Satu Hal

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Agustus 2016
Satu Hal

Aku akan bercerita tentang satu hal. Hal yang bahkan aku tak pernah tahu hingga aku menuliskannya. Hal yang sangat berarti. Okee, kita mulai.

                Aku hanya selembar daun jatuh ketika berjalan di jalan jelaga. Berjalan dengan gontai seakan bahu kehilangan tulang nya. Berjalan dengan menunduk seakan dunia telah memperolok tatapan mataku. Berjalan dengan tangan saling menggenggam di depan seakan ia takut jatuh jika dibiarkan tergantung sendiri-sendiri. Kaki ku seperti sedang mengelabuhi jalanan penuh kerikil. Tapi aku harus menyebrang. Sekolahku ada di seberang jalan. Namun, sekali lagi seakan mereka semua tak menginginkan ada debu terbang dalam secangkir susu yang terhidang. Aku menunggu sangat lama untuk tahu bahwa setidaknya aku masih bernyawa untuk sampai ke seberang jalan.

                “hai..”

                Seseorang menyapaku. Aku bahkan tak tahu siapa namanya.

                “aku Annisa.. kita teman sekelas bukan..”

                Aku mengutuki diriku sendiri.

                “hahaa, iyaa.. iyaa...”, aku mengiyakan.

Ketika dia mulai maju untuk melangkahkan kaki, aku mengikutinya. Aku merapal harapan dalam hati. Perlambat mereka Tuhan..

Aku benar – benar yakin bahwa Tuhan ada dan harapanku terkabulkan ketika aku melompat ke trotoar di depan sekolah.

Langkah Annisa sangat panjang dan cepat. Sehingga aku perlu berlari kecil untuk menyeimbanginya. Di belakangnya paling tidak.

Pelajaran dimulai dengan sangat membosankan. Berjalan dengan begitu lamban. Mataku hendak terpejam ketika seseorang menempelkan sebuah garisan besi di tanganku. Aku terlonjak seperti loncatan atom. Garisan besi itu telah sangat matang disiapkan dengan cara menggosokannya dengan meja. Dan seseorang itu begitu gembira melihat aku menatapnya tajam.

               “apa yang kau lakukan ?”, tanyaku.

Dia hanya mengangkat bahu dan memberikan ekspresi seakan ia tak melihatku.

Aku hendak meledak dalam hitungan sepuluh detik. Tapi ketika aku menghitung di angka enam bel istirahat pertama telah berbunyi.

              “kau baik baik saja ?”, tanyanya dengan muka penuh penyesalan yang sepenuhnya aku tidak mengerti apakah tulus atau hanya dibuat-buat. Lagian ia tak meminta maaf.

Aku hanya membuat gerakan menarik bibir selebar mungkin dengan tanpa perlu memperlihatkan gigi.

             “okee..”, ujarnya dengan mengedipkan mata kiri lalu pergi begitu saja.

Aku menghela nafas lalu melepaskannya dengan sangat lega. Aku berjalan ke arah tempat duduk Annisa. Aku tidak menghabiskan waktu istirahat di kantin. Karena, satu.. makanannya mahal, aku sayang uangku daripada ego ku, dua.. ramai, aku tidak ingin berada di tempat ramai.

            “Annisa, sepertinya aku pernah bertemu kau sebelumnya..”, aku memulai pembicaraan sekenanya karena aku tidak berpengalaman untuk membuka sebuah perbincangan.

Annisa hanya tertawa ragu dengan raut muka mengingat setiap orang yang pernah ditemuinya.

            “yaa, sepertinya kita pernah bertemu.. kau yang berada di ambang pintu saat ada pertemuan di aula”

Aku tidak mengingatnya.

          “ahaa, mungkinn”

          “iya, kau orang yang sama dengan yang dulu kutemui. Aku sebenarnya ingin mengajakmu bicara tapi sepertinya kau tidak ingin bicara dengan siapapun”

                   Aku tidak mengingatnya tapi aku yakin itu adalah diriku. Memang, hanya akulah yang berdiri di ambang pintu ketika semua orang bergumul pada satu titik yang sama.

Lalu diam hingga bel tanda pelajaran kembali di mulai.

              “aku kembali ke tempat duduk ku yaa..”

              “yaa”, jawab Annisa dengan mata tak lepas dari buku matematika di hadapannya.

               Aku melihat seseorang melintas dengan wajah yang selalu ingin aku perhatikan. Lama aku berpikir. Lalu aku merasa ia sama dengan seseorang yang karyanya dikagumi oleh orang yang tadi menempelkan garisan besi yang telah digosokan permukaan meja ke lenganku.

              Tak lama kemudian ia masuk, bersamaan dengan aku duduk di tempat duduk ku.

              “aku melihat seseorang yang mukanya sama dengan penyanyi yang kau kagumi..”, aku berbicara padanya tanpa perlu menatap matanya.

              “engh, ya memang... ia kelas sebelah. Aku sudah tahu. Ia juga mengaguminya”

             Sekarang aku menatap matanya. Sorot matanya begitu tajam seperti apapun yang ia inginkan memang harus terkabulkan. Aku mengulum bibir.

             Satu tahun berlalu. Dan ia tetap menjadi orang yang sama. Tapi tak lama. Setelahnya ia seakan tak pernah sekalipun mendengar namaku. Ia bersikap seolah tak pernah tahu siapa diriku.

             Annisa mengagetkanku ketika aku menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan.

            “tidak perlu terus dilihat, ia akan kembali jika sampai saatnya kembali. Ia tidak akan pernah lupa akan warna bunga yang pernah dipetiknya”

           “tapi sayangnya ia tidak tahu apa warna bunga itu, Sa”

           “kita lihat saja..”

              Annisa terus melatihku untuk berbicara dengannya. Untuk menyadari keberadaannya. Untuk terus memberitahuku bahwa aku tidak berjalan sendiri.

              Annisa masih orang yang sama, tetap menjadi orang yang sama. Bahkan hingga saat ini. Tapi dulu ia tahu, sekarang tidak.

             Bagaimanapun Annisa tetap menjadi orang pertama yang memaklumi semua kegilaanku. Dia orang yang pertama yang tahu bahwa aku pernah mengajaknya berbincang. Ia yang tahu bagaimana aku sebuah patung yang menjelma menjadi joker. Tapi ia tidak tahu bagaimana seseorang yang bahkan tidak tahu warna telah mewarnai pandanganku.

            Annisa adalah seseorang paling diam ketika aku kembali bertemu dengan 'dia' yang bahkan tidak menganggapku ada di hadapannya. Annisa yang tahu bagaimana aku berbagi jalan bersimpangan dengan satu manusia itu.

           Annisa hanya terus memperdengarkanku lagu tentang malaikat yang juga tahu apa yang terjadi. Annisa hanya terus membuatku mengerti bahwa untuk selamanya aku akan berdiri dengan kaki ku sendiri, tidak lagi berada di bawah bayang bayang orang lain.

          Annisa bukan tipe orang yang  membiarkanku terus berjalan di belakangnya, ia menyeretku untuk terus maju bersamanya.

 

*Thumbnail by LineDeco

  • view 178