Mengelabuhi Kabut

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Mengelabuhi Kabut

Mengelabuhi Kabut...

by AAiinae

?

??????????? Seperti kini yang sedang aku lihat....

Matanya tertuju lurus pada jalan yang akan ia tempuh. Pandangannya benar-benar kaku. Sekaku tulang pipinya yang menonjol keras. Orang itu terus berlari memacu kakinya berlomba dengan angin.

Aku mengamatinya. Tak satu gerakan pun lepas dari sudut mataku. Dan aku sebenarnya tidak sembunyi dimanapun seperti yang biasa dilakukan oleh seorang pengamat. Aku benar-benar jelas sedang mengamatinya.

Sesaat dia palingkan muka mengahadapku yang aku balas dengan senyuman simpul sekenanya. Lalu kembali mengarahkan pandangan ke ujung jalan yang entah dimana, aku sendiripun tak tahu.

Dia seperti bukan lagi dirinya. Kita pernah saling bicara dan bertegur sapa sebelumnya. Dia sangat hangat, begitu ramah, hingga kadang aku terjatuh pada ringan tawanya. Dia selalu hebat dalam hal berbentuk tanda tanya. Juga tak kalah dalam hal menjawab tentang semuanya. Dia yang mengajarkanku untuk bermimpi pada suatu hari. Mengenalkanku pada satu kata mistis saat aku bahkan belum genap berumur 13 tahun.

?suatu saat, bahkan sebelum kau menyadarinya.. kau akan dihadapkan pada masa depan. kau tidak akan pernah tahu dimana posisimu dan tugasmu di masa depan. Tapi kau bisa mengintip bagaimanakah dunia di masa depanmu...?, katanya dengan nada yang begitu percaya diri.

Kala itu aku langsung merasa terserap dalam luncuran deras katanya.

?caranya... ??

?mimpi...?, jawabnya dengan mata menatap lurus pada mataku.

Waktu itu, kurasa dia sedang kesurupan atau apa.

?kau tadi berangkat ke sekolah lewat jalan mana ??

?jalan biasa.. dari rumahku ke kiri.. lalu belok kanan luruss....?

Pendengaranku mengabur ketika dia menjelaskan bagaimanakah perjalanannya tadu menuju ke sekolah. Aku mulai berpikir malaikat mana yang tadi merasukinya.

Setelah merasa bahwa aku tidak mendengarkan penjelasannya, ia berhenti dengan kecewa lalu kembali menekuri buku yang ada di pangkuannya. Tidak, ku mohon jangan membayangkan bahwa dia membaca dengan meletakkan buku di pahanya. Dia meletakkan bukunya di depan paha. Jadi ia angkat kakinya ke kursi lalu buku itu tepat berada di depannya bersandar pada kakinya.

?Adam...?

Aku menyibak bukunya untuk melihat dia sedang membaca buku apa sebenarnya. Dan tentu saja aku tahu itu bukan buku pelajaran.

?hembbhh..?, dia diam saja bahkan ketika aku melanjutkan membaca sinopsis yang ada di bagian belakang cover bukunya.

?ohh, ini buku serial...?, komentarku.

Dia melipatkan bibirnya ke dalam lalu mengangguk takzim.

?yang ketiga..?

?uh huh.. aku tahu yang pertama soalnya. Boleh aku pinjam...?

Dia berpikir agak lama.

?ini bukan buku ku?

?besok aku kembalikan...?, rengek ku.

Dia kembali berpikir lagi.

?beneran, besok harus kamu bawa yaa...?, dia akhirnya menyerahkan buku itu kepadaku.

Pada mozaik pertama, dan dalam keadaan aku masih membaca kalimat pertamanya aku merasa kaki ku seperti terangkat. Menginjak mozaik kedua, aku sudah merasakan bahwa aku telah berada di dunia berbeda. Dan ketika membaca mozaik ketiga rasanya aku telah terbang melesat entah kemana. Di dalam dimensi yang aku masuki ketika aku membaca mozaik ke sepuluh aku menemukan Adam. Dimensi tersebut seperti negeri antah berantah yang ajaibnya bahwa aku merasa tidak nyata. Dimana pada saat itu aku merasa kami telah mengikat janji untuk kembali dalam keadaan nyata. Lalu dengan cepat ia naik ke dalam kereta yang membawanya pergi, bersamaan dengan tersentaknya aku tertidur di bawah jendela.

