Masihkah...

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Maret 2016
Masihkah...

?

?hai...?, sapa ku.

?ohh, hai..?, dia berbalik lalu sepersekian detik baru sadar bahwa itu diri ku.

?sendirian ??

?yeah...?

?kau sendiri ??

Aku mengangguk ragu.

?ngapain ??, tanyaku setelah hening lama.

?ehng, henghhh...?, dia menarik nafas berat sambil menunjuk buku ? bukunya.

?ahh... okeyy..?, aku tersenyum maklum.

?kau ??

?aaku..?, aku mencari alasan yang logis.

?cari inspirasi?, tebaknya.

?ahaa..?, aku mengangguk meyakinkan.

Dia kembali menulis dalam bukunya.

?bolehkah ??, aku menunjuk salah satu bukunya.

?yeahh, silakan.. aku tahu kau melahap buku apa saja..?

?tidak juga. Buku menurutku seperti musik menurutmu. Kau bisa memainkan lagu apa saja, namun tak selalu lagu yang kau mainkan kau sukai?

Tangannya berhenti untuk menulis apapun yang ia coba untuk ditulis. Memandangku. Lalu mengarahkan pandangannya ke depan.

?terkadang mencari makna sebegitu sulitnya. Setiap lagu punya cerita tersendiri untuk diciptakan, untuk dinyanyikan. Dan benar katamu, lagu yang dimainkan belum tentu disukai. Seperti berjalan, pun begitu. Ada saatnya kita merasa salah jalan, tapi tak mungkin kembali?

Aku tersenyum kecut.

?aku sepertinya merasa tersindir?, ujarku.

Ia mengayunkan penanya. Lalu melanjutkan tulisan artistiknya[1].

Aku membaca buku yang aku ambil dari tumpukan yang ada di sampingnya. Judulnya sangat menggugah hati-?Stitches?.

Aku menelusuri barisan halaman di daftar isi. Lalu membuka halaman secara acak dan membacanya.

Di sela rambutku, dalam penglihatan samar ku, dengan ujung mata. Aku melihatnya memandangi ku. Aku masih berpura-pura membaca. Tak baik membuyarkan kebahagiaan orang lain. aku menghitung sampai angka sepuluh.

?aku boleh membawanya pulang ??

Dia tenang sekali, saat tertangkap basah.

?coba ku lihat..?

Ia membalik cover bukunya.

?boleh.. tapi hari selasa aku ada pelajaran yang mengharuskan untuk membawanya?

?okee.. hari senin aku kembalikan?, janji ku.

Aku mengamati apa yang ia tulis.

?bolehkah aku menuliskannya untuk mu...?

?apa kau serius ??

?tentu saja..?, aku mengambil buku dan penanya.

?kau bisa mengatakan apa yang harus aku tulis?

Dia mulai berkata, aku mulai menuliskannya.

Tidak ada alasan tertentu untuk ku berjalan menyusuri jalan kota saat sore hari. Aku hanya suka melakukannya. Naik bus umum, turun di halte depan toko buku, masuk ke dalamnya, dan menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 04.00 sore, lalu aku mulai berjalan tak tentu. Kemana pun. Menyebar senyum kepada siapapun.

Sesaat singgah pada kursi taman yang ditanam di bibir jalan. Udara kota saat sore hari tidak begitu berpolusi seperti pada waktu lain. Itu hanya menurutku saja sih. Selain pada pagi hari tentunya.

Dan ketika aku berjalan kembali menuju toko buku untuk bus terakhir pada pukul 05.00. Aku melihat punggung dengan kemeja broken white, dan topi hitam yang dibalik ke belakang. Aku sangat yakin bahwa itu dirinya. Aku hanya menyapa ?hai?, kalau kalau salah orang. Karena aku memang sering salah. Dan tentu saja aku benar jika itu tentang dirinya. Dimana dia adalah orang yang tak hentinya memandangku dengan senyum berbeda selama beberapa tahun belakangan. Bukan waktu yang singkat memang. Namun hati dan pikirannya tidak selalu sama. Yang memang mungkin itulah yang akan dilakukan orang lain ketika jadi dirinya. Aku bahkan tidak yakin saat ini ia masih punya rasa yang sama. Terakhir aku melihatnya memandangku dengan nanar dan wajah yang begitu terluka. Dan mulai detik terakhir aku melihat punggungnya. Aku selalu berdoa untuk kembali dipertemukannya. Hari ini Tuhan mengabulkannya. Sementara aku tak menyiapkan argumen apapun. Tapi memang aku harus menyelesaikannya bukan, sekalipun aku beresiko dia tidak sudi kembali menemuiku.

?kau marah padaku...?, suara ku menghentikan suara yang keluar bibirnya.

Dia tak mempedulikanku, ia teruskan untuk mendikte ku.

Aku mengangkat wajah.

?aku bertanya.. apa kau marah padaku ??

Ia menggigit bibir.

?kenapa kau pikir seperti itu ??

?karena aku tahu apa yang kau sembunyikan ??

?apa yang kau katakan... aku tak tahu apa yang aku sembunyikan dari mu?

?benarkah ??, tanyaku sambil memeluk bukunya.

?apa saja yang kau tahu ??, ia tertekur.

?aku hanya mengetahui satu hal?

Dia masih terdiam.

?bahwa aku ketinggalan bus terakhir.. byee..?

?oke, bye...?, aku mengulum senyum meletakkan bukunya. Dan mengambil buku yang berjudul ?Stitches?. Lalu berlari sekencangnya.

***

??????????? Dia masih seperti itu. Tapi syukurlah aku tinggal sedikit menuliskan resume untuk bahan ujian di hari senin mendatang. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri ketika membereskan buku.

??????????? Apa kabar mimpi-mimpinya ?, batin ku.

??????????? Apakah ia masih memendam rindu pada batu karang yang memecah air ?

??????????? Aku kembali membuka buku ku untuk melihat sampai mana tadi ia menuliskannya. Dia benar-benar penulis yang cepat, dengan tulisan yang jauh lebih baik-cenderung bagus.

Okee baiklah.. suatu keberuntungan.

Aku membalik satu halaman kertas lagi, entah kenapa.

Ada satu baris tulisan tepat di tengah.

Apa kau masih mencintaiku ?, tulisnya.

Aku dengan cepat memasukkan buku ke dalam tas, menyambar jaket, dan berlari tunggang langgang ke tempat parkir zona D yang terletak tak jauh dari halte. Tentu saja ia sudah tidak ada di halte. Seberapa jauh ia mengejar bus tadi. Aku mengerang frustasi dalam lari.

Aku berpacu dengan kencang. Tepat saat mencapai lampu merah di perempatan. Mataku tertumbuk pada gadis yang berjalan dengan santainya di sebelah kiri ku. Ia berhenti, menanti kendaraan dari arah utara berhenti. Aku menaikkan kaca helm untuk memastikan.

?kau bisa pulang dengan ku, naiklah..?

Ia kebingungan mencari suaraku. Dan ketika menemukan ku, tak pernah ku melihat senyum seperti itu.

Dia berjalan ke belakang. Ia menepis rambutnya yang menutupi wajah. Mungkin angin cenderung lebih kencang.

?masih..?

?apa maksud mu ??, ia terheran dengan apa yang lontarkan.

?Aku masih mencintai mu?, kataku sambil menoleh ke belakang. Kali ini senyumnya semakin lebar.

?

[1] Tulisannya tak berubah, *jelek banget sumpahh.

  • view 117