Tanpa Tujuan

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Tanpa Tujuan

 

Hujan mengguyur kota sore ini. Aku merapatkan hoodie dan saling menggosok tangan. Stasiun tetap padat, apapun yang terjadi.

“dingin hari ini...”, terdengar suara bersamaan dengan sodoran secangkir kopi yang masih mengepul.

Aku mendongak untuk mengetahui siapa.

“oh.. kok..”, aku terheran.

“mau kemana ?”, dia mengabaikan ekspresi kaget ku.

“memangnya harus kemana ?”, jawabku tanpa pikir panjang.

Mengetahui akan mengarah ke pembicaraan lebih berat, ia menarik kursi di depanku.

“setiap orang yang ke stasiun pasti punya tujuan untuk pergi. Dan orang – orang itu mempunyai tujuan setiap kepergiannya...”, apapun yang ingin ia katakan harus berhenti karena seorang laki-laki paruh baya menghampiri kami.

“boleh saya duduk di sini ? sepertinya kosong.. di tempat tunggu penuh...”, katanya dengan senyum begitu ramah.

“ohh iya, pak.. silakan..”, ujarku dengan menarik kursi di bagian kanan.

“gimana ?”, aku kembali membuat temanku meneruskan apa yang ingin dikatakannya.

“sebentar...”, ia kemudian pergi secepat ia datang.

“mau kemana, mbak ?”, tanya bapak tadi dengan gerakan tangan memindah posisi tasnya dari belakang untuk dipeluk di depan.

“hehee, ke ...”, aku yang belum mempersiapkan jawaban tertolong Faskal yang sudah kembali dengan membawa satu kopi lagi yang kemudian ia serahkan kepada bapak tadi.

Aku menatapnya hingga ia duduk dan kembali mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan. Biasanya berbuntut panjang.

“giliranmu...”, katanya kemudian.

“ha ?”

“kenapa kau tadi malah bertanya aku harus kemana...”

“ohh..”

Faskal adalah teman yang aku kenal dari kelas satu SMA. Kita sekelas. Dan entah kenapa aku merasa bahwa kita semua yang ada di kelas itu merupakan satu spesies yang dipertemukan dari berbagai penjuru dunia. Dan Faskal adalah salah satu dari mereka yang mempertahankan ke-absurdannya ketika kita semua kembali di sebar di berbagai penjuru dunia.

“memangnya kau mau kemana ?”, tanyaku menantang.

“aku akan merasa perlu menjawab ketika kau telah menjawab pertanyaanku..”

Ohh, dan yeah... ini benar – benar menjadi obrolan yang sulit. Sedangkan itu, bapak yang ada bersama kami sedang mencerna apa sebenarnya yang kami bicarakan dengan mulut meniupi kopi.

Aku menutup laptop di depanku hingga berbunyi ‘klak’. Aku suka suara itu.

Dia menunggu dengan mata memicing ketika meminum kopinya.

“Kal, memangnya kau ada urusan dengan kepergian ku ?”, setelah beberapa lama aku mengumpulkan kata - kata itulah yang keluar dari mulutku.

Dia memiringkan kepalanya ke kiri, pertanda mengarang sesuatu yang ingin ia katakan.

“sebenarnya tidak... tapi karena kau tidak menjawab pertanyaanku jadi sepertinya agak ada urusan...”, ini benar.

“karena tidak lucu jika hidupmu seperti wanita yang ada di paddington ... [1]

Aku mendelik tak percaya, “kau tahu tentang novel itu...”

“yaa... jadi kemana kau pergi..”, dia merebahkan bahunya ke sandaran kursi.

Aku sejenak menutup mata lalu menghembuskan nafas lumayan keras untuk membuat apapun itu menjadi masuk akal.

“tidak kemana pun ?”, tebaknya.

“ya, kau benar... kau belum kehilangan kemampuan untuk mengada-ada”

“tapi benar..”, ia tersenyum puas atas kemenangannya.

“lalu kemana kau akan pergi...”

“kalau kau jawabannya tidak kemana pun, aku kemana pun...”