Aku menimang tentang soal apa mimpi yang baru ku alami. Sampai aku menyebut namanya berkali ? kali.

Brugge...

Hatiku berbisik itu beberapa kali. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk jatuh tertidur di kasur betulan.

Esoknya aku memikirkan untuk berdalih apa agar tak jadi mengembalikan bukunya pada hari itu. Ketika aku mandi, aku memikirkan untuk berbohong bahwa bukunya lupa untuk aku bawa. Ketika sarapan, aku memikirkan sebaiknya aku meminta perpanjangan hari agar bisa mengembalikan besok. Dan ketika memakai sepatu aku berpikir untuk menanyakan kemarin dia pergi kemana, dan dimana Brugge.

?Sha.. mana bukunya...?

Tak ku sangka dia begitu ingat sampai sebegitunya.

?tiga hari lagi yaa, please...?

Dia melirik tajam sebentar. ?... yeah, janji yaa tiga hari?

?saya berjanji...?, kataku seraya mengangkat tangan kanan.

Aku akan berdalih tidak membawa bukunya jika ia tetap memaksa untuk mengembalikannya hari ini. Dan jika sudah berbau bahwa ia akan mengeluarkan taringnya, barulah akan ku kembalikan. Jadi, sebetulnya aku membawa buku itu di tas.

Aku membacanya diam-diam ketika pelajaran ekonomi berlangsung. Aku membaca terang-terangan saat ia mengalihkan pandangan ke sudut lain. Lalu memandang dengan tatapan bertanya ketika ia mengamatiku lekat.

Sekalian saja aku tunjukkan gambar pada tepi halaman mozaik tiga belas.

?manekken pis...?, jawabnya, aku masih memandanginya.

?pahatan Jerome Dequesnoy... baca lah?, tambahnya.

Lalu aku membaca tulisan disampingnya dan segera menemukan nama asing tersebut.

?ohh, di Belgia... kenapa kau sudah tahu ceritanya..?

?aku sudah membacanya sebanyak tiga kali...?, aku langsung menganga lebar.

?kenapa kau tak langsung memberikannya ketika aku akan meminjam... padahal kau sudah membacanya sebanyak tiga kali..?, aku menatapnya tajam.

?aku masih ingin membacanya.. dan terus ingin membacanya...?

?terima kasih atas penjelasannya...?, ejek ku.

Hari ini aku kembali tersentak karena sebelumnya aku seperti berada di sebuah pusara yang begitu megah lalu kulihat Adam berdiri terpaku disampingnya. Seakan menghayati dan mengenang kembali orang yang terkubur di dalamnya ketika masih hidup.

Di hari selanjutnya, ia masih mengejar.

?Sha, mana bukunya...?

?besok Adammm...?, jawabku geram.

?besok loh yaa.. awas kalo nggak dibawa...?

?besoknya lagi maksudku..?, aku memutar bola mata.

Lalu kita sejenak menyepakati genjatan senjata ketika pelajaran biologi berlangsung.

?Belgia..?, bisiknya.

Aku yang tak mengerti apa maksudnya, mengingat apa yang aku lakukan selama lima detik terakhir. Ohh, aku kembali mengulang Brugge.. Brugge..

?iya aku tahu...?, aku balas berbisik.

?di Brugge ada pusara ??, tanyaku setelah itu. dia mengedikkan bahu.

Dan aku baru menemukan bahwa pusara itu sebenarnya di tempat lain ketika aku melanjutkan membaca mozaik selanjutnya.

Di hari berikutnya, tak ayal seperti sebelumnya. Ia kembali meminta buku itu kembali.

?besok Adammmmm... aku janji, suerrr.... sumprit...?, janjiku.

?itu buku temenku soalnya....?

?iya, aku tahu.. tapi nggak mungkin akan aku rongsokkan kan?

Lalu dia terbungkam.

?kau tahu Citra...?, tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk tak acuh.

?dia yang punya buku.. sebaiknya aku kembalikan dulu, baru kamu pinjam sendiri?

