City Light

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
City Light

 

            Aku berlari dengan tenang... lalu berderap untuk menarik gagang pintu. Aku berhenti sejenak untuk membiarkan beberapa hembus angin masuk ke dalam sebelum aku keluar dan menutupnya.

            Tidak.. jangan berpikir yang macam-macam.

            Setidaknya menurutku, aku anak yang manis. Aku selalu sikat gigi sebelum tidur. Aku sarapan sebelum berangkat sekolah. Aku baik – baik saja. Aku tidak merokok. Apalagi menyentuh alkohol maupun obat terlarang. Aku hanya kadang sangat menyukai hal – hal yang hanya hadir di malam hari. Lampu jalanan yang menyala kuning. Lampu – lampu berbagai warna dari bangunan – bangunan. Bahkan lampu neon di depan rumah rasanya begitu menakjubkan.

            Aku menyusuri sepanjang trotoar jalan. Sejujurnya aku tak tahu kemana aku berjalan. Aku hanya melangkahkan kaki saja. Dan setelah kurasa aku lelah, aku akan menepi dan menikmati pemandangan kendaraan yang melintas silih berganti.

            Aku melewati bangunan – bangunan tua yang anehnya aku seperti merasa begitu terpesona. Mereka begitu kokoh, anggun, sombong, mendominasi, dan angkuh sekaligus. Rentetan kata tersebut menjadi perpaduan gambarannya.

            Lalu aku berada di jalan yang berbeda. Aku berada di antara gedung – gedung yang sangat sibuk ketika siang hari. Aku tak menahu apakah ada yang berada di sana waktu malam hari. Tapi ada beberapa ruang yang menyala lampunya. Atau mungkin karena beberapa karyawan yang lembur. Entahlah. Aku hanya berhak untuk mengamatinya bukan untuk mengajukan pertanyaan.

            Jalanan hampir lengang. Hanya satu dua kendaraan yang berjalan. Aku tak tahu seperti apa mereka melihatku. Mungkin mereka tidak melihat. Atau memutuskan untuk tidak peduli. Kalau aku jadi mereka aku akan mengasumsikan diriku seperti orang yang tiba-tiba berdiri dari tidurnya dan tak tahu melakukan apa. Lalu mungkin aku akan berpikir bahwa orang yang berkeliaran malam – malam seperti ini adalah seseorang yang tahu malu, merusak fasilitas umum, melakukan hal – hal yang sangat tidak diharapkan oleh orang tua, atau apalah. Engh, kenapa aku berubah jadi sarkastis... oh sudahlah. Baiklah, kembali pada hal yang ada di sekitarku.

Aku telah berada di samping bangunan yang apakah ini, aku pun tak tahu. Mungkin proyek suatu perusahaan. Hanya bangunan luar yang tak selesai. Dan suah ada coretan dari tangan – tangan yang tak pernah puas dengan buku gambarnya.

            Kapan aku kembali... ku kira kini aku di jalan untuk kembali pulang. Aku melewati warung yang sangat khas di malam hari. Ada beberapa orang di dalamnya. Mungkin kalangan sopir truk atau apapun entah pekerjaan mereka. Ada satu teve di dalam warung yang sedang menyiarkan acara sepak bola. Kalau tidak salah aku melihatnya itu Arsenal sedang bertanding dengan apa itu.. aku tak melihat dengan jelas. Yang pasti ada bapak – bapak yang sedang melihatnya dengan serius, kopi di tangan kanannya, bakwan di tangan kirinya. Yang mungkin jika kau ambil bakwannya ia tak akan sadar. Di warung yang ku temui lagi agak jauh dari yang pertama sedang mengalun lembut suara radio. Nadanya mendayu. Like the city lights... She stands on the ledge.... She says, 'it looks so high... You know it's a... Long way down... Feels like a long way down... Feels like a long way down.. Like a long way down... So honey don't leave, don't leave... Please don't leave me now... lamat lamat ku dengar. Bahkan masih terngiang saat aku membuka pintu dan kembali menelusup ke balik bantal. Aku menemukan hal yang tak pernah ku lihat, ku cari, ku dengar... suatu saat mungkin aku akan kembali dan berbincang dengan bapak yang sedang menggenggam kopi di tangan kanannya dan bakwan di tangan kirinya, atau dengan penjual yang sedang menyetel radio. Besok malam... atau mungkin lain hari. Tapi tidak malam ini. Aku sudah cukup rapat menutup mata.

*th by FSKL

  • view 102