rentetan kata

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
rentetan kata

PERON 3

by? AAiinae

???????????

Aku terus melangkah. Mengejar sebuah bayangan itu. Aku yakin dialah orang yang sebenarnya ku tunggu sejak lama. Tapi mengapa, mengapa ia hanya mengutip ku lalu pergi kembali. Aku mengetahui ketika sejumput rambutnya menyembul dari balik tembok. Aku bahkan hanya melihat rambutnya untuk tahu pasti bahwa itu dirinya.

Setiap hari aku berangkat untuk tiga puluh menit menunggu di peron 3. Setiap menit selalu aku nantikan untuk melihat seseorang yang datang mengenakan short dress berwarna biru seperti birunya langit kala malam. Anak rambut di kanan dan kiri dikaitkan menjadi satu dengan jepit di tengah, sedangkan rambut intinya tetap tergerai. Setiap lima menit sekali aku menengok jam di tangan kiri, lalu mencocokannya dengan jam besar yang menggantung pada sisi stasiun, setelah yakin bahwa menunjukkan waktu yang benar-benar sama, aku menengok ke arah kanan, aku berhitung sampai sepuluh, lalu mengalihkan tengokan ke kiri, kalau kalau dia datang dari arah berlawanan.

Bayangannya terus bergerak konstan. Seakan tak tahu bahwa ia diikuti dari belakang. Atau memang tahu, dan menunggu, entahlah..

Sekarang kami melewati bangunan ? bangunan tua, sesekali dia berhenti untuk merasakan sejauh mana kuatnya batu bata yang tersusun. Dan anehnya setiap aku berlari, untuk segera menemui, bayangan tersebut hilang ditelan serentetan manusia yang hendak menuju stasiun. Aku terengah. Lalu kembali menemukan ekor rambutnya menghilang di tikungan.

Beruntung aku hanya mengenekan kemeja tipis saat ini. Angin memang berhembus dingin. Tapi berjalan jauh seperti ini, mengendapkan keringat tak mengenakkan di badan. Aku memeriksa ponsel untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang perlu ku ketahui. Aku mengehela nafas ketika banyak notifikasi tak penting. Aku kembali memasukkannya dalam saku dan mulai menimang kemana arah perginya dia. Dia berbelok ke kanan. Di sepanjang jalan yang di sisinya bangunan tua. Hanya ada dua tempat yang kemungkinan ia cari. Perpustakaan kota dan pasar loak. Aku menggigit bibir bawah, lalu memutuskan untuk menyusuri jalan ke perpustakaan.

Perpustakaan di kota ini sama tuanya dengan bangunan di sisi sepanjang jalan. Berbau kertas ? kertas kuno. Dengan penerangan lampu kuning yang terkesan menyeramkan, tapi masih ku ingat dia berkata bahwa lampu tersebut bukannya menyeramkan tapi malah mengeluarkan aura kehangatan. Meja panjang terbentang di tengahnya. Sedangkan rak buku menempel pada tembok, tinggi dan menguasai.

Aku kembali menemukannya, menekuri sebuah papan di depan kedai kopi. Namun dari jarak ku dan tempat di mana ia berdiri masih cukup jauh. Dalam hati aku berharap agar dia mampir ke dalamnya. Bukannya dulu ia selalu menepi dan membeli secangkir latte panas dan sebuah roti. Tapi setelah aku melihat antreannya, rasanya mustahil ia akan masuk. Dan benar, ia meneruskan jalannya. Terbersit hati ku untuk meneriakkan namanya. Dia begitu angkuh untuk melihat ke belakang dan menyadari bahwa ada yang mengikutinya.

Ketika aku sampai di depan kedai kopi, aromanya menguar. Bukan, bukan aroma kopinya, tapi aroma yang ia tinggalkan. Aroma kopi latte dan parfum aroma vanila yang biasa ia pakai. Ketika aku melihat ke depan, terlihat dia telah menaiki tangga menuju perpustakaan. Tak salah lagi, itu dia.

Aku memutuskan untuk memperlambat jalan dan menunggunya di luar. Toh, nanti dia juga akan keluar. Aku menikmati pemandangan dari segelintir kendaraan yang lewat. Memang, hanya sedikit yang mmilih untuk melewati jalan di kawasan ini. Karena memang jalannya memutar jika ingin ke pusat kota. Tapi itulah yang dia suka dari tempat ini, tak banyak kendaraan, tak banyak kebisingan.

Selama setengah jam, dia belum juga keluar. Aku memutuskan untuk masuk ke dalam. Menyusuri setiap rak lalu menuju ke rak khusus sastra klasik, tempat biasanya dia bercokol. Tapi nihil. Dengan gamang aku kembali menuju pintu untuk keluar. Terlihat dirimu sudah di depan meja untuk meminjam sejumlah buku. Sialnya, ketika aku hendak sampai. Kau telah keluar membawa buku-buku tebal tersebut.

?ahh..?, raung ku sambil menggoncangkan badan di depan perpustakaan kota hingga beberapa merpati terbang kebingungan. Dan ia terus berjalan dengan riang gembira. Tujuannya sudah dapat di duga, pasar loak.