?besok aku kembalikan ke kamu, Adamm... lagian aku juga nggak kenal Citra..?

Citra adalah orang yang di tahun selanjutnya jadi sahabatku, dunia begitu tak terduga memang. Dan selalu orang mengira kami kembar dempet. Dimana ada Natasha, disitu ada Citra.

?enigma sebuah arloji..?, bisikku pelan ketika menyerahkan buku itu padanya.

?apa, Sha ??, tanyanya.

?enggak, nggak ada apa-apa..?, jawabku.

Lalu ketika ia mulai membolak-balikkan halaman aku kembali mengoceh.

?Belanda.. begitu manisnya..?

Dia menatapku heran.

?aku mau ke Belanda...?, kataku riang di depannya sambil meringis kegirangan.

Dia tak acuh.

?kenapa ??, dia malah bertanya ketika guru matematika kami memasuki kelas.

Aku pura-pura tak dengar. Dia menatapku lekat. Aku mencoba untuk tak menganggapnya malah semakin menjadi kekikukanku. Akhirnya aku mengangkat bahu ringan.

Kisah itu akan selalu aku kenang sampai kapanpun. Dimana aku tak takut lagi untuk menjadi seorang pemimpi. Dan seterusnya hanya dengan mengingat bahwa aku pernah mengenalnya dan aku merasa memilikinya maka semua hujatan dan hinaan hanya seperti angin lalu yang lewat di samping telingaku.

Ada lagi satu janji yang juga tak akan ku lupakan.

?aku ingin menjadi pemain speak bola...?

Cita ? cita itu mungkin tidak terlalu mustahil untuk sebagian orang. Tapi bagiku, itu seperti menyentuh langit apalagi dilontarkan oleh anak tengik yang duduk di sampingku.

?oke, baiklah. Aku ingin menjadi penulis...?, balasku tak kalah mustahilnya.

?ssiipp...?, dia mengangkat jempolnya di depan mukaku.

?kita akan menaklukkan dunia dengan itu..?, janjinya. Maka aku pegang tulang ceking tangannya ke atas. Dan pada saat itu aku merasa seakan kita berjanji pada langit bukan lagi janji antara dua anak labil yang mengira bahwa dunia hanyalah sebutir kacang polong.

Sepanjang hitunganku, sekarang ia telah melewati jalan di depanku sebanyak empat kali. Dia masih tetap berlari. Padahal satu putaran saja, kalau aku yang lari pasti aku sudah telentang di jalan entah apapun yang sedang terjadi. Dan dia masih memacu kakinya untuk menjejak tanah. Tangannya menayun statis dengan langkah kakinya. Yang aku herankan dia tidak terlihat lelah sama sekali bahkan peluhnya habis 2-3 tetes saja. Sebanding dengan keringat yang keluar ketika hanya sekedar berdiri saat upacara bendera di hari senin.

Aku sadar usia kami sudah tak lagi bisa dibilang pantas untuk kembali berkhayal. Tapi semua mimpi itu benar adanya. Kami tak pernah menganggap hal itu sebagai omong kosong belaka. Dan, yahh itu bagaikan aspirin yang entah kenapa kembali mengisi euphoria saat semua kadang di atas, hanya aku yang di bawah. Hanya aku yang mendongak mencoba tersenyum, ikut bahagia dalam keberhasilan mereka.

Dia akhirnya berhenti menunduk, bertumpu pada lututnya. Hampir saja aku tergelitik untuk bangkit lalu menopangnya. Kemudian aku berpikir, untuk apa aku berlari menemuinya. Aku bukan siapa-siapa bukan.

Ku rasa dia benar-benar kelelahan kali ini. Setelah merasa lututnya tidak benar-benar kuat menopang cengkeraman tangannya, tubuhnya tumpang. Ia jatuh terduduk santai dengan gaya yang tak kalah dramatis.

Dia kembali memandangku. Dengan mata menyipit, mungkin karena silau. Di tempat aku duduk segaris dengan matahari pagi yang muali menjemput hari. Menyuguhkan pemandangan indah berwarna jingga, mempermanis suasana. Aku lagi lagi hanya tersenyum simpul.

