pernah ternoda.
***

Hari ke 26 KKN. Hari di mana sebentar lagi desa akan menjadi kenangan terindah dalam pengalaman hidup. Terlebih bagi Hafidz yang telah menemukan kembali sosok yang menghilang 3 tahun lamanya.
Di fajar yang berbeda. Hafidz menunggu sang bangau-bangau putih. Akankah mereka kembali di empang di pagi kemarin? Setidaknya menampakkan wujudnya. Seperti Humaira yang telah hadir kembali ke dalam pandangannya. Meskipun belum menjadi bagian hidupnya. Begitulah harapannya di waktu yang belum tentu kepastiannya.

?Kang Hafidz. Pagi ini akan ada tamu di rumah ini. bapak harap, teman-teman Hafidz yang lainnya agar tetap di rumah. Tidak ada kegiatan lain di desa, begitu harapan Bapak..?

?Oh iya Pak.. Tidak apa-apa Pak Kardi. Kalau boleh tahu, tamu dari manakah Pak yang akan berkujung di pagi-pagi?

?itu...yang syuting kemarin siang di Kampung Bawah, mereka mau sekalian pamitan karena syutingnya sudah beres katanya.?

?Oh iya Pak. Siap. Nanti anak-anak saya tahan di rumah. Terimakasih Pak atas informasinya.?

Kesempatan terakhir bagi Hafidz untuk bertemu dengan Humaira.
?Pasti Humaira akan ikut juga kesini.? Pikirnya.

***

Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Sesi ramah tamah di ruangan utama Pak Kardi sedang riuh. Humaira lebih memilih berdiri sendiri di pelataran rumah. Memandangi sawah yang saban pagi dilihat oleh Hafidz. Hafidz melongok keluar melihat Humaira sedang sendiri. Hafidz pun nekat mendekatinya. Kesempatan terakhir untuk mengetahui kabar Humaira, selebihnya jika dia mau jadi Aisyah bagi Hafidz.

?Assalamu?alaikum... Humaira.? Ucap Hafidz begitu ragu mendekat. Jarak mereka dua meter saling memandangi hamparan sawah.

?Wa?alaikumussalam...? Humaira tak sebut nama Hafidz. Melirik ke kanannya, ternyata itu adalah Hafidz yang dulu pernah jadi cinta monyetnya.

?Hafidz....? melirik sebentar dan membuang pandangannya ke depan.

?Iya... Aku Hafidz... masih ingatkah? Dulu teman SMA mu di SMA 1 Bandung.?

Humaira mengangguk membenarkan penjelasan Hafidz. Semuanya sudah berubah drastis pikir Hafidz. Memandanginya juga sedetik sudah berlalu. Tapi tetap membawa keayuan, bukan kesombongan.
Percakapan itu tersambung pertanyaan demi pertanyaan. Ucapan demi ucapan. Anggukan, senyuman dan diam. Begitu berlangsung selama 30 menit. Hafidz punya misi yang terpenting. Bahwa Ia ingin meminang Humaira. Sulit menemukan wanita seperti Humaira. Segala masa lalu telah luput di dalam memori. Ini lah kehidupan barunya. Jiwa dan Fisik Humaira yang baru.

?Humaira... Aku ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sulit untuk mu mendengarnya bahkan untuk menerimanya. Tapi, ini harus aku sampaikan pada waktu ini. karena waktu adalah rahasia. Aku tak bisa berharap bahwa kita akan dipertemukan kembali seperti saat yang tidak disangka-sangka ini. Humaira, masih ingatkah dulu waktu di SMA. Humaira pernah mengatakan bahwa aku harus menggenggam tabah setelah ucapan putus yang dulu. Bagiku, segenggam tabah itu adalah masing-masing kita harus menemukan kehidupan masing-masing yang lebih baru. yaitu, kita sama-sama memperbaiki diri. Itu katamu Humaira. Aku masih menyimpan kalimat itu....? jujur-sejujurnya Hafidz meluapkan isi hati yang ditahan 3 tahun telah habis.