“enghh, aku tidak paham...”, potongku.

“bapak mau ke mana ?”

Fokus kami teralihkan dengan bapak yang diam meniupi kopinya di antara kami.

“oh, ini saya mau ke Bandung. Mau pulang...”

“dari liburan ? sendirian ?”, tanya Faskal. Aku menatapnya tajam. Tidak sopan menurutku untuk tahu urusan seseorang yang baru saja kau temui.

“tidak.. tidak.. saya kemarin ke malang. Ke rumah teman saya...”

Melihat kami antusias dengan ceritanya, bapak tersebut melanjutkan.

“tiga tahun lalu teman saya meminjam uang.. lima puluh juta.. katanya untuk usaha. Ya, namanya teman.. saya kasih saja, tapi tiga puluh jutanya juga saya pinjem dari saudara. Sampai sekarang belum kembali uangnya, padahal dulu mau dikembalikan setelah satu tahun, begitu. Jadi kemarin saya ke rumahnya mau nagih...”

Berhenti sebentar untuk menyesap kopinya.

“tapi dianya udah pergi.. dua hari sebelum saya ke sana dia sudah berangkat ke Kalimantan. Dalam perjalanan kembali ke stasiun, karena memang tidak ada tujuan untuk menginap jadi saya harus kembali. Nah, itu sudah malam.. sekitar jam sepuluh an. Saya ditodong sama anak anak di perempatan jalanan deket situ. Mabuk mereka. Ahh, masih saja banyak pemuda yang malah menggunakan uang nya untuk barang seperti itu...”, bapak tersebut menggelng-geleng prihatin.

“semua uang.. se-dompet dompetnya mereka minta... padahal kartu atm saya di situ, ktp.. sim.. semuanya.. makanya ini perjalanannya putus-putus... ini rencananya dari solo mau ke jogja dulu”, beliau mengakhiri ceritanya dengan tersenyum pada kami.

“aaaa..”, aku manggut – manggut mengerti. Faskal berpikir keras.

“semua uang ?”

“iyaa, ini saya ke sini karena ada yang ngasih uang waktu naik kereta kemarin...”

Faskal mengatakan ‘oh’ lirih, lalu melihat ke arahku.

“apa ?”, aku tak mengerti maksudnya.

Kepalanya miring ke kanan. Berpikir untuk mengatakan suatu ide- yang bakalan gila.

“kau bawa uang berapa ?”

“memangnya kenapa ?”, tanyaku. Ia melirik ke bapaknya.

“oh...”, aku mengambil dompetku.

“tidak.. kau tidak bermaksud hanya memberi bapak ini uang kan ?”, tanya Faskal. Aku benar – benar tak mengerti maksudnya.

“gimana ?”, aku mengerutkan kening.

“kau tidak pergi kemana pun dan aku akan pergi kemanapun itu...”

“engh.. “, aku mencoba memikirkan apa yang ia inginkan. “lalu..”, tapi tak sampai.

“kita akan mengantarnya...”, aku hampir meneriakinya gila. Tapi ia belum selesai, “tidak.. tidak.. bapak adalah tour guide kami...”, tawarnya yang disambut senyum makin lebar dari sang bapak.

“aku ? ke bandung  ?", aku menunjuk muka ku sendiri.

“yaa, memangnya dari tadi aku berbicara dengan siapa...”

Aku menarik nafas dalam – dalam.

“Faskal, okee.. perlu kau tahu.. aku ke sini.. ke stasiun.. cuma karena bosen liat lemari di rumah. Tapi memang aku cuma yaa mau ke stasiun, bukan pergi dari stasiun. Kau tahu, aku hanya bawa ponsel yang baterenya hampir sekarat, laptop ini..”, aku menunjuk laptop di depanku lalu mengambil tas ku untuk ditunjukkan padanya.

“handsanitizer, tissu, sandal jepit, notes, bolpen, novel tom sawyer, flashdisk, dan dompet yang isinya...”, aku melirik sebentar ke arah bapak yang kini menyesap kopinya lagi. “kau tahu lah, apa saja isi dompetku...”, kataku kemudian.