Maka, ia menguatkan rahangnya lalu mamandang lurus ke depan. Dia berhadapan dengan hamparan sawah yang padinya mendayu sendu. Aku kembali tergelitik untuk mendekatinya, mungkin untuk sekedar bilang betapa indahnya hari ini, tapi sekali lagi itu hanya hidup di pikiranku. Kenyataannya aku masih duduk mengayunkan kaki di parit, tak bergeser sedikitpun dari awal aku mencapai titik nyaman itu.

Dari awal aku melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah, aku masih bertanya aku akan kemana ? pada diriku sendiri. Tak ku hiraukan pertanyaan itu, aku tetap menyeret kakiku berjalan tak tentu arah. Otakku sedikit mengira bahwa hatiku akan menuntun ke arah padang ilalang yang berada di belakang komplek perumahan. Tapi ternyata salah hatiku menuntun untuk mengikuti langkah kaki yang begitu panjang di depan. Aku tahu bahwa aku mengenal orang itu, aku sangat hafal bentuk tubuhnya. Dilihat dari belakang sekalipun. Untuk alasan apa aku pun tak mengerti, ketika akhirnya kakiku berhenti di salah satu bibir jalan yang berbatasan langsung dengan sawah dengan diberi jarak satu alur parit kecil.

Kejora masih terlihat begitu terang ketika aku memutuskan untuk duduk. Aku mengecipakkan kaki yang rasanya sungguh tak terkira ternayta. Ada perasaan yang tiba tiba timbul, sebuah kesenangan tersendiri saat kakiku menampar air yang mengalir.

Aku tak pernah tahu bagaimana hidupnya berjalan. Setelah lama untuk tidak saling bicara, rasanya sangat sungkan meski hanya melempar senyum satu sama lain saat bertemu. Yahh, padahal memang padahal memang dulu sering bersama membunuh waktu. Aku menduga dia pun punya perasaan yang sama.

Kurasa hidupnya baik ? baik saja. Karena di setiap aku melihatnya bersama teman ? teman barunya, ia selalu tertawa. Tertawa lepas yang mungkin aku pun tak bisa membuatnya seperti itu. Dia di dekatku hanya sekedar bertukar kata dalam cerita. Tak pernah sedikitpun aku ingin membuatnya tertawa. mungkin, karena itulah dia meninggalkanku. Hanya sebuah kemungkinan yang timbul dalam benakku, jangan kau anggap itu sebuah kepastian. Aku masih berharap bahwa suatu saat dia kembali di sampingku untuk kembali bercerita tentang sebuah negeri yang bernama Belanda mungkin. Berhenti !. Itu hanya sebuah khayalanku. Dia masih duduk meluruskan kakinya di sana.

Aku kembali pada sebuah masa ketika kau mengungkap sebuah nama. Nama yang sangat ingin kau sentuh. Nama yang pernah kau ukir pada halaman terakhir buku tulismu. Nama yang merupakan sugesti ajaib untuk kau terus berdiri tegak. Nama seseorang yang menyanyikan lagu untuk membangunkan setiap orang yang lelah untuk kembali bangkit, karena sesungguhnya mereka tidak sendiri. Mereka hanya perlu bertahan untuk melewati semuanya. Untuk menjadi sang juara dan tak terkalahkan. Meski terinjak, meski terhempas, ya sudahlah.. bukankah itu memang tujuan hidup untuk terjatuh lalu sedikit demi sedikit pada waktunya kita akan melambung. Dan meski tanpaku, yakinlah aku selalu di belakangmu, yakinlah bahwa kau akan menjadi sebuah pelita, kau adalah lentera. Aku terkesiap dengan semua penjelasan itu ketika kamu mengatakannya.

?Waktu akan membawakan sebuah melodi kedamaian karena ia tahu bahwa kau sebenarnya adalah puisi. Tanpa bunga, tak perlu mahkota juga. It?s take it easy, hidup berawal dari mimpi...?, katamu. Hatiku bergetar hebat.

Aku tak akan melupakan sebuah hal hal penting seperti itu. Maka aku tak akan memungkiri kata-kata otak selalu bisa nyaring mana yang harus diingat maupun yang harus dilupakan, yang aku pernah lihat diucapkan oleh seorang tokoh dalam sebuah film.

