FLy

Aisyah Aiinae
Karya Aisyah Aiinae Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
FLy

Ku pikir ini bukan apa-apa, aku berada di garis start bersama mereka. Bahkan aku menghitung berapa banyak yang ada di sisi kiri ku, berapa banyak yang ada di sisi kanan ku.
Kepak demi kepak, aku kelelahan karena sayapku. Sayap ini begitu besar dan berat. Tapi ku lihat semuanya sedang asyik tertawa. Tak peduli dengan segala apapun yang membebani. Maka, perlahan aku pun tertawa. Tak lagi terasa apa yang ku bawa.
Sebelum terpikir bahwa tidak selamanya sesuatu akan bertahan lama. Kami masih tertawa, kami masih bercerita. Tapi, satu per satu telah berpamitan untuk mengambil jalan yang berbeda. Hingga tiba saatnya aku pun berbelok karena jalan di depan tidak cukup untuk dilewati kita semua. Aku masih berada dengan mereka. Sampai saatnya kita lelah untuk tertawa. Sayapku tak lagi terasa berat. Tapi rupanya angin sedang bertiup berlawanan. Aku kalang kabut. Menggapai-gapai bayangan mereka. Aku terjatuh. Aku tak sanggup meraih sayap mereka. Tidak.. sayapku tidak berdarah. Hanya aku tak mampu mengangkatnya. Aku memandang ke angkasa. Aku berteriak memanggil nama mereka. Tapi tak satupun. Tak satupun yang mendengarku. Tak satupun terbang menuju ke bawah, tempatku terbenam. Aku terpincang menyeret sayapku.
Ku pikir ada yang lewat dan meninggalkan sebuah perban, atau ku pikir begitulah. Entah siapa. Aku melilitkannya pada sayapku. Agar setidaknya tidak menyentuh tanah, yang membuatnya semakin berat. Aku tersandar pada batang pohon terdekat. Merapatkan kaki. Dan menyerah pada punggung yang memang butuh untuk istirahat. Aku menutup mata. Berpikir bagaimana dengan mereka. Apakah mereka baik – baik saja. Ataukah juga jatuh di lain tempat. Ku harap mereka akan baik baik saja.
Ku pikir aku akan terus dan terus bersama mereka. Setiap waktu aku selalu bermimpi aku masih terbang dengan mereka. Lalu menangis karena ternyata aku sendirian. Ku pikir aku masih bersama mereka. Tapi lambat laun aku tersadar bahwa mereka telah menghilang. Hingga ku pikir mungkin mereka hanya bagian dari mimpi ku tadi malam. Yang akan segera berakhir saat terbangun.
Suatu hari aku kembali bisa berdiri. Perban masih melilit di sayap kanan ku. Aku mencoba mengepakkan sayap, masih sakit sekali. Tapi aku tidak lagi mau untuk turun. Aku tetap berdiri. Aku takut jika nanti tidak lagi bisa berdiri. Aku menunggu saban hari. Dan mencoba mengepak setiap saat. Bulan berada tepat di atas. Di langit yang benar-benar indah memesona. Berwarna sangat biru, khas malam hari. Aku menutup mata... berlari... mengepak.. dan aku kembali terbang... entah kamana, aku tak tahu tujuan. Aku hanya terus melaju. Membuat sayapku menjadi terbiasa dengan melawan angin.

 

*th by FSKL