“bajuu.. cuma yang nempel di badan.. dan syukurlah aku mandi tadi..”

“jadi... tidak berani ?”, aku bertaruh besar Faskal bakalan menang dalam unjuk ekspresi yang membuat kesal lawan bicara.

“bukannya begitu tapi...”

“kau penakut... yang hanya berani pergi di zona nyaman, aman, dan zona dimana kau mendapat keuntungan”

“kau sudah dengar bagaimana cerita bapaknya tadi, Kal”

“sangat mendengar, kau juga sudah mendengar kan ?”

“kenapa kami ditakdirkan selalu mempertanyakan siapa kami.. hshh, dia ini sebenarnya teman apa musuh sih..”, gerutu ku.

“kau yang membuat luka duluan..”, dan ia ternyata mendengar.

“kau menambahkan garam beserta air laut di lukaanyaa”, aku meneruskan.

Ia mengangguk.

“jadi ?”, ia kembali bersandar pada kursinya.

“tapi...”,

“kita beli tiket barengan”

“kau gila”, aku memakinya.

“memang...”, ia setuju.

Aku memasukkan laptop di tas ku lalu mencangklongnya.

“pak, maaf.. hehe, bisa tunggu sebentar..”, aku jadi tidak enak hati dengan bapak yang asyik asyik saja menikmati kopinya.

“iya ya ya, jangan terlalu dipikirkan”

Kami berjalan dengan langkah enggan karena dingin dan karena keputusan yang tidak benar – benar putus.

“Faskal, pleasee...”

“kamu pikir bapak tadi mengarang cerita.. kau lebih tahu bagaimana membaca ekspresi orang..”

“memang sih ceritanya bisa masuk akal.. tapi, Kal.. kita di berada di negara yang orang baik dan jahat susah untuk dibedakan”

Kami berhenti di salah satu sudut. Merapat ke tembok. Karena stasiun tidak pernah sepi.

“kalau memang berniat jahat.. apa motifnya ?”

“yya, aku tidak tahu. Setiap orang yang melakukan kejahatan hanya dia yang tahu motifnya..”

“pikir saja.. ada kemungkinan kan ?”

“kau bawa apa saja dalam tas mu ?”, tanyaku padanya.

Ia menyerahkan tasnya, dompet di saku, dan mengacungkan ponselnya.

“tidak ada jaminan. Kita berjalan ketika saatnya berjalan. Dan akan kembali jika memang harus kembali”, lalu ia pergi ke loket.

Aku luluh setelah menimang bahwa tidak ada motif yang tepat untuk seseorang yang menginginkan uangnya kembali, dikhianati temannya, dan kehilangan hal yang penting baginya secara bersamaan.

Faskal kembali dengan memperlihatkan tiga tiket tepat di depan mataku.

“kau sudah tahu kau akan kemana.. dan kau tidak bisa kembali. Kau harus pergi untuk kembali”

“terserah kau..”, balasku yang berbalas raut wajah kemenangan dari teman, eh, musuh, apalah itu.

Kami kembali ke tempat dimana bapak tadi kami tinggalkan.

"Pak, ini tiketnya... berangkat jam 18.45. Dan bapak akan kami antar, tenang saja..", Faskal menyerahkan satu tiket ke bapak tersebut.

"ya, terima kasih..", bapak itu tersenyum lebar. "kalian... baru ketemu ? atau memang sudah kenal ? atau bagaimana ?", menunjuk pada kami.

"kami teman...", sahut Faskal. "di SMA..", ia meneruskan karena sepertinya sang penanya tidak puas dengan jawabannya.

"kami memang seperti ini.. dia seperti kucing yang selalu membuat masalah ketika bertemu..", aku menambahkan.

"tikus", tukas Faskal. "dan kau tikus yang selalu mencuri keju ku..."

Bapak di depan kami terlihat menyesal telah mengajukan pertanyaan.

 

[1] Aghatha Christy

 

*Thumbnail by niklevantis.tumblr.com

  • view 189