Matahari yang tadinya bersinar seketika tertutup awan hitam yang berarak syahdu. Semuanya mendadak kelabu. Aku sendiri kepanikan, harus bagaimana, harus melakukan apa. Dia mendongak melihat secara menyapu keseluruhan langit.

Mungkin hari akan hujan. Aku seperti mendengar awan terisak dan matahari sedikit mengeluh. Yang ku rasa aku tak berhak untuk melanjutkan mendengarnya, bisa jadi mereka sedang mengobrol dengan Tuhan. Maka, kembali saja aku pada awal tingkah ku untuk mengamati sosok yang sekarang menunduk sebegitu dalam seperti memikirkan sesuatu yang begitu berat.

Kabut seakan menyelimuti seluruh benda. Semakin larut saja hal yang aku lihat. Gubuk di tengah yang biasa untuk beristirahat pun hanya seperti jajaran tiang yang tak berbentuk. Hawa dingin mulai menyusup.

Malaikat sepertinya sedang turun karena aku merasakan seperti ketiban tetesan air namun tak basah. Mungkin malaikat hanya sekedar turun untuk memberkati padi yang menghampar ini. Tak ingin mengusik siapapun sebenarnya.

Di samping itu kurasa matahari sudah menerima penjelasan yang diberi oleh Tuhan. Dia bisa menunggu sebentar untuk menunggu malaikat naik kembali ke langit. Namun aku mulai gelisah bagaimana jika hujan betulan. Rumahku agak jauh dan sangat dingin nanti pastinya.

Aku beranjak mengemasi buku yang aku bawa. Mengembalikan earphone ke dalam tas beserta ponsel. Terkadang aku menggantungkan earphone karena suka saja. Tak selalu untuk mendengarkan. Aku lebih senang mendengarkan suara alam sebenarnya. Dan earphone hanya sebagai pajangan sebuah aksesoris bagiku.

Sebelum aku pergi aku sempat melirik kembali padanya. kini ia telantang menghadap langit seakan menyambut sesuatu atau hanya sekedar isyarat untuk menunjukkan bahwa ia ingin memeluk langit. Ah, sudahlah.. biarkan saja dia yang tahu dirinya sendiri.

?Tunggu...?, pekiknya. Saat aku mulai melangkah pergi.

?Ada apa ??, tanyaku dengan suara bergetar. Tak ku sangka suaraku sedemikian seraknya untuk sekedar membalas kata-katanya.

?tunggu saja sebentar...?, hanya itu yang keluar dari mulutnya. Lalu matanya terpejam.

Aku menghampirinya. Mungkin saja ada suatu rahasia yang ingin ia katakan dan dia ingin aku mendekat.

Aku duduk memeluk lutut di sampingnya.

?kau tahu angin berbisik padaku untuk tidak melakukan hal yang sia-sia...?, kataku kemudian saat angin lewat membabi buta membuat rambutku berantakan.

?kau tahu tanah memberitahuku untuk diam sejenak...?, jawabnya.

?maksudnya ??

?diamlah.. diam.. dan hayati apa yang terjadi.. pahami semuanya..?

?Adam.. kamu nggak kesurupan kan..?

?diam...?, bisiknya sambil menempelkan telunjuk ke hidung.

Aku menggigil. Bukan karena dingin sepertinya, mungkin karena aku di dekatnya. Frekuensinya begitu kuat untuk mengusik resonansi makhluk lain. Bahkan pernah suatu saat aku menyenggol bahunya, rasanya seperti tersentruk saklar lampu. Sejak saat itu tak pernah aku sebegitu dekta lagi dengan tubuhnya. Mungkin berjarak satu langkah jika bicara.

?Ibumu sehat...?, tanyaku tanpa berpikir. Sekonyong-konyong matanya membuka, aku telah menyentuh bagian sensitifnya.

?I wish...?, jawabnya ringan lalu kembali terpejam menghadap langit.

?yeah, I wish..?

?kau bahagia.. ??, sekali lagi aku bertanya tanpa berpikir, betapa bodohnya.

?I wish..?

Aku tertawa.

?....kau sangat bahagia kelihatannya?

?kelihatannya... bukan seperti kenyataannya..?

?kenapa ??

?bisakah kau diam..?

?baiklah..?, aku menyembunyikan senyumku di balik telapak tangan.

