Refleksi Kemiskinan Penduduk Kota: Tantangan HMI

aan suherman
Karya aan suherman Kategori Politik
dipublikasikan 21 Mei 2016
Refleksi Kemiskinan Penduduk Kota: Tantangan HMI

Sebagai lazimnya diketahui, ibu kota menjadi simbol dalam negara. Sama halnya dengan ibu kota Jakarta, selalu menjadi bintang utama lengkap dengan segala gemerlapnya. Tak pelak, banyak di antara warga negara yang berasal dari daerah, terbius dengan kemegahan kota Jakarta. Mereka berlomba-lomba berdatangan dengan membawa harapan-harapan yang tinggi, yaitu meningkatkan taraf hidup keluarganya, serta dapat mengangkat martabat dan harga dirinya.

Tapi, setelah menginjakkan kakinya di ibu kota, kehidupan sejahtera yang selalu diimpikan ternyata tak kunjung datang. Justru yang ada hanya keadaan ekonomi yang semakin ambruk hingga akhirnya sebahagian dari mereka ada yang memutuskan untuk kembali ke kampung halaman atau ada juga yang memilih menjadi gelandangan. Yang terakhir disebutkan menyebabkan semakin banyaknya gelandangan yang mengerumuni ibu kota.

Ambruknya keadaan ekonomi para pendatang ini disebabkan karena minimnya kapital mereka dalam menghadapi persaingan dengan pemilik kapital yang lebih besar dan bahkan dominan. Dominasi dari pemilik kapital yang lebih besar juga telah menghegemoni selera, gaya hidup serta cara pandang masyarakat ibu kota, sehingga sirkulasi antara modal dan keuntungan selaras dengan rencana sebelumnya.

Semakin tingginya persaingan di ibu kota, menyebabkan akumulasi ekonomi semakin meningkat serta pihak-pihak berkepentingan terus mengadakan inovasi agar tidak kalah dengan pihak-pihak berkepentingan yang lain. Tak ayal, masyarakat pendatang yang kurang matang secara alamiah akan tersingkir dengan sendirinya. Imbasnya, mekanisme seperti ini yang menjadi pemicu jurang-jurang kemiskinan, sebab penguasaan terhadap sesuatu,  terpusat pada segelintir orang.

Berbeda halnya dengan masyarakat yang bermukim di pedesaan. Taraf dinamika persaingan ekonomi di desa-desa ternyata minim. Oleh karena itu terkesan sangat sederhana bahkan primitif. Mungkin berangkat dari sini masyarakat pedesaan sering dikatakan mundur dalam pembangunan daerahnya.

Tapi sejatinya perlu kita sadari, bahwa kesederhanaan masyarakat desa dalam lingkup persaingan ekonomi disebabkan karena masih kuatnya semangat menjunjung kearifan lokal, dimana antara masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya saling menghormati dan menghargai. Gambaran kesederhanaan ini dapat dilihat pada salah satu daerah Lembata, Nusa Tenggara Timur, dimana dalam kesehariannya masyarakat daerah ini tidak saling mendahalui untuk mengejar keuntungan. Di pasar Leworaja misalnya, para penjual tidak akan memperdagangkan jualannya sebelum ditiupnya peluit oleh petugas sebagai tanda dibolehkannya untuk memulai perdagangan. Di samping itu, juga terdapat aturan oleh tradisi setempat, setiap orang berhak untuk melaut tapi dibatasi dengan waktu (Mahasiswabicara 6/5). Sederhananya, meskipun terkesan primitif, namun dengan adanya penghormatan dilandasi kesadaran, maka setiap orang tidak akan terjerumus dalam jurang kemiskinan. Juga dengan adanya kepatuhan pada peraturan tradisi setempat, masyarakat merasa dilindungi hak-haknya.  

Tantangan HMI Saat Ini

Menghadapi situasi seperti ini, seharusnya HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang berbasiskan Islam menjadi penopang sekaligus pengantar masyarakat menuju kesederhanaan. Meskipun sebenarnya yang memiliki tanggung jawab besar adalah pemerintah, namun begitu lamanya mekanisme jika hanya mengharapkan pemerintah.

Utamanya di kota-kota besar, HMI menjadi rujukan yang diharapkan dapat mengantarkan tipe tatanan ideal masyarakat sehingga akan terealisasinya insan pencipta sebagai salah satu nilai yang terkandung dalam HMI itu sendiri.

Meskipun kita ketahui bersama, HMI kini tengah dirundung masa-masa yang suram. Banyak tantangan yang menerpanya karena lupa akan khittah awalnya. Dengan adanya sinergitas antara menyempurnakan tantangan zaman ini, diharapkan HMI akan semakin terpacu dalam perubahan sesuai aturan HMI sendiri. Bukan hanya disiubukkan oleh riak-riak media yang serba tidak pasti.

  • view 129