Aku terhempas pada kursi di bibir jalan. Matahari kembali menunjukkan sinarnya yang begitu terik. Aku mengenakan kaca mata hitam dan topi terbalik untuk kelengkapan perjalanan selanjutnya menuju pasar loak.

Pasar loak hanya satu deret memanjang di sebuah jalan yang bernama Jl. Soedirman 7. Kios berdiri di bangunan ? bangunan kecil sisi jalan. Aku mengawali berjalan di sisi kiri terlebih dahulu, melongok ke dalam kios, tidak ada, lanjut ke toko di sebelahnya, begitu seterusnya hingga ujung jalan. Baru kemudian menyusuri di sisi seberangnya. Tapi tak seperti bayangan ku bahwa dia ada di sana memilih beberapa piringan hitam dan benda ? benda yang kulihat tidak akan berguna, dia tidak ada di satupun toko. Atau mungkin ia telah menemukan apa yang ia cari, dan telah kembali pergi. Aku kembali ingin berteriak tapi ibu penjual bunga di samping ku sudah mengawasi ku heran sejak tadi, jadi ku urungkan. Dan melempar seulas senyum padanya sebelum beranjak pergi.

Kereta ku berangkat satu jam lagi, untuk sampai ke tempat kerja. Berjalan dari pasar loak ini sampai kembali di stasiun membutuhkan waktu 45 menit. Mau tak mau aku harus lari, persetan dengan kemeja putih ini. Nanti mungkin bisa kering di kereta.

Aku memulai dengan mengencangkan tali sepatu pantofel ku, memposisikan topi seperti pada normalnya, dan menarik tas sekencangnya bak prajurit terjun payung. Lalu berlari seakan mengejar gembong narkoba yang telah diburu bertahun tahun lamanya.

Aku benar ? benar basah kuyup oleh keringat ketika sampai di stasiun. Ternyata realitas mengkhianati ku. Dengan berlari sekalipun, tetap saja aku hanya memperlambat waktu selama lima menit. Aku langsung menuju tempat seharusnya aku duduk di dalam kereta, karena yahh memang kereta telah berdiri teguh setengah jam sebelum keberangkatan.

Aku tiba di gerbong 2, 11 E seiring dengan hujan yang mulai mengguyur tanah di luar. Di sampingku telah duduk seorang gadis yang bermain dengan kapal kayu kecil yang ia gerakkan seakan melaju di lautan atau... mungkin terbang di angkasa. Aku meletakkan tas di tempat yang sudah disediakan di atas tempat duduk dan kemudian melorotkan badan di kursi sambil mencari sebuah nama di ponsel untuk kutitipi agar membawa kemeja lebih.

?Septyan..?, seru salah seorang.

Aku membuka kacamata dan menengok ke samping, ke arah gadis yang masih menggenggam erat kapal kecilnya. Mengamati wajahnya. Menerka namanya. Hingga aku ingin menampar wajah ku sendiri.

?Astaga...?, kata ku sambil mengusap wajah.

Dan dia hanya tersenyum manis merasa tak berdosa sedikitpun.

?aku tadi menunggumu sangat lama, jadi aku putuskan untuk mampir ke perpustakaan kota dan pasar loak, dan sebenarnya aku ingin membeli coffe latte juga. Tapi antreannya... huahh, kau tahu sendiri bagaimana ramenya, jadi aku memutuskan untuk tidak membelinya saja. Lalu ke stasiun untuk melanjutkan ke Jakarta?

?kau.. kenapa kau...?, seandainya aku sebuah petasan aku sudah meletus sejak tadi ia menyebutkan nama ku. tapi beruntung aku hanya manusia yang menanti dan mencari, jadi ku peluk erat sosok meneyerupai bidadari ini. Dia tertawa girang tanpa alasan.

?apakah kau kehujanan atau sehabis skotjam di sepanjang jalan ??, tanyanya dalam dekapan.

Aku melepaskannya lalu merampas kapal kecilnya.

?mungkin kau hanya berencana untuk membeli kapal kecil ini dan meminjam buku yang lebih tepat untuk dijadikan bantal. Tapi tahukah kamu aku hampir mati untuk menanti dan mencari mu?

Dia kembali tertawa sambil berusaha mengeluarkan kata, ?kau lucu..?

?aku serius.. aku mengikutimu ke perpustakaan dan pasar loak kau tahu...?

?benarkah ??, dia tercengang menghentikan tawanya.

Lalu mulai berpikir.

?memang benar aku ke perpustakaan dan pasar loak. Tapi aku tak meminjam buku. Karena aku didenda soalnya buku yang dulu aku pinjam belum aku kembalikan selama satu bulan. Aku hanya membeli beberapa crysan dan kapal ini?

?benarkah ??, sekarang aku yang gantian tercengang.

Dia mengangguk lucu sambil memajukan bibir bawahnya dan kembali meliuk-liukkan kapal kecilnya.

?mungkin yang kau ikuti adalah bayangan ku.. bukan diri ku?, bisiknya kemudian.

?

  • view 112