Seberkas cahaya tiba-tiba menelusup keluar dari awan mendung. Awalnya hanya di ufuk utara, kemudian menyerembet ke semua arah. Bagaikan sebuah tangga menuju keabadian. Membuyarkan kelabu yang mewarnai. Kabutpun hilang. Hari kembali hangat dengan sinar jingga terang.

?kau tahu...?, keluar suara dari sampingku. Aku melupakan bahwa ada makhluk di sisiku.

?soal apa ??

?menunggu...?

Aku menggembungkan pipi lalu menghela nafas disertai gelengan kepala skeptis.

?semuanya akan indah jika kita menunggu. Seberapa kita menunggu berbanding lurus dengan seberapa besar yang kita dapatkan...?

?maksudnya..?

Dia hanya tersenyum, menarik tepi bibirnya dua senti ke kiri.

?kabut seperti pemisah antara dua dunia. Kabut bagaikan membran. Apa jadinya jika kau tadi pergi, kau akan pergi ke dunia yang lain?

?nggak usah menakut-nakuti...?, aku sedemikian sebal karena omongan kosong seperti itu.

?tentu saja itu benar. Kau akan di dunia dimana memorimu mengingat kau pulang dengan kabut di sekelilingmu dan tidak mendapatkan cahaya sama sekali. Tapi sekarang kau di dunia yang indah bukan, memorimu akan bertumpuk. Dimana ada hal yang tidak kau senangi akan terbayar dengan hal lain yang tak pernah kau bayangkan betapa indahnya...?

?yaa.. yaa.. terserahlah...?

Aku agak sulit menelan omongannya.

?cahaya cinta sejati tidak akan pernah salah.. bahkan bisa mengelabuhi kabut yang menghalanginya?, cerocosnya lagi.

Aku hanya diam saja. Sebenarnya apa yang ingin dia sampaikan.

?kenapa kau sendirian... ??, tanyaku kemudian.

Dia hanya mengejek menelengkan kepala ke arah kanan.

?....kau tidak menganggap dirimu sendiri ??

Aku mengedikkan bahu.

?banyak yang nggak ngerti apa yang kita inginkan. Bahkan mungkin diri kita sendiri..?

?kelihatannya kau bukan hanya berlari secara fisik. Kau seperti ingin berlari dari kenyataan?, potongku.

Dia menaikkan satu alisnya.

?tahukah kau jika kau melakukan hal yang tidak aku kehendaki aku merasa kau mengkhianatiku. Aku merasa kau tidak lagi menganggapku ada..?

?hei.. hei.. apa yang kau katakan...?

?kau kira aku tak tahu. Setiap kau ada masalah, berapapun batang rokok di dunia bisa kau lahap jika ada di depanmu?

Dia terpekur.

?kenapa kau lari ??

?aku nggak lari.. aku cuma butuh sesuatu untuk membuatku kembali menginjak bumi?

?bodo.. itu namanya lari. Kau lari dari masalah yang diberikan padamu untuk diselesaikan. Kau tidak mampu...?

?aku nggak lari...?, suaranya meninggi.

?kau tidak akan menyentuh sedikitpun, sebatangpun dari barang itu kalau kau menyadari kau bisa melakukannya. Bahwa kau tidak sendiri. Kau butuh pelampiasan kan.. aku tahu... aku tahu bagaimana dirimu... itu artinya kau tidak lagi menganggapku...?

Aku berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

?kabut satu itu belum kau singkap..?, nadaku meruncing di setiap pilihan kata.

Dia mengeraskan rahangnya.

?kau di mana ??

?..aku di sini?, jawabku tegas.

?aku tidak menemukanmu?

?kau yang tidak ingin ditemukan..?, balasku.

?aku tak pernah meninggalkanmu?

?aku yang pergi?

Pembicaraannya semakin tak terarah seiring naiknya matahari.

?kabutnya terlalu tebal. Aku tidak bisa menembusmu. Makanya aku pergi. Rasanya tidak ada gunanya jika aku tetap terus berdiri. Aku perlu melangkah..?

Hening selama beberapa lama.

?kau percaya akan mimpi ??

Aku ingin menutup pembicaraan dengan hal yang tidak menyiksa setelah beberapa lama.