?....Aku semangatkan diri. Aku rubah haluan hidup. Sampai pada titik yang merubah hidupku, aku lulus di perguruan tinggi dan aku buktikan selama 2 tahun aku menjadi santri dekat kampusku. Aku isi pikiran ini. sekarang aku sudah Hafidz 30 Juz, Humaira.?

Humaira hanya bisa menahan kata. Mendengar kejujuran Hafidz yang telah menjungkirbalikkan hidupnya sampai menjadi seorang Al Hafidz. Kagum dan tidak menyangka.

? 3 tahun aku sudah menggenggam tabah ini untuk menemukan jawabannya. Humaira, maukah kamu menjadi pendamping hidupku??

Humaira sontak dan menegakkan pandangannya. Seperti petir ditengah siang menyambar.
?Tak pernah ia sedewasa ini.? pikirnya.

Ini masalah serius. Ini masalah pendamping hidup. Walakhir, Humaira mengeluarkan bicara yang panjang. Sebelumnya hanya berkata iya dan mengangguk.

?Hafidz... Aku juga sama sepertimu, tak menyangka akan dipertemukan di desa ini. Desa yang indah. Aku mengira selama ini Kamu sudah menghapus tentang aku dalam ceritamu. Tapi, dipertemuan yang Allah rahasiakan ini Aku temukan jawabannya. Aku juga sama, bahwa segenggam tabah itu untuk menabahkan hatiku agar menjadi sosok yang bisa berubah ke arah yang lebih baik. Aku sanggupkan diriku sebagai sahabat bagimu, itu jawaban hatiku. Tapi untuk menjawab pertanyaan kamu yang terakhir, tentang masa depan menjadi pendamping hidup, Aku punya jawaban lain, Hafidz...?

Hafidz menoleh ke Humaira, dan Humaira memalingkan pandangnnya ke depan. Tak saling temu juga. Hati Hafidz tersontak dan curiga mengawal.

?...Aku sudah dipinang oleh seorang mahasiswa dari kampusmu. Dia juga dari kuliah di fakultasmu. Dia tingkat 4. Namanya Mas Hamzah. Segenggam tabah itu juga yang menguatkan aku untuk menunggu pinanganmu, sebenarnya. Hanya, dari Mas Hamzah yang lebih awal menaruhkan jawaban pasti. Kami para perempuan hanya menunggu di waktu ketidakpastian. Tapi kami yakin, bahwa jodoh itu pasti dipertemukan. Maafkan aku, Hafidz. Semoga jawabanku tidak memilukan dan kamu dipertemukan dengan akhwat pilihanmu, juga pilihan dari Allah.?

Benar-benar petir menyambar hati Hafidz di siang itu. bertahan menggenggam tabah 3 tahun dijawab dalam satu kalimat, dipinang oleh Mas Hamzah. Ketua organasasinya di LDF Al Amanah. Sosok yang menjadi mengajak dirinya berubah menjadi seperti saat ini. Sama sepertinya, Mas Hamzah sama-sama hafidz 30 Juz.
?Baiklah....? Hafidz menjawab dengan butir mata menyertai kata itu. pahit sekalipun manis. Bahwa wanita yang dicari-cari, sudah menjadi bagian hidup teman karibnya di kampus.

?saya ucapkan, semoga sakinah mawaddah warahmah. Barakallah laka wa baraka...?

?Maafkan saya Hafidz. Wassalamu?alaikum.?

Salam menyertai berlalunya Humaira dalam bagian hatinya. Humaira meninggalkan Hafidz sendirian di pelataran depan. Tak ada bangau-bangau. Karena terik matahari yang panas. Hanya suara desakan anak sungai yang menyejukkan suasana. Begitu juga dengan hatinya, yang dicari dipetemukan dalam dua hari, kemudian pergi ke dalam hidup orang lain.

?wa?alaikumussalam.?

?

  • view 195