Taing, Gadis Mandailing

Muhammad  Fauzi
Karya Muhammad  Fauzi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Taing, Gadis Mandailing

?

(sumber foto:?liandamarta.com)

?

Terlalu panas pandangan itu. Ku pasang jemari memagar di depan muka. Oh, tak kuat iman itu. Karena begitu nasihat guru ngajiku di pondok. Tak boleh nakal pada masih tahap awal memandang. Timpali saja dengan syukur , tapi harus lebih besar minta ampun mu.

Ku bergerak, sepertinya niat bukan masalah menjaga tatap. Hanya memastikan kalau wajah itu dua kali pernah kulihat. Entah di mana?

Piringan hitam ingatanku berputar Mencari kode yang tepat. Kalau itu adalah teman se SD ku di tahun 1990. Pertama bertemu dia tahun itu, dan kedua tahun ini, 2010. Dua dekade. Tapi kenapa urat wajahnya masih identik yang dulu? Ah, tidak mungkin.

Ku cobalah jurus 'Tawadhu', alias pasrah tapi berjuang. Mungkin doaku diijabah. Menemukan jawaban, apakah dia perempuan kecil di tahun 1990 adalah dia gadis di tahun 2010? Ah, ku tak suka berlari di lorong waktu. Yang tepat saja, dekati dia.

Gerimis penasaran sedang membara di dada. Tak bisa ku lenyapkan dalam tidur nanti malam jika sekarang melepaskannya begitu saja.

"Mba, Taing namanya?" Penyakitku kambuh lagi, sok tahu-menahu.

"Maaf mas, Taing di sini banyak sekali. Kami ini butet sedunia sedang reunian di tanah Sunda ini. Jika mas Mencari Taing yang mas maksud, silahkan ke rumahku. Tepatnya di hadapan wibawa ayah dan ibuku. Begitulah kami diadatkan di tanah Mandailing sana. Juga, hukum Islam di seluruh penjuru negeri bumi ini."

"Alamak, bukan ku bermaksud demikian, tapi sejujurnya jika jujur adalah penantianmu. Jadi, aku juga ingin memyempurnakan agamaku. Kebetulan saya juga sudah waktunya menjadi Ucok untuk pasangan nya butet, jadi suami pelengkap istri, jadi kumbang temannya mawar merah seperti kerudungmu, jadi taman utk menmbuhkan bunga semanis kamu. Baiklah. Suatu saat, akan kusambangi rumahmu. Benar. Kaulah Putri kecil di tahun 1990."

Keduanya tak bertatapan, jarak mereka 2 meter. Jika perlu mereka butuh telepon2 an dari bekas kaleng susu berkabelkan tali kasur. Dapatlah pembicaraan mereka di dengar banyak orang. Khalwat pun tidak.

"Bagaimana abg tau, sementara kita berdua tidak saling pandang?"

"Sepintas Ketika aku mendekatimu, lalu ku buang pandanganku."

DARRRRR (gelegar petir). SHIRRRRRR (gemericik gerimis)

"Kalau begitu., kutunggu lamarannya abang. Spaya kita tak lama saling berbayang. Saya takut dosa bang."

"Gerimis yg Allah kirim ini biarlah jadi bara saksi niat baikku ini. Pulanglah, Studimu jika sudah selesai. Tak baik bagi gadis sendirian, begitu juga bujang dalam pencarian"

"Baiklah bang"

Hujan bersambut doa, doa bersambut ijabah sang pengatur cerita hidup.

  • view 253

  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    Ceritanya sudah asyik. Temanya penting. Perhatikan penggunaan tanda baca dan huruf besar. Perhatikan konsistensi antara aku dan saya.

    • Lihat 1 Respon