?yahh, tentu. Mengapa tidak...?

?apakah aku juga berhak bermimpi ??

Dia berdiri menoleh padaku.

?pastinya. Tidak akan ada yang melarang, bermimpilah.. setingginya..?, dia lalu menatap sang mentari.

?Mimpiku bisa jadi nyata ??

?Sangat bisa... yakinlah..?, suaranya menggebu. Seakan ada hal lain yang ingin ia sampaikan.

?kau juga punya mimpi ??

Dia mengangguk.

Aku melangkah pergi.

?aku menunggumu kembali...?, kataku tanpa berbalik.

Dia bersikeras menyiratkan bahwa sebenarnya ia tak pernah pergi.

?tidak, bukan kembali dalam artian yang kau pikirkan. Aku menunggumu kembali untuk menjadi dirimu sendiri. Mimpimu sudah semakin dekat untuk menjadi sebuah kenyataan bukan. Sebuah impian tak akan mengingkari orang yang memimpikannya. Seiring waktu ia akan menjelma jadi nyata?

?benar katamu. Ia selalu berbanding lurus. Hanya saja kita kadang berbelok pada hal yang sia-sia?

Aku pikir semuanya sudah selesai ketika aku mengatakan hal yang mengendap sebegitu lama. Tapi ternyata semua itu tak pernah usai. Aku selalu mengaguminya.

Faktanya menarik. Dia menikmati hidupnya dengan caranya sendiri. Asyik dalam pelariannya, aku bersyukur ia hanya berlari di sepanjang jalan. Bukan lagi ke lari ke barang yang sia-sia, barnag yang pernah dijadikannya pelampiasan. Dia bahagia dalam persepsinya sendiri. Beranggapan bahwa menekan ego-nya merupakan sebuah tantangan yang harus dilaluinya, dia begitu bangga dengan pemikirannya tentang dunia. Berkecimpung dalam masalah yang tak mau dipikirkannya namun tak pernah ia mampu mengenyahkannya. Selalu berdiri kokoh bagaikan karang, tak pernah goyah sedikitpun. Padahal sebenarnya kadang ada hal yang menggerogoti dari dalam dirinya sendiri, membuatnya rapuh kadangkala.

Dia masih tetap berlari pada setiap waktu. Kadang pagi hari, sore hari, menjelang pertengahan hari. Seakan dia yang punya dunia ini sendiri, bahkan ia pernah berlari sepanjang hari.

Badannya semakin kurus saja. Dan sebenarnya aku masih ingin tahu bagaimana perkembangan kesehatan ibunya. Tapi kabut itu belum pergi, enggan rasanya kembali berbincang, kembali menatap matanya yang menyiratkan luka begitu dalam.

Kadang tersirat untuk memberinya sebotol minum jika kebetulan berpapasan, atau memang sengaja aku terpapas dengannya. Tapi kami hanya seakan melihat orang lain. sekedar melihat lalu kembali pada dunia dan urusan masing-masing.

Kami seakan adalah orang yang sama-sama asing, yang mengisi suatu cerita sama dengan kita sebagai tokohnya. Lalu ketika sandiwaranya selesai kita kembali sebagai orang yang tak mengenal satu sama lain.

Namun bagiku, dia tetap dia. Dia orang yang pertama mengenalkanku pada mimpi. Dia yang menanamkan emosi bagaimana bijak dalam sebuah posisi. Aku masih akan tetap bermimpi untuk menunjungi Belanda. Meskipun dia bukan lagi dia yang dulu membuka tabir tentang mimpi.

Dia masih mengelabuhi kabut di waktu pagi.

Aku kembali terbangun dengan nafas memburu.

?Adamm... adamm..?, bisik ku.

Aku tak pernah bisa menghilangkan kebiasaannku untuk memanggil nama Adam ketika bermimpi buruk.

Di dalam mimpi tadi, aku hanya berlari. Terus berlari seakan dikejar oleh sesuatu yang menakutkan. Padahal sebenarnya tidak ada yang mengejarku. Aku teriak teriak memanggil nama Adam. Seakan sebagai mantra yang bisa membuat semuanya membaik. Seakan sebagai benda yang dapat mengelabuhi kabut.

?

Dilihat 175